
Setta melajukan mobilnya tak tentu arah, rasa dendam dan cinta membuatnya risau ingin menggenggam sekaligus merampas semua senyum itu.
Setta terus melajukan mobilnya tanpa arah dan tujuan hingga mobil itu berhenti di pemakaman elite. Setta keluar dan berjalan masuk di area makam, terus berjalan hingga sampai di pusara ke dua orang tua Lea.
Setta memandang nisan bertuliskan Sinta Putri dan Arga Riswandi.
"Apakah kalian senang membuatku dalam dilema?" tanya Setta
"Sin, andai dulu kau katakan kau tidak mencintaiku sebelum aku mengurus prosesi pernikahan kita aku tak akan terluka seperti ini begitupun Dea. Ahh, kenapa sakit hatiku tidak bisa hilang, semakin aku datang di sini semakin membuat dadaku sesak. Aku mencintai putrimu sekaligus membencinya. Dia mirip dengan mu tapi begitu lemah mungkin dia di didik oleh Dea. maka karakter Dea lah yang tumbuh pada putri kalian," keluh Setta.
Setelah berdiri di sini di pemakaman orang yang paling dekat dan juga orang yang paling dia benci dan selalu dia hindari tetap saja tidak bisa menjauh dan justru semakin dekat. Seta menghembuskan nafas kasarnya.
Setta menatap pusara itu sekali lagi lalu dia pun berbalik arah berjalan menuju mobilnya, dia masuk ke dalam lalu menjalankan dengan kecepatan sedang. Dia berjalan memutari jalanan ibukota berhenti di taman sejenak, lalu kembali berjalan lagi.
...----------------...
Zein yang baru keluar kantor mendapatkan telpon dari Dea.
Dia menerima terdengar salam dan ia pun menjawab. "ada apa?" tanya Zein.
"Tolong jemput Kayla ya Zein karena kita gak bisa mengantar menunggu Sean baikan dulu baru pulang dan itu belum tahu, takut kemalaman," jawab Dea
"Memang kenapa Sean?" Zein.
"Jangan tanya, kamu ke sini dulu, nanti aku ceritakan," jawab Dea.
"Ok! baik," jawabnya.
Zein segera naik kedalam mobilnya dan melajukan dengan secepat kilat karena takut yang putri membuat masalah. Setelah sampai ia pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam klinik spesialis jantung itu, berjalan terus mencari ruangan kamar Sean, akhirnya dia dapat menemukannya dan segera masuk dan dia terkejut Sean terbaring lemas dengan selang oksigen yang menempel di hidung.
"Kenapa Boy?" tanya Zein menatap Sean kemudian menoleh pada Key. Gadis itu membuang mukanya, takut ketahuan sang ayah telah mengerjain tamunya sedemikian rupa.
Dea menarik Zein dan menceritakan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Jangan marahi dia Zein, tadi dia sudah ketakutan sekali," jelas Dea.
"Ok! Maaf ya," ucapnya.
"Iya, gak apa-apa," ucap Dea pada Zein.
Zein menghampiri Rega. "Bro, maafin anak gue ya." Dia memeluk Rega.
"Enggak apa-apa masih anak-anak juga dia gak tahu kalau Sean punya jantung bawaan, Dea juga gak tahu, karena gue gak cerita tentang Sean tadi aja gemetar tu liat Sean begitu," jelas Rega.
"Hai girl sudah minta maaf tu sama si Abang?" tanya Zein.
"Sudah, Key sudah minta maaf sama Abang Sean," jawab gadis itu.
"Kalau begitu Ayo kita pulang pamit dulu sama Abang lain kali gak boleh gitu sama siapa saja takutnya punya sakit seperti Abang mu Sean," kata Zein.
"Abang, Key pulang dulu ya, cepat sembuh kalau sudah aku ajakin main boneka," katanya sambil terkekeh, dan Zein memukul keningnya.
