
Hari yang di tunggu telah tiba tetapi tidak ada kesibukan yang menandakan hari ini akan pesta pernikahan. Rega menatap ruang tamu yang hanya beralaskan karpet dan meja kecil di tengah, tak ada tenda yang terpasang di depan rumah, sungguh benar-benar seperti tidak ada acara sakral apa pun.
Masih teringat olehnya perdebatan antara dia dengan Setta. "Ta, tolonglah jangan seperti ini, setidaknya berikan pesta kecil untuk ponakanku, seperti pestaku dengan Dea," kata Rega pada Setta saat berkunjung di kemarin sore.
"Maaf Ga, aku tidak bisa mewujudkan keinginanmu, aku benar-benar tidak ingin ada pesta cukup kerabat yang ada serta beberapa tetangga, setelah akad langsung kubawa ke rumahku, kau tahu bukan aku punya pengalaman pahit yang berhubungan dengan pesta pernikahan jadi tolonglah mengertilah, Ga," jawab Rega dengan tegas.
Rega menghembuskan nafas, kembali melihat pemandangan di depan rumah, dia sangat sedih mengingat keponakannya masih mudah, dan menerima begitu saja keputusan calon suaminya.
Dea tersenyum menatap kegundahan suaminya, dia berjalan mendekati Rega yang termangu berdiri di depan pintu sambil menatap halaman depan.
Dea menepuk bahu sang suami, dan pria itu menoleh. "Harusnya kau peluk aku, sayang," ucap Rega sambil tersenyum.
Dea terkekeh, malu karena di luar kamar," jawabnya sambil tersipu.
"Kalau di dalam kamar, aku ingin lebih," ucapnya sambil terkekeh tetapi pria tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya di depan istrinya.
"Ada apa? seperti kamu tidak rela dengan keputusan Setta, benarkan?" tanya Dea.
"Hem," jawabnya.
"Mas Re, aku mengenal Setta, dia masih terjebak di masa lalunya, dia tak akan pernah melukai Lea andai masa lalu kembali mengusik hati dan pikirannya," kata Dea pada Rega.
"Semoga saja Bun," jawab Rega sambil menggamit pinggang istrinya mengajaknya masuk dalam rumah.
Dea melepaskan pelukan suami sambil berkata, "Aku ingin melihat ponakanmu, kemarin malam kulihat dia pun sedikit kecewa atas keputusan Setta, dan aku ingin menghiburnya, apakah boleh?" tanyanya pada Rega suaminya.
"Tentu, pergilah!" jawabnya sambil mengecup pipi istrinya, wanita itu kembali tersipu lalu tersenyum dan berjalan cepat menuju kamar Lea, dia tidak sang suami menangkap perubahan wajahnya tetapi terlambat pria itu terkekeh sambil menepuk pelan pantatnya.
__ADS_1
Setelah sampai di depan pintu kamar, ia pun mengetuk kamar Lea, dan tak lama kemudian pintu terbuka, seorang MUA berdiri didepannya sambil tersenyum.
"Belum selesai, Bunda, sedikit lagi," katanya.
"Ah iya, aku hanya ingin menemaninya," jawab Dea sambil tersenyum.
"Silahkan," ucap sang MUA sambil meneruskan pekerjaannya.
Dea menatap wajah Lea dan di sana ada wajah Sinta, 'Gadis ini benar-benar mewarisi kecantikan ibunya, pantas saja Setta tidak pernah mau melihat gadis ini dulu,' batinnya.
Dea beralih pada busana pengantin milik Lea, wanita itu terkejut, gaun itu sama dengan milik Sinta dan riasan yang sama pula seperti Setta ingin mengulang kisah yang sama dengan situasi berbeda.
Sementara Setta sudah sampai dan memakirkan mobilnya di halaman rumah panti itu, terlihat beberapa orang sudah berada dan duduk di ruang tamu. Setta menghela nafas lalu memejamkan matanya kilasan-kilasan peristiwa kembali terbayang dalam ingatan.
