Pesona Cinta Semu

Pesona Cinta Semu
Bab 58


__ADS_3

Zein berjalan menuju ruang tengah dimana di atas meja terdapat beberapa bungkus kresek hitam dan di bawahnya ada dua dos berisi peralatan memasak dan pecah belah serta ada alat penanak nasi. Zein membantu Setta untuk membereskan semuanya.


"Kau tidak punya beras, Ta?" tanya Zein.


"Ada, masih di luar," katanya dengan acu.


Zein berjalan keluar ada tiga karung besar dan setengah karung beras di teras rumah. ketika melihat itu Zein masuk dengan menyeret setengah karung beras di bawahnya masuk kedalam, dan ditaruh di sebelah di lantai di sebelah lemari pendingin


"Kenapa tidak ditaruh di dalam?" tanya Zein.


"Ingin ku berikan pada warga sekitar tetap bagaimana caranya aku tidak mengenal mereka," jawab Setta.


"Kenapa harus mengenal? Tidak perlu kita kemas saja di kantong plastik dan taruh di depan rumah mereka, lebih baik mereka tidak tahu siapa yang memberi," kata Zein.


"Benar juga, apa yang kamu katakan, tetapi saat ini aku benar -benar lapar kau belum membuat mie instan?" tanya Setta sambil menyipitkan mata.


Zein terkekeh. "Belum tadi aku mau memasak nasi tetapi sepertinya perutmu tidak sabar menunggu."


"Cepat lah bikin, jangan hanya bicara dari tadi!" protes Setta.


"Sebentar aku mau beli telur di warung sebelah, ku lihat tadi di sebelah rumah ini," jawab Setta.


"Pergilah dan cepat kembali!" perintah Setta sambil membereskan barang-barang yang masih berserakan.


Beberapa menit kemudian Zein kembali dengan sekantong plastik telor yang di taruh di meja dapur.

__ADS_1


"Kenapa begitu lama?" tanya Setta.


"Tetangga sebelah tanya apakah beras itu di jual dan banyak lagi, membuatku bosan menunggu," jawab Setta.


"Kau jawab apa?" tanya Setta dengan serius.


"Aku jawab, Tidak dan dia memaksa untuk menjualnya dengan harga murah padanya," jawabnya lagi


"Kau trima tawarannya?" tanya Setta


"Jelas tidak," kata Zein sambil mengambil sayur dan memotongnya setelah meletakkan panci kecil berisi air di atas kompor menyala.


"Bagus lah karena aku tidak ingin menjualnya," jawab pria itu sambil membaringkan tubuhnya di atas karpet dia pun bergumam, "Aku merindukannya sekaligus membencinya."


Zein pura-pura tidak mendengarnya, Setta butuh melepaskan emosinya setelah sekian lama bergabung. Pria itu masih ingat setelah pemakaman orang tua Setta dia menemani sahabatnya itu pergi ke rumah Sinta dan jawab tuan Indra sungguh mengejutkannya, pria tua itu tidak menghargai usaha sahabatnya itu, bahkan menghina dan mengusir.


Dia meletakan mie yang di masaknya di atas piring, lalu menaruh telur mata sapi diatasnya kemudian membawanya kemeja dan menaruhnya di sana.


"Ta, bangun lah makan dulu ini sudah jadi!" perintah Zein sambil meletakkan sepiring mie goreng mata sapi tepat di depan dia berbaring.


Setta bangun dan duduk menghadap meja. "Bertahun-tahun aku makan dengan duduk di kursi dan sekarang aku duduk diatas karpet tidak ada kursi di sini," kekehnya sambil menyuapkan mie ke dalam mulutnya.


"Ada, jika kau membelinya atau membawa dari rumah lamamu," jawab Zein sambil memutar bola matanya keatas.


"Aku tidak bisa duduk di sana, aku selalu ingat almarhum ayah dan ibu, bahkan aku tidak bisa bernafas di sana Zein, aku benar-benar merasa bersalah seolah-olah aku membunuh mereka dengan kejadian itu, ayah tidak percaya aku bisa mengatasi ini semua," jawabnya sambil menghembuskan nafas

__ADS_1


"Sudahlah makan dulu, Ayah dan Ibumu saat ini pasti bangga pada putranya walaupun harus kehilangan rumah, untuk mempertahankan usahanya, memang kita harus bertindak cepat jika tidak bunganya akan menggunung," jawabnya.


"Ya, dia menipu ku habis-habisan Zein, hanya engkau dan Dea yang bisa ku percaya saat ini," kata Setta.


"Lupakan, Ta! Ayo kita bangkit! Anggap kau tidak mengenalnya, sudah ayo makan dan jangan pikirkan lagi!" jawab Zein sambil menyuapkan makanannya.


Di malam hari Setta dan Zein membagikan beras pada orang yang tidak beruntung mereka mengenakan masker agar tidak di kenali jika di tanya siapa namanya mereka tidak mau jawab. Setelah selesai dia pulang ke rumah dia masuk sambil menggerutu, "Kau ini punya rumah nyaman kenapa tinggal di tempat ku? Mana bisa aku membiarkan mu tidur di lantai? Ayo tidur dengan ku! jangan kawatir aku tidak akan mencumbu mu!" canda Setta


Zein tertawa. "Aku tahu sekali pun kau patah hati tak akan segila itu, andai pun iya, tetap pilih lah wanita, jangan pria dan jangan buat aku resah memikirkan mu!" larang Zein sambil tertawa.


Setelah masuk kamar setta langsung membaringkan tubuhnya di ranjang king size-nya begitu juga Zein tak lama kemudian, hanya dengkuran mereka terdengar.


.


.


.


Tiga hari berikutnya, rumah Setta pun terjual dengan harga 3,5 M, walaupun jauh dari harga yang di minta tapi Setta bersyukur rumah itu bisa di jual dengan cepat, setelah transaksi jual beli selesai dia pun pulang ke rumah dengan sepeda buntutnya.


Sesampainya di rumah dia mengaktifkan panggilan teleponnya dan begitu banyak panggilan dari Zein. Pria itu pun segera menelpon balik sahabatnya itu.


"Hello, Zein ada apa?" tanya Setta,


"Semua Klien kita membatalkan pesanannya, mereka rela uang muka mereka hilang, kalau caranya begini kita tidak bisa produksi kembali" kata Zein panik.

__ADS_1


"Aku akan ke sana," jawab Setta sambil berbalik arah ke arah pintu keluar dan mengunci pintunya. Dia kembali menaiki motornya menuju perusahaan yang hanya lima menit untuk sampai di sana.


__ADS_2