
Wajah Lea merona mendengar ucapan Setta.
"Kalau wanita itu memberikan obat pada Daddy tetap saja Daddy butuh itu," kata Lea pada Setta.
"Aku tidak sendiri, Lea, ada Zein," kata Setta sambil menatap istrinya itu.
"Kenapa tidak Om Zein saja? kita kan baru nikah, Dad, dan Daddy tidak membawaku bulan madu?" tanyanya pada Setta.
Pria itu tertawa. "Kita tidak bulan madu saja kau mau pingsan apalagi kita bulan madu, kau kira jika kita bulan madu di suatu tempat akan mengajakmu jalan-jalan ke sana-sini, tidak Lea kita hanya pinda untuk bercinta."
"Itu memang maunya Daddy seperti itu," jawab Lea bersunggut-sungut.
"Ya, memang itu mauku, buat apa bayar mahal-mahal kalau ujung-ujungnya kamu te l4n j4ng," sarkasnya.
"Daddy pelit saja," kata Lea
"Iya, karena orang tuamu punya hutang pada Daddy jadi harus kau yang bayar pada Daddy, apa kau mengerti?"
"Hemm, iya, Berapa hutang mereka Dad?" tanya Lea sedikit berani.
Setta menatap tajam pada Lea. Lea hanya mampu menunduk tak sanggup melawan tatapan matanya.
"Aku tak butuh uang Lea, aku ingin kau membayarnya dengan hidup mu dan tubuh mu, kau sekarang milikku karena memang orang tuamu memberikan mu padaku sejak kau berumur sepuluh tahun," jelas Setta dengan tatapan marah.
"Iya, Lea mengerti harusnya memang Lea tak menuntut Daddy buat Lea bahagia, justru Lea lah yang harus buat Daddy bahagia karena orang tua Lea punya hutang kebahagiaan Daddy, mereka merampas senyum Daddy bukan, walaupun Lea tidak pernah tahu apa yang terjadi pada Daddy waktu itu, tapi satu hal yang ingin Lea pinta setelah Lea membayar lunas hutang mereka maka, bersikaplah lembut pada ku Dad," katanya sambil membereskannya mangkok dan gelas serta cangkir kotor keluar ruangan.
__ADS_1
Setta menghembuskan napas. 'Maaf Lea aku tidak bisa membuat bahagia saat, aku hanya ingin kakekmu tahu betapa keputusan saat itu adalah salah,' bisik Setta dalam hati.
Setta kembali fokus dengan angka-angka yang ada di laptopnya.
.
.
.
Ketika Malam menjelang, Lea mulai menata baju Setta yang akan ke dalam koper, Dari pakai rumahan, hingga yang dipakai meeting sang Daddy.
Setta menghampiri Lea, menutup kopernya dan mengangkat tubuh Lea tanpa berkata apa-apa.
Dengan cepat tubuh Lea berpindah ke ranjang. Dia lepas satu -persatu kancing piyamanya.
Semakin lama semakin menuntut, pria itu dengan sangat terampil membuka dan melepaskan pakaian Lea dengan cepat.
Setta kembali mencumbu setiap inci tubuh Lea dan kembali mencetak tanda-tanda kepemilikannya.
Wanita itu kembali menggeliat, akibat sentuhan dari suaminya itu, semua tubuh tak luput dari jamahannya, setta melepaskan seluruh pakaiannya ketikan sang istri sudah lemas kembali akibat perbuatannya.
"Setta membimbing tangan Lea untuk menyentuh senjatanya memberikan pemanasan setelah di rasa cukup Setta kembali memasuki lubang terindah milik Lea hentakan -hentakan keras di liang membuat semakin melayang tak sesakit yang kemarin atau tadi pagi Lea sudah bisa menikmati Rasa yang di timbulkan dari kegiatan itu.
Wanita itu menjerit, setiap jeritan menyebut namannya. Lea melenguh ,mendesau dan mengerang dan keadaan menuju puncaknya berulang kali, membuat pria itu semakin bersemangat.
