Pesona Cinta Semu

Pesona Cinta Semu
Bab 52


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang membangunkan seseorang yang telah lelap di meja makan dengan menaruh kepala diatas kedua tangannya yang bersilang di atas meja.


Wanita itu pun bangun dan melihat sekelilingnya, begitu sepi, dia menyandarkan tubuhnya di kursi, menghilang rasa kantuk yang menggelayut di matanya. Setelah benar-benar sadar dia beranjak dari tempat duduknya berjalan ke kamarnya.


Lea membuka kamar terlihat sang Daddy, selesai sholat. wanita itu menghampiri suaminya dan meraih tangan suaminya lalu mencium punggung suaminya itu.


"Le, kita berangkat sama-sama saja aku antarkan kamu ke kampus tadi temanku yang mengajar di sana bilang kalau kamu ada kuliah jam tujuh sampai jam dua belas pulangnya biar di jemput pak Rahmat.


"Boleh Dad," jawab Lea sambil ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sekali lagi, setelah sepuluh menit dia pun keluar dengan menggunakan bath robe, dia melihat sang Daddy sudah tidak ada di kamar lalu mengganti baju yg akan di kenakan untuk kuliah nanti, setelah itu dia melaksanakan sholat subuh kemudian bergegas ke dapur untuk membuat sarapan, ketika tiba di sana sarapan sang Daddy telah membuat steak dan French fries serta dua cangkir teh hangat, entah kenapa pagi ini dia tidak membuat kopi.


"Dadd, gak minum kopi hari ini?" tanya Lea.


"Ngak, perut Daddy agak kurang nyaman nih," jawab Setta.


"Itu karena Daddy kebanyakan jadinya, begitu," jawabnya sambil menunduk.


"Enggak lah, kalau itu. Kamu gak keberatan Daddy bisa nambah lagi sekarang juga," jawabnya sambil memotong steak dan memasukkan dalam mulutnya.


"Ck, Daddy jangan aneh-aneh deh, Lea sudah rapi begitu pula Daddy, kita bisa kesiangan," jawab Lea.


"Kan tadi Daddy bilang kalau kamu mau, oh ya, Lea, Daddy ingin segera punya anak darimu, jadi jangan coba-coba untuk menunda kehamilan! mengerti kamu Lea!" tegas Setta.


"Iya, Dadd, jawab Lea, sambil mengunyah makanannya. Setelah sarapan mereka bergegas keluar rumah sebelum masuk mobil dia berpesan pada pak Rahmat.


"Pak, nanti jemput Lea ke kampus tepat jam dua belas ya, Pak!" perintah Setta.

__ADS_1


"Baik, Pak !" jawab pak Rahmat.


Mereka pun masuk dalam mobil, tak lama kemudian berjalan meninggalkan Vila itu.


"Lea, tolong hindari pria yang kemarin menggoda mu!" perintah Setta dengan tegas.


"Baik Dad," jawab Lea


Mobil berjalan dengan kecepatan sedang, tigapuluh menit kemudian sampai lah di depan pintu gerbang kampus dan Setta menghentikan laju mobilnya, Lea mencium punggung tangan suaminya lalu berpamitan setelah itu, keluar dari mobil.


Lea berjalan di jalan setapak kampus melewati gedung-gedung fakultas lainnya, terdengar seseorang memanggil namanya, siapa lagi tentu saja Aldo yang baru dia kenal kemarin tetapi Lea tidak peduli karena dia memang tidak suka pada pria suka memaksa.


Karena pria itu suaminya mejadikan dirinya bulan-bulanan kemarahannya karena cemburu.


Lea tetap tidak peduli, dia terus berjalan tanpa menoleh kebelakang. Aldo sedikit marah dan meraih tangan Lea, dan menariknya hingga tubuh Lea menabrak tubuh Aldo.


Lea semakin marah di hempaskan tangan lelaki itu. "Yang sopan ya!" pintanya tegas.


"Kenapa? kau takut dengan Ayahmu atau suami itu? jangan-jangan kamu pasangan haram, seorang ayah yang me nye tu bu hi anaknya sendiri," sarkas Aldo.


