Pesona Cinta Semu

Pesona Cinta Semu
Bab 9


__ADS_3

Setta menatap Relea dengan mata tak berkedip lalu membuang tatapannya kearah yang lain.


"Duduk lah waktu sarapan hampir habis, bagaimana kita bisa kesiangan begini yaa?" kekehnya sambil melirik Relea yang sedang mengambilkan makanan untuknya.


"Daddy segini cukup apa enggak?" tanya Relea dengan manjanya.


"Cukup Lea! trimakasih," kata Setta.


"Apa ini sudah lama di bangun? Cantik sekali," kata Lea sambil mengisi nasi dalam piringnya sendiri dan lauk pauk lalu menyuapkan dalam mulutnya.


Setta menghentikan makanannya lalu menatap lekat gadis yang berada di hadapannya. "Cantikan kamu," katanya sambil melanjutkan makannya, rona merah membias di wajah Lea.


"Daddy belum jawab apa yang di tanyakan Lea tadi," protes Lea.


"Ada sudah lima tahun, dan Villa ini menghadap pantai kamu belum lihat kan karena kita datangnya malam hari, tidak jauh dari sini ada air terjun kalau kau mau kita akan kesana, air sangat jernih, Lea.


"Iya kah, aku sangat suka alam Dadd, pantai, sungai, air terjun, dan taman bunga aku sangat menyukainya, Daddy tahu kenapa? Karena mereka sangat indah," kata Lea sambil menyuapkan makanannya.


Lima belas menit waktu berlalu, mereka telah menyelesaikan sarapan yang sudah terlambat.


Setta berdiri dari duduknya dan berjalan kearah Lea. "Ayo Daddy tunjukkan sesuatu yang indah di sini," kata Setta menarik tangan gadis itu dan Lea pun berdiri mengikuti Daddy-nya.


"Daddy apa bunda tidak marah kalau aku tidak pulang?" tanya Lea sambil menatap pria itu.


"Tidak akan bersama Daddy tapi apa yang terjadi semalam jangan pernah ceritakan Bunda ya, itu rahasia kita berdua, kau mengerti Lea?"


"Hmmm, iya," jawabnya sambil tersenyum yang di paksakan.


Setta tahu bahwa Lea kecewa karena ucapannya.

__ADS_1


"Lea apa kau marah karena kejadian tadi malam, maaf Daddy khilaf, jika Daddy ingin kamu merahasiakan hal ini padanya, karena Daddy tidak ingin dia berprasangka buruk padamu dan pada kita," katanya lalu lelaki itu menarik tangan Lea hingga menabrak tubuh tegapnya di peluknya tubuh gadis itu sambil berbisik, "Tunggu Daddy untuk memahami isi hati Daddy, kau mau menunggu kan, jika sudah saatnya, Daddy sendiri yang mengatakan pada Bunda mu,"


Kemudian diuraikannya pelukannya di angkat dagu gadis itu dan di ciumnya bibir yang indah merona, semakin lama semakin dalam dan melepaskan saat sama-sama kehabisan nafas lalu mereka tertawa.


Setta mengajak berjalan kebelakang Vila saat melewati pintu belakang Lea di buat takjub akan keindahan taman penuh dengan aneka bunga lili dan di kiri kanan terdapat bunga mawar yang berjejer rapi. Lea berlari lalu berjalan diantara bunga lili yang indah. "Dad, ini sangat indah aku sangat menyukainya," teriknya


Setta menyusulnya digamitnya pinggang ramping itu. "Ada yang ingin ku tunjukkan padamu," katanya sambil tersenyum. Mereka berjalan diantara bunga lili yang berwarna-warni lalu menuruni bukit dengan di kelilingi pohon besar hingga udara terasa sejuk di tariknya sinar matahari.


Mata Relea terbelalak lebar sebuah pemandangan yang memanjakan air terjun di sungai yang berbatu. "Dad, bagaimana bisa tahu tempat seindah dan membangun Vila di sini.