__ADS_1
Pria itu terus bergerak di atas tubuh Lea hingga terdengar erangannya kembali dan cairan hangat kembali mengguyur rahim Lea kembali, lalu lelaki itu jatuh diatas tubuh sang istri, setelah menguasai tubuhnya Setta menggulirkan tubuhnya ke kesamping dan memeluk sang istri, lelaki itu memejamkan matanya, hari ini dia benar-benar sangat puas. Entahlah Setta tidak tahu semakin ke sini semakin tidak tega melihat gadis itu, tetapi ketika dia melihat wajah yang sama membuatnya kehilangan rasa cinta yang ada hanya benci dan itu membuatnya kembali marah dan menyiksa gadis itu.
Setta memejamkan matanya, membuang ingatan-ingatan yang membuat hatinya sakit luar biasa.
Dia pun tertidur dengan pulas sambil memeluk wanitanya. Sementara itu, Lea tidak bisa memejamkan kembali matanya. Apa dia menyesal, Tidak, dia tidak pernah menyesal justru tertantang membuat suaminya tidak bisa lepas darinya.
Hembusan nafas hangat keluar dari bibir suaminya menyapu dadanya, di tatapnya wajah yang damai itu.
Malam semakin larut, Lea belum juga tertidur, wanita itu melepaskan tangan suaminya dan turun dari ranjang kemudian dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah satu jam lebih dia pu keluar dan berganti pakaian, dia pun kembali membuka koper sang suami menata beberapa baju untuk suami setelah itu dia berjalan menuju dapur, membuat coklat hangat, untuk menenangkan hatinya.
Lea merebus air di panci kecil dan mengambil cangkir lalu menuangkan coklat dan gula lalu menyeduh dengan air yang baru saja mendidih, setelah itu mengaduknya dan membawanya ke meja makan.
Sambil menatap kosong ruang dia melamun teringat masa kecil dia, sang mama begitu bahagia dengan papanya seperti orang yang tidak punya masalah dalam hidup mereka.
Namun, yang dia herankan kenapa Daddy dan Bunda tidak pernah datang ke rumah dan baru dia kenal saat dia sudah tidak punya siapa-siapa, dan sang Daddy yang kini menjadi suaminya itu yang dulu tidak pernah mau dia kenal sama sekali dan masih jelas terdengar oleh sang bunda menegur daddy-nya saat itu dia sedang sakit.
"Setta, temu sebentar saja, Lea sangat merindukanmu," kata Dea.
"Dia tidak boleh merindukan ku Dea, ada banyak luka di hatiku yang nanti akan membuatnya sangat terluka biar dia tidak mengenalku sama sekali," kata Setta.
"Bagaimana dengan pesan mendiang Sinta dan Arga?" tanya Dea pada Setta.
"Itu tergantung hatinya saja, jika nanti dia telah dewasa dan perasaannya ada untuk ku akan ku ujutkan keinginannya sebab mereka hanya tidak ingin Lea terlantar dan membayar kehidupan Lea dengan dengan hidup gadis itu sendiri," jawab Setta sambil berlalu dari hadapan Dea.
Lea menarik napas dalam di hembuskan dengan pelan. 'Ya, Kau benar, Dad, hatimu begitu banyak luka, kau tidak pernah memaksaku untuk hadir di hidupmu justru akulah yang datang di hidupmu, membuat lukamu terbuka kembali, andai dengan merubah wajah ini bisa membuat mu lepas dari masa lalu itu aku akan lakukan, tetapi kau juga tidak mampu melepas wajah ini jika aku tidak mirip mamaku maka kamu tidak akan membawaku dalam kehidupan mu, karena wajah ini adalah cinta mu juga benci mu,' batinnya pilu.
__ADS_1
Lea meminum coklat panas terasa hangat masuk ditubuh, membuat sedikit relax dengan pertanyaan-pertanyaannya yang tak mampu dia temukan jawabannya.