
Setta mulai sibuk dengan handphone-nya dan tak lama kemudian notifikasi terdengar dari Handphone Retno. Wanita itu terbelalak lebar dengan jumlah yang tertera dari notifikasi M-banking.
"Saya tidak, Tuan?" tanya Herman sambil terkekeh.
"Kamu mau berhenti juga?" tanya Setta sambil tersenyum.
"Oh tidak, tuan saya masih betah kerja di sini," jawabnya terkekeh.
"Her, tolong kirim nomer Retno ke nomerku!" perintah Setta.
"Buat apa Tuan?" tanya Herman pada Setta.
"Buat carikan kerjaan Retno, kasihan dia, sudah keluar dari rumah sakit, kerja di sini malah kena tekanan. Kamu gak usah kawatir, Her. Aku engak akan jadi pesaing mu, jadi kamu tenang saja," kata Setta sambil tertawa.
"Iya, Tuan, sudah saya kirim, maaf banyak tanya," katanya sambil tertawa.
"Jangan tertawa saja, antarkan Retno pulang ke rumahnya dan carikan saya perawat pria saja Her, yang paruh waktu juga gak apa-apa asal yang baik, temanmu juga gak apa-apa, saudara mu juga boleh, tidak harus perawat, tugasnya hanya mandiin lelaki tua sontoloyo itu," perintah setta.
"Baik Bos laksanakan," kata Herman sambil berjalan menuju koper Retno dan menyeretnya keluar dari ruangan bosnya.
"Ayo Ret saya antar kamu pulang ke rumahmu," ajak Herman.
"Tuan, terimakasih banyak, maaf saya mengecewakan Anda saat bekerja di sini," pamit Retno pada Setta.
"Sudah gak apa-apa, kamu gak sepenuhnya salah," kata Setta.
"Iya, pak trimakasih," kata Retno sambil berjalan dengan langkah gontai tetapi Retno tidak kecewa karena setta memberikan pesangon yang tinggi, membuat dia bisa berwira usaha sendiri.
Retno naik kedalam mobil, dan duduk di samping Herman lalu Herman menjalankannya dengan kecepatan sedang.
"Ret, kamu kok lama, di ruang tuan Setta, ngapain saja?" tanya Herman
"Ya pamit toh, mas," jawab Retno
"Oh, aku kira apa?" jawab Herman ambigu.
"Sampean kok mikirnya ke sana terus toh, Mas?" jawab Retno mulai gelisah.
__ADS_1
"La, gimana gak mikir kesana, aku enggak nyangka loh, Ret. Kamu bakalan begitu sama pak Indra, dia itu loh, Ret, gak ada apa-apanya sama aku, gantengnya ya, masih ganteng aku, mudanya ya, masih muda aku. Aku juga mau loh, Ret kalau kamu mau, apa kita ke hotel dulu? Yang mewah juga gak apa-apa, aku punya uang, gimana? Mau, kalau gak mau bisa aku paksa, video-video kamu tadi sudah tak salin di handphone-ku, tinggal ku sebar di Mensos," kekeh Herman
"Ya terserah mas Herman mau sebar di Mensos ya gak apa-apa, aku sudah capek buat dosa, kalau Mas Herman mau sama aku dan gak jijik sama aku karena sudah tahu aku sama pak Indra, jangan ajak aku ke hotel! Akan tetapi ajak aku ke KUA," kata Retno.
Herman yang sedang mengemudikan mobil terkejut dan menginjak rem dengan tiba-tiba seketika tubuh Retno terhuyung ke depan dan mobil pun berhenti.
"Kamu ngak bercanda Ret, bagaimana kalau kamu hamil, masalahnya kamu sama Pak Indra sudah satu bulan loh, Ret," kata Hendra sambil menjalankan mobilnya.
"Saya juga gak bodoh mas Herman, saya pakaikan pengaman," katanya sambil buang muka menatap ke jendela.
Herman terkekeh. " Iya kamu gak bodoh, tapi kamu itu bodoh banget, kenapa gak ngomong sama aku? Kejadiannya ngak akan begini. Aku itu suka kamu dari awal kamu masuk sini Ret. Aku nunggu keluhanmu loh Ret, tetapi sepertinya kamu nyaman saja tak ada keluhan apa-apa," kata Herman
"Saya terpaksa, Mas Herman anak saya punya penyakit jantung bawaan dari kecil, biaya pengobatannya pun besar, kalau saya di pecat dari sana bagaimana? Padahal kan saya sudah resign dari rumah sakit." jawab Retno.
