
Zein mulai masuk ke ruangannya dia dan Setta bekerja di sini saat masih duduk di bangku kelas XI SMU, Ayah Setta berfikir mengenalkan dunia bisnis pada mereka sejak usia belia, mereka berdua di bagaian pemasaran di mana Setta yang pandai di bidang IT itu membuat terobosan-terobosan untuk pemasaran lepas dari beberapa tokoh yang sudah menjadi langganan untuk memesan di perusahaan ini. Sehingga tidak mengharuskan datang di kantor setiap hari bisa kerjakan di sela-sela istirahat.
Zein mulai mengerjakan pekerjaan yang di percayakan sejak dia selesai ujian akhir kelulusan oleh ayah Setta, Beliau bilang dari pada kami keluyuran tidak tentu arah di masa liburan sambil menunggu kelulusan kami bekerja dan itu masuk dalam pembelajaran kemandirian dan kewirausahaan.
Zein melanjutkan pekerjaan hingga jam empat sore dia pulang, setelah kejadian itu dia pun tidak ingin tahu kabar Arga dan Sinta, dua hari yang lalu, Sinta menelponnya tetapi dia tak menghiraukannya apapun alasannya dia tetaplah salah menurut pandangan Zein.
.
.
.
Ke esokan harinya Zein menemani sahabatnya itu mencari rumah yang sederhana untuk Setta, dia harus segera pindah apabila
sudah ada pembelinya.
Setela berputar-putar cukup lama akhirnya mereka menemukannya rumah yang cukup unik sebuah rumah minimalis seharga tiga ratus juta sebagai pilihannya.
Didalam ada ruang tamu, ruang tengah yang menyambung dengan dapur, dua kamar tidur yang masing ada kamar mandi.
Setta lansung tertarik langsung menelpon pengacaranya untuk urusan surat-menyurat.
__ADS_1
Setelah selesai, Irwan pun pamit untuk mengurus balik nama antara penjual dan pembeli, semua dokumen sudah saling di tanda tangani kedua belah pihak.
Mobil Irwan pun sudah pergi meninggalkan Setta dan Zein. "Bagaimana pindah sekarang juga?"
Pihak penjual sudah menghubungiku, pihak pembeli akan melihat besok, aku hanya membawa meja beserta komputer ku, ranjang, dan sepeda motor ayahku," kata Setta.
"Serius kamu pakai sepeda motor itu? Masih bisa di pakai?" tanya Zein.
"Masih dan mesin masih bagus, itu sepeda jaman ayah berjuang, setidaknya aku harus menyelematkan perusahaan ayah walaupun tak sebesar punya om Indra sialan itu, aku punya firasat kita akan mengalami masalah yang bertubi-tubi dan kita harus siap Zein," jawab Setta.
"Baik terserah kamu sajalah, Ta," kata Zein. Mereka berjalan menuju mobil Zein lalu masuk ke dalamnya. Dan kendaraan roda empat itu pun berjalan dengan kecepatan sedang menuju rumah Setta, pria itu sudah menelpon jasa angkut untuk barang yang akan di bawahnya lainnya akan di jual bersama rumah dan tanah.
Setibanya di sana sudah terparkir pik up di depan rumahnya. Setta dan Zein keluar dari mobilnya, berjalan menuju rumahnya. Setta memutar kunci dan membuka pintu rumahnya lalu masuk kedalam dan meminta juru angkut mengangkut Barang yang akan dibawanya.
Setelah semua sudah berada di pick up dan Setta mengambil koper yang sudah di persiapkan kemarin membawanya dan di masukan kedalam bagasi lalu Setta masuk ke dalam mobil setelah mengunci pintu rumahnya.
Mobil berjalan lagi menuju rumah barunya yang di ikuti oleh pickup yang berjalan di belakangnya.
Tiga puluh menit mereka sampai di rumah itu yang istimewanya adalah rumah itu sangat dekat tempat usaha.
Setibanya di sana juru angkut memasukan semua barang Setta dan menata sesuai dengan keinginan. Setelah selesai mereka pun pergi.
__ADS_1
Datang lagi sebuah pickup membawa karpet dan kulkas satu pintu serta televisi 17 in dan meja bundar pendek yang di taruh di atas karpet di tengah ruangan.
Petugas pengirim barang membawa masuk kedalam dan membantu menatanya, sesuai keinginan pemilik rumah kemudian mereka meninggalkan rumah itu tinggal Setta dan Zein.
"Kita tidak punya bahan makanan dan kau tidak membawa peralat masak serta barang pecah belah," protes Zein
Setta tertawa, "Aku membawanya itu ada dua dos di bagasi dan satu kresek bahan makanan aku mengosongkan lemari pendingin rumah lama ku."
"Syukurlah kita tak akan kelaparan di sini," jawab Zein.
"Kamu ingin tinggal di sini?" tanya Setta.
"Ya untuk malam ini aku ingin tinggal di sini," katanya sambil melepas sepatunya dan masuk kedalam rumah dia langsung merebahkan dirinya di atas karpet di ruangan tamu.
"Yaman sekali, Ta, apa kita pesan makanan, atau kau memasaknya, kau tuan rumah harus menyambut tamu dengan baik dan aku tamu mu saat ini," katanya.
"Kau bukan tamu Zein itu ada mie instan bikin sendiri sana aku masih sibuk berbenah," kata Setta sambil menata bahan makanan di lemari pendinginnya.
"Iya deh boleh aku sering-sering nginap di sini, Ta," tanyanya pada Setta sahabatnya itu.
"Boleh asal kamu gak minta tidur bareng aku," jawab Setta.
__ADS_1
"Ck, pelit, Ya sudah aku tidur di ruang tamu saja," jawab Zein
"Terserah kamu," kata Setta.