Pesona Cinta Semu

Pesona Cinta Semu
Bab 36


__ADS_3

Pagi ini ada hari pernikahan Bunda Dea dengan tuan Rega diluar sudah terpasang tenda pengantin dan kursi telah tertata rapi tidak ada pelaminan di sana sebab Dea tidak menginginkannya, di dalam rumah di gelar karpet dengan meja kecil di ujung ruangan.


Dea berada di kamarnya dengan riasan sederhana dengan hijab bunga melati yang menutupi hijab kain warna putih, duduk di bibir ranjang dengan hati cemas, kilas-kilasan masa lalunya terbayang dalam ingatannya kegagalan pernikahannya, pada waktu itu mempelai pria yang di tunggu tidak kunjung datang justru Dea melihat video pernikahan calon suaminya Arga dengan sahabatnya sendiri sinta yang juga calon mempelai wanita dari Setta.


Dea memejamkan matanya, ingin membuang jauh-jauh kenangan itu. Hingga terdengar suara gaduh di luar kamarnya.


"Mana, Bundaku aku ingin lihat!" teriak bocah lelaki yang baru saja datang dan langsung masuk kedalam mencari wanita yang sebentar lagi menjadi ibunya.


"Ehh, tidak boleh, lihatnya nanti kalau Om Rega sudah ucapkan hijab kabul," larang Lea menggoda Sean yang sedang rindu berat dengan bundanya itu.


"Yang tidak boleh itu Daddy, Mbak Lea bukan aku. Nanti aku yang bawa Bunda ke Daddy," jawab bocah laki-laki kecil itu.


Dea akhinya membuka pintu kamarnya dan berdiri di depan pintu. "Sini sama Bunda, apa Daddy sudah datang?" tanya Dea.


"Sudah Bun," jawab bocah itu sambil berlari memeluk Dea, Sean menggandeng tangan Dea yang dingin mengajaknya duduk kembali di pinggir ranjang.


"Tangan Bunda dingin sekali, Bunda Sakit?" tanyanya pada Dea.


"Aku nikahkan engkau Rega Riwandi bin Riswandi dengan Dea Arandita Wijaya binti Wijaya Almarhum dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas senilai lima ratus juta rupiah di bayar tunai lalu penghulu menghentakkan tangannya. Karena Dea sudah tidak punya wali nikah maka yang menjadi wali nikahnya adalah Penghulu.


"Saya trima nikahnya dan kawinnya Dea Arandita Wijaya binti Wijaya Almarhum mas kawinnya yang tersebut di bayar tunai." Dilafalkan dengan satu tarikan nafas.


Lalu terdengar kata SAH di ucapkan oleh saksi dan orang yang hadir di akad nikah itu.


Setelah terdengar kata Sah, Sean menggandeng Dea yang sudah menjadi ibu sambungnya itu.


Bocah tampan itu dengan gagahnya membawa sang bunda di hadapan sang ayah.

__ADS_1


Dea duduk depan Rega mengambil punggung tangan pria itu kemudian menciumnya, lalu Rega mencium kening sang istri, lalu menyematkan cincin di jemari tangan Dea.


Setelah itu mereka menandatangani surat nikah lalu di lanjutkan dengan makan-makan sederhana di rumah panti, setelah itu mereka menyelesaikan prosesi pernikahan merekapun pergi ke sebuah hotel yang sudah di persiapkan oleh Setta.


Setta menghampiri Sean, "Boy disini saja kamu sama Mas Rizky, karena hari ini Daddy-mu tidak bisa diganggu."


"Ya aku tahu, aku tidak akan ikut, Om jangan kawatir, aku juga sudah biasa tidur sendiri, sudah tidak ditemani Daddy lagi.


"Wah kamu pinter sekali, Ris, jaga dia ya, Om mau pulang," katanya.


Baik, Om, Om setta tidak usah kawatir, Risky pasti bisa jaga adik-adik Om," katanya sambil menatap pria yang berjasa padanya dan juga saingan cinta untuknya.


