
Setta menatap gadis yang berusia 18 tahun itu dia tak mengira bahwa begitu mudah masuk dalam hati gadis ini putri Sinta Arta wanita yang telah memporak-porandakan hidupnya dengan tanpa belas kasihan di tambah ketika mereka sekarat dalam sebuah kecelakaan justru mereka menitipkan buah hati mereka pada pria malang itu.
Luka yang di tabur sang kekasih tak akan pernah sembuh kebenciannya semakin mendalam saat gadis kecil yang dia jaga telah tumbuh dewasa dan sangatlah mirip sang ibu, rasa cinta dan tumbuh bersamaan, keinginan untuk memiliki gadis ini semakin kuat, dan tak ada yang boleh memilikinya selain dirinya.
Saat ini ranjau sudah dipasang di setiap sudut hati gadis ini memikatnya dengan lebih dalam agar memiliki rasa yang kuat padanya.
"Lea hari ini Daddy ingin bersamamu, sepanjang malam kita habiskan waktu berdua, bukankah hari ini yang kau tunggu, apa kau mau? Daddy sudah meminta izin bundamu, itu sebabnya aku memintamu untuk naik taksi saja karena setelah ini kita akan pergi di suatu tempat dan kau pasti sangat suka," kata Setta sambil menggenggam jemari gadis itu
"Kalau bunda mengizinkannya, tentu Lea mau," kata gadis itu sambil tersenyum rona merah kembali membias diwajahnya.
Setta berdiri dari duduknya berjalan menuju meja yang terdapat piringan hitam, di putarnya musik romantis lalu berjalan kearah tempat duduk Relea sambil membungkuk dia pun menawarkan diri pada Relea. "Maukah kau berdansa dengan Daddy?"
Hatinya menghangat di perlakukan seperti ratu. "Tapi aku tidak bisa berdansa Dadd," jawabnya tersenyum malu.
"Akan ku ajarkan caranya berdansa," katanya masih dalam membungkuk dan Lea menerima uluran tangannya lalu Setta membawanya ke ruang kosong dituntunnya kedua tangan Lea memeluk lehernya tangan Setta memeluk pinggang ramping itu dan di dirapatkan di dada bidangnya, terasa jantung Relea semakin cepat berdetak tidak karu-karuan tidak bagaimana raut mukanya di hadapan Daddy-nya, dengan sangat sabar sang Daddy memberikan arahan padanya berkali di menginjak kaki sang Daddy tapi beliaunya hanya tersenyum saja.
Musik pun berhenti dan Setta mengajak Lea meninggalkan restoran, mereka keluar dari ruangan privat, dan masuk kedalam mobil, Setta menancapkan gasnya dan berjalan meninggalkan restoran.
"Dadd, kita mau kemana?" tanya Lea dengan manja.
"Kita akan ke Vila, kalau ngantuk tidur saja, sini sandarkan kepalamu di sini," kata Setta menunjuk dadanya.
"Lea tersenyum di sandarkan kepalanya di dada pria itu, dan tak lama kemudian dia terlelap dalam tidurnya.
'Setta melirik gadis itu, 'Dia begitu cantik Sinta, mirip sekali dengan mu andai saat itu kau katakan kau tak mencintaiku aku tidak akan sesakit ini dan bisa menerima pilihanmu dan aku tak perlu menyaksikan kepergian orang tuaku karena masalah yang kau ciptakan,' batinnya
__ADS_1
Di mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju tempat yang jauh dari perkotaan, Setta terus mengemudi mobilnya hingga di suatu tempat dekat sebuah pantai di sini dia membangun sebuah Villa kecil nan Indah.
"Sett, aku ingin sekali nanti kita punya Vila di sebuah pantai tidak usah besar-besar kecil saja asal indah," kata Sinta bergelayut manja di lengan Setta, remaja lelaki yang mempunyai banyak prestasi itu bahkan bahkan dia mampu membuat jaringan keamanan lewat kemampuan IT, salah satu karyanya telah di beli oleh perusahaan besar.
