Pesona Cinta Semu

Pesona Cinta Semu
Bab 18


__ADS_3

"Yang aneh-aneh itu ya dia masak sudah tua begitu, milih yang cantik pula. Tuan, itu apa gak dihapus saja?" tanya Herman.


"Sudah aku hapus, tadi kamu ngapain saja jangan bilang kalau kamu juga ambil kesempatan Her," kata Setta pada Herman.


"Enggak lah, Tuan saya pria baik-baik jadi saya pasti akan mengambil keputusan yang tepat," jawab Herman


"Apa kamu kira saya gak tahu apa yang kamu lakukan di sini tadi sebelum saya datang," kata Setta.


"Ampun, Tuan saya akan ulangi lagi," kekehnya sambil berjalan keluar ruangan.


"Keputusan begitu saja dan gak usah di kasih perawat perempuan, jadi tambah ribet nanti kalau gak mau makan ya sudah itu kan tubuh-tubuh sendiri jangan terus di turuti jadinya malah gak bagus nanti," kata Setta.


"Baik, Tuan!" kata Dokter Fernan.


"Yul, Herman kemana?" tanya Setta.


"Mungkin di kamarnya, Tuan," jawab Yul


"Tuh orang main ngilang saja belum selesai kasih perintah juga," kata Setta sambil melangkah menuju kamar Herman.


Ketukan pintu terdengar tiga kali, dan setelah itu pintu terbuka. "Loh, ada apa? Kok tuan repot-repot kemari?" tanya Herman


"Saya mau balik, sekarang jangan lupa pesan saya cari perawat pria, kerabat juga boleh asal jujur dan kamu harus sering-sering lihat cctv lalu apapun yang terjadi di sini laporkan jangan seperti kemarin!" kata Setta panjang lebar, setelah itu ia pun berjalan meninggalkan Herman.


"Untung deh gak ketauan aku lagi lihat itu,' batinnya.


.


.


Sementara itu di kantor, Zein bertanya pada Lea, "Kenapa dia?"


"Saya tidak tahu dari saya datang sudah begitu, Bapak kan yang lebih tahu dari saya karena Bapak kan bekerja lebih lama dari saya," kata Lea sembari mengerjakan file yang di berikan oleh Zein


Zein terkekeh. "Marah sama kamu mungkin."


"Kalau Daddy sih iya, tapi kau Pak Setta gak tahu," kata Lea dengan raut sedih


"Kan orangnya sama, Lea," kata Zein.


"Iya, sih," kekehnya


"Ya, sudah kerjakan itu kalau sudah selesai bawa keruangan saya biar saya periksa, kalau sudah benar, kamu kamu taruh di map untuk di mintakan tanda tangan setelah itu, kamu fotocopy dan arsipnya kamu simpan di sana yaa," kata Zein .


"Baik pak!" jawab Lea.


Setelah Zein keluar, Lea menatap meja kosong yang ada di depan lalu menghela napas.


"Kenapa pakai marah segala sih, jadi gak semangat kerja, terus kemana ya, Daddy?"

__ADS_1


"Sudah bisa belum?" Suara bariton mengagetkannya dan pelukan dari belakang dan serta tangan kokoh itu kembali membelai tubuhnya, kerinduan pada pria itu seolah terobati.


perlakuan lelaki itu padanya seperti ombak di tepi pantai, pasang dan surut. Saat pasang menghantam keras dinding hatinya dan menguyur seluruh rasa gelisa, sedih dan rindu, semuanya basah dan tak tersisa. Namun, ketika surut meninggalkan rasa dingin, menggigil dan sepi.


"Kenapa diam, Hemm ...?" tanyanya sambil memeluknya.


"Saya terkejut, Pak, saya kira Anda marah," katanya sambil memejamkan matanya.


Lea membuka matanya dan tak terjadi sesuatu, dan tidak ada Pak Setta, ternyata dia belum kembali dan kemejanya tetap rapi tak ada sentuhan nakal itu.


'Ah, apa yang terjadi padaku? Apa aku sudah gila,' pikirnya.


Lea membuang pikiran yang sia-sia itu, dia terus mengerjakan tugas yang di berikan pada Pak Zein.


Waktu terus berjalan, Lea larut dengan pekerjaannya, hingga jam istirahat telah selesai, Zein yang melihat itu merasa iba, dipesankan makanan lewat aplikasi online.


"Lea, makan dulu, sini sama Bapak, bekerja boleh tapi kamu juga harus mengisi perutmu!" perintah yang tiba-tiba masuk ruangan itu dan duduk di sofa.


Tubuhnya terjengkit lalu melihat ke arah sofa.


"Ahh, Bapak saya kira siapa?" tanya Lea pada Zein.