Setta mengangguk dan berjalan keluar dari ruangan itu menuju mobilnya lalu masuk kedalam alangkah terkejutnya dia, saat melihat Lea ada di dalam mobil.


"Ngapain kamu di sini, ayo keluar, adik-adik tidak yang menjaganya jadi jangan macam-macam!" perintah Setta.


"Memang untuk apa kamu ikut Daddy? Untuk ku lucuti pakaianmu dan membawanya ke selimutku," kata Setta frontal.


"Ahh, Daddy kok pikirannya gitu sih, kata Daddy satu Minggu lagi kita menikah, apa tidak ingin membicarakan ini berdua?" katanya pada sang Daddy.


"Itu tidak perlu biar Daddy sendirian yang mengaturnya!" jawab. Setta.


"Dadd! Lea itu mau sama Daddy, terus," katanya.


"Kamu tahu tidak saat Daddy bersama mu rasanya ingin membuang semua pakaian yang ada di tubuhnya dan konsekuensinya apa yang terjadi pada mu dan Daddy?" tanya Setta pada Lea.


"Dadd!" panggil dengan tatapan mengiba.

__ADS_1


"Jangan macam-macam kamu! Keluar!" teriaknya membuat Lea terjengkit. Lea dengan kesal keluar dari mobil Setta dan membanting pintunya dia berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya berjalan menuju rumah panti dan masuk dengan hati gusar.


Risky melihat semua itu. waktu berpapasan dengan Lea dia pun berkomentar, "Apakah semurah itu harga dirimu Lea, sehingga harus di usir dulu, baru pergi."


"Kalau iya memangnya apa urusanmu?" katanya menoleh sebentar dan berjalan lagi menuju kamarnya dengan hati yang semakin sakit hati. Lea tidak perna Tahu kenapa Risky berubah menjadi dingin padanya dan selalu berkata pedas. Gadis itu tidak ingin berfikir terlalu jauh pada sahabatnya itu, yang dia ingin lakukan adalah menangis setelah puas ingin segera tidur.


Sementara di luar setta menghembuskan nafas, dia harus tegas pada dirinya sendiri, bukan gadis itu karena sebenarnya Lea tidak akan seperti itu jika dia tidak memulai terlebih dahulu, dia adalah pria matang dan Lea adalah gadis yang baru saja mekar, hatinya sudah di isi oleh sosok yang di sebut Daddy yaitu dirinya. Lama dia duduk diam di bangku kemudi lalu tak seberapa lama kemudian melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu dengan hati gundah.


.


.


.


Sementara itu Rega menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju hotel yang di peruntukan untuk mereka setelah berpamitan dengan putranya tadi.


Rega menatap istrinya dengan tatapan Rindu satu tangannya menggenggam jemari tangan sang istrinya kemudian menciuminya. "Trimakasih telah bersedia menjadi istriku, aku tak mengira bahwa kau tetap bersedia menikah denganku walaupun kamu sudah tahu bahwa aku adalah adik Mas Arga dan kau tidak membenciku."


"Kenapa harus membencimu kau tidak melakukan apapun padaku," jawab Dea.


"Kenapa Setta memilih hotel yang begitu jauh, tidakkah di tahu aku sudah sangat merindukanmu, ingin segera mendekap mu dalam pelukanku," katanya sambil terkekeh.


Dea tersipu. "Mas Re kenapa sekarang kamu mesum sekali padahal kemarin kamu begitu menjaga jarak denganku," katanya sambil mencebikan bibirnya.


"Jangan begitu, sayang aku semakin tidak kuat untuk segera membawamu ke tempat tidurku dan wajar jika sekarang aku mesum padamu karena kita sudah menikah, kemarin belum bisa seperti ini sebab takut di kira kurang ajar padamu," kata Rega sambil tertawa.


"Bun kemarilah sandarkan kepalamu di dadaku agar aku tidak gelisah menunggu waktu sampai di tempat yang indah," katanya lagi pada Dea.

__ADS_1


Wanita itu pun menyandarkan kepalanya di dada pria yang sekarang menjadi suaminya itu.


__ADS_2