"Dulu waktu masih SMU kami suka berpetualang dan menemukan tempat ini lalu memasang tenda di sana, kami dulu berjanji akan sering ke sini. Namun semuanya berubah membuat kami saling berjauhan," kata Setta yang teringat masa SMU yang membuatnya bahagia sekali gus terpuruk.


"Maaf Dadd, membuatmu sedih, Lea akan berusaha buat hati Daddy senang, gak bersedih lagi. Bukan Daddy ajak Lea ke sini untuk bersenang-senang bukan bersedih," kata Lea sambil berjalan diantara bebatuan, tiba-tiba saja kakinya terpeleset dan jatuh ke sungai, arus sedikit deras membuat Lea kelabakan, Setta yang melihat itu segera terjun ke sungai menangkap gadis itu. Di peluknya tubuh yang basah kuyup itu, di tuntunnya berenang dia area yang tenang.


"Dadd, Lea takut tadi, takut akan menyusul papi dan Mami," katanya pada Setta.


'Kau tidak boleh mati kau harus merasakan rasa sakit hatiku karena orang tuamu dan juga kakekmu,' ucap Setta dalam hati


"Dadd!" panggilnya.


Setta setta menarik gesper gaun Lea sedikit ke bawah dan menarik sedikit pakaiannya hingga terlihat bahu putih mulus Lea, mencumbunya kembali lalu membalikkan tubuh gadis itu di ciumnya kembali bibir indah itu, lalu turun ke bawah terus ke bawah.


"Dadd!" panggil Lea lagi untuk mengingatkan sang Daddy tapi tenggorokannya tercekat.


"Daddy tak akan buat tanda Lea, jangan cemas," kata Setta.


Setelah puas mempermainkan hati dan tubuh gadis itu, Setta kembali membetulkan pakaian Lea memasangkan kembali pengait penutup dadanya.


"Ayo kita kembali, lihatlah karena kau tak hati-hati kita basah kuyup," kata Setta

__ADS_1


"Maaf Dadd," ucapnya menunduk.


"Tidak apa-apa Lea, Daddy tidak marah hanya mengkhawatirkan mu, dan jangan pernah untuk berfikir akan menyusul orang tuamu, aku tidak akan suka itu," katanya


"Maaf Dad," kata Lea.


Hari semakin siang mereka berjalan menuju Vila setelah sampai mereka pun masuk kedalam kamar mereka masing-masing.


Setta bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri setelah itu ia berganti pakaian rumahan lalu berjalan ke arah kamar Relea, ada sedikit rasa cemas ia pun masuk kedalam kamar gadis itu dan berjalan ke kamar mandi, di bukanya kamar mandi itu dan ia melihat gadis itu menenggelamkan dirinya di dalam bathtub.


Setta bergegas menghampiri gadis itu.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Setta dengan suara yang tinggi membuat gadis itu membuka matanya.


"Dadd!" panggilnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanyanya kembali.


"Maaf jangan marah, Dadd, Lea gak mau Daddy marah, Lea gak bisa hidup tanpa Daddy," kata Lea


"Daddy sudah bilang, Daddy tidak marah," jawab Setta lembut di gendong tubuh polos gadis itu dibawanya ke shower dan dibilas dengan air bersih tanpa canggung ia membasuh seluruh tubuh Lea, membuat rona wajah Lea membias kembali lalu diambilnya bath robe dan memakaikannya.


Sudah sana ganti baju dulu sudah daddy belikan baju untukmu setelah itu buatkan Daddy kopi antar keruangan kerja Daddy," kata Setta berjalan keluar dari kamar Lea.


Setelah Setta keluar, Lea meluapkan rasa malunya bagaimana tidak tangan lelaki itu menjamah seluruh tubuhnya.


"Ahh malunya aku," teriaknya lirih.


Segera dia berganti pakaian, setelah selesai segera pergi ke dapur membuat secangkir kopi dan coklat lalu meletakan secangkir kopi di atas nampan dan membawanya keruangan kerja sang Daddy.

__ADS_1


__ADS_2