"Ayo, kemarilah, makan sama Saya, memangnya kamu kira aku siapa?" kekeh Zein.


Lea tertawa."Bukan siapa-siapa Pak," kata gadis itu.


Lea membuka kotak makanan dan mulai menyuapkan makanan dalam mulutnya, perutnya kosong tetapi selera makannya hilang.


Setta


[ Ta, lo kenapa sih? Aneh banget bikin dia gak nafsu makan tuh. Marahan?]


"Gak enak menunya?" tanya Zein.


"Enak, sih cuma lagi gak nafsu makan, pak," jawab Lea.


"Karena apa? Marahan sama pacar?" tanya Zain


Lea tertawa. "Gak tahu juga, apa namanya? Pacar juga bukan," jawabnya pada Zein.


"Tapi kamu cinta kan?" tanya Zein


"Banget, kalau dia marah rasanya gak enak gitu mau apa-apa jadi malas. Ehh, kok Lea jadi curhat sama Bapak yaa," kata Lea tertawa.


"Ya gak apa Lea, anggap saja saya itu teman kamu, kalau kamu curhat sama Daddy kamu juga gak berani kan," jelas Zein sambil tersenyum dan tanpa sepengetahuan Lea semua itu di rekam oleh Zein dan di kirimkan pada Setta.


"Kalau curhat sama Daddy malah ...." Lea tertawa.


Zein jadi penasaran karena Lea tidak jadi meneruskan ceritanya.

__ADS_1


.


.


Setelah mengendarai mobil selama satu jam Setta berhentikan di depan restoran, pria itu memilih duduk di meja paling ujung jauh dari lalu lalang orang keluar masuk. Tak seberapa lama pelayan pun datang dan dia memesan makanan.


Sambil menunggu makanan datang dia mengecek handphone-nya, ada pesan masuk dari Zein lalu video.


'Ahh, anak itu memang lugu gak bisa diajak backstreet, awas yaa kalau keceplosan, bisa ditertawai oleh Zein aku,' pikirnya.


Makanan telah datang dan Setta mulai makan dengan tenang sambil menikmati alunan musik di restoran itu.


.


.


Setelah selesai makan Lea kembali menyelesaikan pekerjaan dan mulai mencetaknya lalu dimasukkan kedalam map kemudian membawanya ke ruangan Pak Zein.


Dia berjalan keluar lalu mengetuk pintu ruangan wakil CEO itu.


"Masuk!" terdengar suara dari dalam, Lea pun membuka pintu dan masuk lalu menyerahkan file kepada Zein, kemudian pria itu memeriksanya dengan teliti setelah itu di berikan kembali kepada Lea. "Ini sudah benar kamu taruh saja di meja Pak Setta atau kamu simpan dulu, baru besok kamu serahkan Pak Setta," kata Zein memberikan pengarahan pada Lea.


Saat Lea akan keluar ruangan, Setta menelpon Zein.


"Lea jangan pergi dulu, duduk di situ ini si bos telpon, barangkali dia butuh kamu nanti," kata Zein pada Lea.


"Baik, Pak, akan saya tunggu di sini," jawab Lea.


Zein menerima panggilan dari Setta. "Ya, Hello ada apa bos."


"Apa file-file yang untuk besok sudah selesai?" tanya Setta.


"Sudah bos baru selesai di kerjakan Lea dan sudah ku koreksi juga dan hasil bagus gak ada kesalahan di sana," kata Zein pada Setta.


"Suruh dia bawa ke apartemen ku, aku lagi malas kekantor," kata Setta.


"Apa aku saja yang di apartemen mu?" tanya Zein.


"Yang aku suruh Lea Zein," kata Setta.


"Kalau yang kau suruh Lea, kenapa kau telpon aku?"


"Karena dia di ruanganmu dan dia lagi gak bawa handphone," jelas Setta pada Zein.


Belum sempat Zein menjawab kembali sambungan sudah terputus. "Kampret! main tutup saja," umpatnya kesal.


"Lea kamu di suruh datang ke apartemen bos, sudah tahu tempatnya apa belum?"


"Belum,Pak!"

__ADS_1


"Ok! Aku sudah kirim alamatnya yaa, berangkat sekarang saja ini sudah jam empat, sudah waktunya pulang kerja," perintah Zein


"Baik, Pak, saya permisi," jawab Lea sambil berdiri dan membungkuk hormat lalu keluar dari ruangan Zein kembali ke ruangannya mengambil tasnya, dan membawa beberapa file, ia pun keluar dari kantornya berjalan menuju lift dan masuk kedalamnya, pintu tertutup serta bergerak ke lantai dasar.


__ADS_2