Herman menghela nafas. "Pastikan dulu kamu hamil apa enggak? kalau kamu gak hamil kita langsung nikah, kita tunggu, satu bulan Ya Ret," kata Herman pada Retno.
"Kalau kamu nikah sama aku, kamu pasti harus menanggung biaya pengobatan putriku, apa kamu mau?" tanya Retno pada Herman
"Aku akan bantu, biaya pengobatannya, tidak harus aku semua yang menanggung seluruhnya bukan? Karena aku juga punya Putra yang harus ku nafkahi jika kau bersedia, maka beri tanda padaku, entah bagaimana, maka bulan depan aku akan meminang mu, kau putuskan sekarang, atau kuberi waktu tiga hari Ret," kata Herman.
"Hemm, Baiklah, aku trima ...." Belum selesai menjawab Retno di kejutkan oleh mobil yang kembali berhenti Tiba-tiba.
"Bisa Ret, cuma kamu yang selalu bikin kaget aku jadi ya beginilah," katanya sambil terkekeh.
"Ya sudah, ayo aku antar pulang sampai rumah kasih aku yang seger-seger yaa," pintanya sambil mengerlingkan matanya.
"Apa?" tanyanya
"Sini aku bisikin "katanya pada Retno
"Bagaimana? Mau, yaa, satu saja biar buat nahan rindu nunggu sampai satu bulan, gimana dek?" tanya Herman
"Iya," jawabnya sambil mengangguk.
"Sama Video call ya, dek nanti aku arahkan gayanya gimana?" tanya Herman kembali
"Lihat nanti saja," kata Retno
__ADS_1
"Ya, kok lihat nanti sih dek, aku ini lagi cemburu loh dek, sama si tua bangka itu," kata sambil memberengut.
Retno tertawa. "Iya, tapi malam ya mas nunggu Yuni tidur," katanya sambil menutup mulutnya karena malu.
"Iya, ngak apa-apa," kata Herman penuh dengan keceriaan.
Herman kembali mengemudi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tidak lama kemudian mereka sampai di rumah Retno.
"Ret, boleh cium?" tanya Herman.
Retno dengan malu-malu mengangguk. Lalu bertaut lah dua benda kenyal untuk beberapa saat dan terlepas saat mereka kehabisan napas.
"Trimakasih Ret, manis sekali," kata Herman sambil tersenyum.
Retno lalu turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke rumahnya dan Herman pun menjalankan mobilnya menuju Vila. Sesampainya di sana, telponnya berdering dan sang tuan mudanya lah yang menelponnya.
"Iya, Tuan, saya sudah didepan," jawab Herman.
"Kamu ngapain saja? Jangan ambil kesempatan kayak kakek jelek itu! Cepat keruangan saya, ada Dokter Fernan, saya juga butuh masukan kamu," jelas setta langsung menutup telponnya.
"Ah, kebiasaan ni, Tuan, main tutup saja," kata Herman.
Dia keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk ke dalam vila. Herman bergegas menuju keruangan Setta.
"Iya, Tuan, ada apa, kok Yul ada di sini juga?" tanyanya heran.
"Kita lagi bahas pak tua itu, kata Dokter, obatnya punya efek itu, lah kalau punya efek begitu terus bagaimana? Apa dia nikahkan saja, apa kau mau Yul?" tanya Setta.
"Gak mau tuan, kalau yang Tuan muda tawarin itu adalah kang Herman, saya mau," kata Yul tersipu.
"Lah wong yang dibahas itu pak Indra loh, Yul, bukan saya. Lagian saya sudah punya, jadi kamu cari yang lain saja lebih afdol," kata Herman sambil tersenyum.
Setta menghembuskan nafas, "Kamu ganti seperti semula saja obatnya, Dok," kata Setta.
"Tapi sembuhnya akan lama sekali, Tuan," kata Dokter Fernan.
"Ya, gak apa-apa, dari pada menyusahkan orang," kata Setta.
__ADS_1
"Anunya di potong lagi saja,Tuan," kata Herman.
"Hus, aneh-aneh saja kamu itu, Her," kata Setta.