
Tiga puluh menit kemudian, Lea sampai di tempat kerja dia berlari dan masuk dalam lift yang membawanya ke lantai atas, setelah sampai dia pun berjalan menuju kantor CEO,
Sampai di sana dia mengetuk pintu ruangan CEO, terdengar suara menyuruhnya masuk. Lea memutar kenop pintu dan membukanya, lalu dia masuk ke dalam belum sempat berbicara dia bicara suara bas kembali terdengar tanpa menoleh. "Tutup pintunya!" perintah Setta
"Ambil ini dan pelajari, sebelum itu buatkan saya kopi!" baik pak,
"File itu taruh di mejamu, meja kerjamu ada di depan," katanya kemudian
"Baik, Dad!" Setta mendongak dan menatap tajam.
"Maaf, Baik, Pak!" jawabnya mengulang jawabannya.
Lea berjalan di mejanya menaruh file lalu berjalan menuju pintu keluar menuju pantry, ia membuat satu cangkir kopi dan dibawanya keruangan CEO,
Setelah sampai dia pun meletakan secangkir kopi di atas meja. "Ini, Pak, hati-hati masih panas," kata Lea dia kembali ke meja kerjanya mengambil fail dan mempelajari dengan seksama, terdengar lagi suara bariton mengeluh. "kenapa manis sekali?"
"Maaf perasaan tadi sudah sesuai takaran, Pak, biar saya buatkan lagi," kata ingin beranjak dari tempat duduknya, tetapi sang atasan mencegah kembali. "Tidak usah, kembali bekerja, jika kau bolak-balik ke pantry hanya bikin kopi, kapan kau bisa memahami pekerjaanmu," kata Setta,
"Iya, Pak ,maaf," jawab Lea kembali mempelajari file itu lalu ia membuka laptop yang ada di hadapannya.
Terdengar kembali suaranya memanggil melalui interkom. "Zein, bisa datang kesini, tolong kamu ajari dia bagaimana bikin file yang benar mengenai perjanjian kontrak kerja dan lainnya."
"Loh, katanya kamu sendiri yang ngajari, kok sekarang aku sih, Ta." terdengar jawaban dari Zein melalui interkom.
"Sudah jangan banyak protes cepat ke sini kalau gak mau bonus kamu hilang," kata Setta
Tak ada keluhan lagi, dan tak seberapa lama kemudian Zein datang keruangan Setta tanpa mengetuk pintu.
__ADS_1
"Kau ini suka memaksa saja," kata Zein.
"Itu memang tugasku, jadi pasrah saja," katanya sambil terkekeh
"Zein!"
"Ya ada apa," jawab Zein sedikit ketus.
"Aku mau pergi keluar dulu berikan saja semua contoh file yang benar," katanya sambil beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar ruangan.
"Kau mau kemana?" tanya Zain. Namun tidak ada jawaban dari mulut pria yang menjadi atasannya juga sahabatnya itu, suaranya seperti menguap begitu saja tertelan angin.
Setta sudah berada di mobil, entah mengapa hari ini dia begitu jengkel pada gadis itu padahal semalam dia pun tidak sungguh -sungguh menyuruh gadis itu melepas seluruh pakaiannya hanya ingin tahu apa gadis itu akan melakukan segala hal yang di perintahkan olehnya karena cinta.
Setta menjalankan mobilnya menuju ke pemakaman, entah mengapa dia ingin ke sana.
Mobil berhenti di pemakaman umum dia keluar dari mobil berjalan ke arah pemakaman keluarganya terlihat dari jauh Dea yang bersimpuh di hadapan makam putrinya.
Kilas peristiwa kembali hadir di dalam otaknya. Saat itu dia hendak mengantar Dea periksa kehamilan di rumah sakit dengan sepeda motor buntutnya menuju ke rumah kontrakan Dea, dari kejauhan Setta melihat Arga menghampiri Dea yang membawa belanjaan berjalan kerumahnya. Dia pacuh motornya dengan sekuat tenaga, hanya itu harta satu-satunya miliknya. 'Sebentar lagi dekat,' pikirnya.
Begitu keras suara Arga menghardik wanita malang, mantan kekasihnya itu dengan mencengkram tangannya.