"Bagaimana ini? Kita tidak akan bisa bayar hutang yang begitu besar itu, Setta! Kenapa kau tidak tahu? Kalau dua pesta pernikahan mewah ini semua yang menanggung kamu dan kau justru tidak jadi menikah!" teriak sang ayah dengan nafas tersengal-sengal sambil memegang dadanya yang terasa nyeri sang ibu hanya bisa menangis dan tersedu di ruangan ballroom hotel mewah yang disewanya untuk pernikahanny dengan Sinta dua jam yang lalu.
Jendela mobil diketuk beberapa kali, membuatnya tersadar dari lamunannya dia menoleh keluar dan membukanya, Risky yang berdiri di depan pintu mobilnya seolah ingin berbicara sesuatu padanya.
"Om, semua sudah menunggu, kenapa masih duduk di dalam mobil?" tanya Risky
Setta hanya tersenyum lalu menggangguk, kemudian dia membuka pintu dan turun dari mobilnya lalu menepuk bahu pemuda itu serta melangkah meninggalkan Risky yang termangu menatap kepergiannya.
Pemuda itu pun segera berlari menyusul setta. "Tunggu, Om! Saya ingin bicara dengan Om sebentar," pintanya
Setta berhenti menunggu pemuda itu. "Apa yang ingin kau katakan padaku? Katakanlah!" perintahnya.
"Apa Om, mencintainya? Apa Om berjanji untuk membahagiakannya?" tanya Risky
__ADS_1
Setta tersenyum. "Berapa umurmu?" tanya Setta tanpa memperdulikan pertanyaan Risky.
"Sembilan belas tahun, Om," jawabnya bingung karena Setta tidak menjawab pertanyaannya justru bertanya kembali padanya.
"Kau masih muda carilah wanita yang benar-benar tulus mencintaimu, lupakan dia! Apapun yang kamu lakukan tak akan ada artinya jika dia tidak mencintaimu, aku tidak perlu menjawabnya kan boy? Aku yang membawamu kemari aku yang membuat mu bisa seperti ini, jadi jangan pernah bertanya apa pun tentang aku dan dia!" perintah Setta sambil tersenyum lalu kembali melangkah meninggalkan Risky yang tak bergeming dari tempatnya.
Setta memasuki ruangan yang sudah ada beberapa orang di sana dan sahabatnya Zein.
"Cepat lah kemari akad Nikahmu akan segera dilakukan!" perintah Zein.
Setta mengangguk, lalu duduk di depan Rega, pak penghulu pun sudah datang saksi sudah ada, dan waktunya buat Setta untuk mengucapkan akad.
Prosesi akad segera di laksanakan, Rega yang duduk di depan Setta mulai menjabat tangan Setta.
"Aku nikahkan engkau Setta Pramana bin Pramana dengan Relea Melati binti Arga Riswandi Almarhum dengan mas kawin sebua Vila senilai tujuh miliar rupiah di bayar tunai lalu Rega menghentakkan tangannya.
"Saya trima nikahnya dan kawinnya Relea Melati binti Arga Riswandi Almarhum mas kawinnya yang tersebut di bayar tunai." Dilafalkan dengan satu tarikan nafas.
Lalu terdengar kata SAH di ucapkan oleh saksi dan orang yang hadir di akad nikah itu.
Rega memeluk Setta membisikan kata-kata permohonan. "Tolong lupakan masa lalu, Ta, jangan lihat Lea sebagai Sinta tapi lihatlah Lea sebagai dirinya sendiri!" pinta Rega.
Namun, tidak ada jawaban yang mampu menentramkan hati Rega. Setta hanya menepuk punggung pria itu sambil tersenyum.
Setelah akad selesai di lafalkan, Dea datang bersama Lea dengan balutan gaun pengantin yang dan riasan yang sangat cantik.
Setta seperti melihat Sinta di diri Lea ada rasa berkecamuk dalam dadanya, rasa benci dan cinta membaur di dalam hatinya, entah nanti cinta atau kebencian lah yang menang Setta tidak pernah tahu.
__ADS_1