"Gak mau, Key kamu main sendiri," kata Sean cemberut.
"Om, maafin Key yaa," ucap gadis kecil sambil mencium punggung tangan Rega.
"Iya, cantik, gak apa-apa Abangnya sudah membaik," kata Rega. Gadis itu menghampiri bunda Dea. "Key pulang dulu ya Bun," katanya sambil mencium punggung tangan Dea.
"Ga, Dea, gue pulang dulu ya," pamit Zein pada mereka.
Zein dan putrinya keluar dari ruangan perawatan Sean. berjalan keluar klinik dan masuk mobilnya kemudian berjalan meninggalkan tempat itu.
mobil berjalan dengan kecepatan sedang menuju rumahnya, Key gadis itu tampak diam membisu, sepertinya gadis itu juga shock namun menyembunyikan dari tamunya itu.
Tak lama kemudian mereka sampai rumah sekuriti segera membukakan pintu gerbang kemudian mobil berjalan masuk ke garasi dan berhenti di sana.
Mereka keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah, Zein tidak ingin menegur sang anak karena hari ini adalah pelajaran berharga buatnya, dan merupakan shock terapi bagi anaknya dan semoga tidak menjadi trauma yang berkelanjutan.
__ADS_1
...----------------...
Di tempat lain Setta masih duduk di dalam mobil yang berhenti di depan taman bermain anak-anak.
Menatap kosong tempat itu lalu mengemudikan mobilnya di sebuah club malam. Begitu sampai dia memarkirkan mobilnya dan berjalan masuk dan di sambut oleh Alex pemilik club malam.
"Hai bro lama gak ke sini lagi suntuk? Ada barang baru kalau lo cuma mau making out," kata Alex sambil terkekeh,
"Enggak gue cuma mau minum doang dan lo siapin ruang private, no girl, friend!" pinta Setta.
"Ok, sesuai permintaan, Ayo lo ikut gue," kata Alex memasuki ruangan.
Tak lama kemudian seorang waitress datang membawa minuman yang biasa di pesan oleh Setta kemudian keluar.
"Gue tinggal, kalau lo butuh apa-apa panggil gue," pesan Alex meninggalkan Setta di ruang privat sendirian. Alex kemudian menekan sebuah nomor dan melakukan panggilan.
.
.
Sementara itu Lea duduk dengan gelisah di kamarnya, sang Daddy tak memberikan kabar apapun, Sudah beberapa kali dia melihat handponenya berharap ada telpon dari Daddy-nya. Namun, hingga jam delapan tak kunjung ada panggilan juga pesan.
Lea sudah tidak kuat menahan rindu, dia bangkit berjalan menuju lemari pakaiannya. Lea mengambil kemeja warna putih dan celana panjang berbahan kain lalu melepaskan kain penutup dadanya kemudian memakai kemeja itu.
Lea menyambar jaketnya dan memakainya lalu mengambil kunci motornya di atas nakas kemudian berjalan keluar kamar melewati beberapa ruangan hingga sampai di ruang tamu berpapasan dengan Risky.
"Kamu mau kemana? Ini sudah malam, cewek itu tidak pantas keluar rumah di malam hari," kata Risky dengan kasar.
"Ini masih sore apa peduli mu? aku mau keluar, minggir!" teriaknya dengan marah.
Risky pun menggeser tubuhnya kesamping membiarkan gadis itu lewat, Lea pun berjalan keluar rumah.
Risky menatap punggung gadis yang sejak dulu di sukainya itu berlalu dan menghilang dari pandangan matanya. Tak lama kemudian terdengar deru suara mesin motor yang dinyalakan lalu suara itu semakin lama semakin menjauh dan hilang dari pendengaran Risky.
__ADS_1
'Segitunya kamu mencintai Om Setta hingga kau melupakan harga dirimu Lea dan malam-malam begini kau datang ke tempat pria itu, aku juga bisa mencintaimu lebih dari Om Setta,' batin Risky