"Apa tujuanmu berkeliaran di jalan dengan perut buncit mu itu? Sudah ku katakan agar jangan berkeliaran di hadapanku!"
"Siapa yang berkeliaran apa kau tidak lihat aku lagi sedang belanja, lalu kenapa kau kemari jika kau tak ingin melihatku, Anak ini adalah anakmu, sekalipun kamu sudah tidak mau mengakuinya aku tidak peduli," jawab Dea pada Arga.
"Kau berani menjawab ku, Sinta melihatmu dan dia terkejut, kau tau di sedang hamil muda dan karena dirimu Sinta keguguran," katanya mengibaskan tangan Dea begitu kuatnya hingga wanita terhuyung ke belakang lalu jatuh terduduk dan belanjaannya jatuh tercecer serta darah keluar dari sela-sela kedua kakinya.
__ADS_1
setta berlari dan langsung memukul Arga berkali-kali hingga pria itu jatuh tersungkur di tanah.
"Apa kau masih tidak puas, membuat wanita ini menderita, kau bunuh ibunya dan sekarang kau juga tegah membunuh darah dagingmu, jika bukan karena rayuan mulut busuk mu itu, dia tak akan memberikan kesuciannya padamu, pergi kau! Sebelum ku buat kau tidak bisa memberikan keturunan lagi karena akan ku rusak senjata laknat mu itu dengan sepatu ku ini," teriak Setta sembari berjalan dengan cepat mendekati Dea yang merintih kesakitan.
Lelaki itu membopong tubuh Dea sambil berteriak, "Adakah dari kalian yang mempunyai mobil, tolong sahabatku ini, aku tidak mau kehilangannya."
Seseorang pedagang sayur yang dari tadi melihat kejadian itu berkata," Mas, kita antar dengan motor mas dan gerobak sayur saya. Taruh mbaknya di situ Saya akan di belakang mas dan pegang gerobaknya.
Beberapa ibu-ibu membantu mengeluarkan dagangan pria itu lalu menata beberapa bantal sebagai alas, tubuh Dea sudah semakin lemas, Setta segera meletakkannya di dalam gerobak, kemudian dengan cekatan pedagang sayur itu naik sambil kedua tangannya memegang gagang gerobak itu, dengan cepat Setta memacu motor bututnya ke rumah sakit terdekat, Setelah sampai di sana petugas kesehatan menyongsong mereka dengan bankar dorong. Setta meletakan tubuh Dea diatas bankar dan petugas kesehatan itu segera membawanya ke UGD.
"Setta, menghampiri pedagang sayur itu. "Bagaimana dengan Anda, Mas? saya tidak bisa meninggalkan sahabat saya sendirian di sana sebelum ada penanganan."
"Tidak apa-apa, urus dulu sahabat Anda, saya akan tunggu di sini, sampai urusan Anda selesai," kata pedagang sayur itu.
"Trimakasih banyak, suatu saat nanti saya akan membalas kebaikan Anda, mas," kata Setta berlari masuk kedalam rumah sakit menyusul Dea.
Setta berlari menuju ruang UGD, seorang dokter keluar dari ruangan menemui Setta dan bertanya,"Apakah Anda suaminya? Karena janin yang ada di dalam rahim istri anda sudah dalam keadaan lemah maka harus segera dioperasi sekarang juga, kalau tidak maka akan terjadi suatu hal yang tidak diinginkan dari sang pasien."
Setta meraup wajahnya dengan kasar, dia tidak tau apa yang harus di lakukan.
"Lakukan yang terbaik dok!" kata Setta
"Kau begitu Anda harus tanda tangan di sini setelah itu segera Anda urus administrasinya segera," kata dokter itu.
Tangan Setta gemetar menandatangani surat operasi, setelah selesai dia serahkan pada dokter. "Dok, tolong selamatkan keduanya, saya akan segera mencarikan biayanya tolong tangani dulu, Dok," kata Setta pada dokter itu.
Lalu pemuda itu berjalan ke administrasi pembayaran. Seorang petugas dengan sopan berkata," Anda harus membayar uang muka terlebih dahulu agar pasien segera di tangani."
__ADS_1