"Tapi saat ini aku tidak punya uang untuk memenuhi keinginanmu, sayang," kata Setta pada Sinta.
"Tidak sekarang, saat ini kamu pikirkan saja pernikahan kita, aku gak mau pisah denganmu hanya karena kamu tidak bisa menyanggupi keinginan ayahku, buktikanlah kalau kamu sangat mencintaiku," kata Sinta.
Bayangan itu, suara manja itu masih saja menghantui kehidupannya hingga sekarang hatinya terasa nyeri teringat semua itu, dia menginjak rem tiba-tiba karena terbawa emosi mengingat kejadian di masa lalunya, membuat tubuh Lea terhuyung kedepan dan hampir saja jatuh merosot kebawah karena dalam keadaan tidur.
Lea pun terjaga karena terkejut. "Ada apa Dadd? Apa Daddy lelah? Jika lelah biar Lea yang mengemudi, Lea juga bisa karena sering bawa pick up untuk membawa sayuran ke pasar.
Setta tertawa. "Beda sayang mobil dengan pick up yang ada di panti, nanti Daddy ajarin jadi jika Daddy capek kamu bisa gantikan Daddy," kata Setta mengelus rambut Lea.
"Baiklah, ayo kita lanjutkan perjalanan kita ini," katanya sambil melirik Lea Setta kembali menjalankan mobilnya melanjutkan perjalanan menuju ke vila, tak lama kemudian mereka pun sampai di sana sudah di sambut oleh sekuriti dengan membukakan pintu gerbang dan mobil itu masuk di vila yang terlihat indah, sebuah bangunan seperti kastil bergaya klasik dan modern.
Setta dan Lea keluar dari mobil. Lea menatap takjub pada bangunan itu.
"Indah sekali, Dadd," kata Lea
"Apa kau suka?" tanya Setta pada Lea.
"Hemm," jawab Lea sambil mengangguk.
"Jika kau mau menikah dengan Daddy ini akan menjadi mahar pernikahan untuk mu," kata Setta berjalan mendahului Lea masuk masuk ke dalam Vila tersebut.
__ADS_1
Pintu di buka terlihat di dalamnya begitu indah interiornya semua berkelas membuat Lea takjub.
"Dadd, yang tadi Daddy tidak bercanda kan?" tanya Lea pada Setta.
"Yang mana, Lea Daddy sudah lupa," kata Setta terkekeh.
"Masak lupa sih Dad, baru saja Daddy bilang kan tadi?" tanya Lea.
"Sudah jangan di pikirkan, kamu sudah ngantuk kan?" tanya Setta.
"Hemm," jawab Lea hatinya kecewa karena pria yang bersamanya tak membiarkan hatinya berbunga, tidak mendapatkan jawaban yang di harapkan.
Setta membukakan pintu kamar untuk Lea, dan gadis itu masuk dalam kamar itu dan gadis itu masuk dalam kamar.
"Lea jika kau mau berganti pakaian di lemari ada pakaian tidur, pakailah," kata Setta pada Lea.
"Baik Dad," jawab Lea sambil menutup pintunya. Dia melihat sekelilingnya dan membuka lemari dan dia terkejut di dalam lemari hanya ada lingerie saja dia memilih yang agak sopan walaupun semua berbahan tipis dan diatas lutut.
Setelah berganti pakaian dia pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Baru saja dia memejamkan matanya dering telpon berbunyi dan tertera nama Daddy. Lea lansung menerima panggilan Video dia lupa saat ini gadis itu tengah memakai lingerie.
"Ya Dadd, ada apa?" tanya Lea pada Setta.
Daddy lupa bilang pintu jangan di kunci karena biasanya di malam hari ada suara aneh, kalau kamu takut kamar Daddy ada di sebelah kamarmu.
"Apa kenapa Daddy baru bilang sekarang?" tanya Lea sambil memegang tengkuknya, merasa merinding saat sang ayah Angkat baru memberikan tahukan.
__ADS_1