"Tutup mulut mu! orang tuaku sudah lama meninggal dan dia memang suamiku, memang apa peduli mu, aku menyesal telah mengenal mu, mulai saat ini jangan panggil aku kita tidak saling kenal," jawab Lea dengan kemarahan yang meluap.


Gadis itu berlari meninggalkan Aldo yang termangu menatap punggung gadis yang baru di kenalnya kemarin, dan sekarang dia menyesal karena sudah tidak punya lagi kesempatan untuk menjadi teman, kemarahan dan rasa cemburu serta rasa kecewanya merusak pertemanan mereka.


Dengan langkah gontai dia berjalan masuk ke gedung fakultasnya dan ke kelasnya, pagi ini dia tidak dapat lagi duduk di sebelah Lea sebab gadis itu benar-benar membencinya.

__ADS_1


Waktu begitu panjang bagi Aldo, karena tidak bisa bertegur sapa dengan gadis pujaannya itu, pertama kali melihat gadis itu dia merasa debaran jantung yang berdetak lebih kencang, dia benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun ia harus patah sebelum berjuang meraih hati gadis itu, sebab ternyata gadis itu telah menikah.


Aldo melihat gadis itu begitu serius mendengarkan mata kuliah tanpa menoleh sedikit pun pada dirinya, sungguh suatu hal yang miris buatnya.


'Ahh ... sial, kenapa aku jadi tidak bisa fokus pada mata kuliah ini, apa aku minta maaf saja, ya? Agar aku bisa berteman dengannya," batinnya.


Tepat jam dua belas mata kuliah Lea selesai dengan cepat dia membereskan buku-bukunya dan berjalan keluar kelasnya, gadis itu terus berjalan dengan cepat terlihat dari kejauhan pak Rahmat menunggunya dia segera berlari dan masuk di dalam mobil, Aldo yang hendak menghampirinya untuk meminta maaf padanya hanya bisa terpaku menatap gadis itu.


Leo menyesal karena telah berbicara lancang atas hubungan Lea dengan suaminya yang di panggil sebutan Daddy itu.


Mobil yang di naiki Lea berjalan menjauh meninggalkan kampus, Lea duduk di di bangku tengah menatap kosong keluar kaca jendela, masih ingat sang Daddy menyebut nama ibunya dengan kebencian yang mendalam, 'Apa yang membuat mu membenci mama seperti itu Dad?" Lea mendesau lelah.


Mata itu terpejam ingin melupakan rasa penasaran yang menderanya, sang suami tidak mau bercerita, dia selalu marah saat dia bertanya tentang hal itu.


Tak terasa dia tertidur entah berapa lama, dan terbangun saat pak Rahmat membangun kannya dengan memanggil namanya berulang-ulang.


Lea membuka matanya dan tersenyum. "Saya tertidur ya, Pak, Bapak sudah lama membangunkan saya tadi,ya?" tanya Lea. Sedangkan Pak Rahmat terkekeh mendengar pertanyaan majikan mudanya itu sambil mengangguk,


Lea pun tertawa kecil melihat expresi lucu sang sopir yang begitu segan padanya. Wanita itu turun dari mobil. "Trimakasih, ya Pak, hati-hati dijalan," ucap Lea tulus pada lelaki paruh baya itu dan pak Rahmat hanya menggangguk kemudian menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang keluar dari rumah panti itu.


Aldo yang mengikuti mobil Lea pun sudah berada di depan rumah panti itu dia hanya duduk di dalam mobil sambil melihat rumah itu, berhenti beberapa saat lalu melajukan kembali mobilnya meninggalkan tempat itu.


Lia sudah berada di kamarnya yang di tinggalkan tiga hari yang lalu, dia melepaskan sepatunya dan melemparkan tasnya diatas sofa, lalu menghempaskan tubuhnya diatas ranjang.


Rasa rindu terhadap kamarnya di luapkan dengan bergulung-gulung di atas ranjangnya lalu memejamkan mata untuk merasakan kenyamanan yang sempat di tinggalkan tiga hari yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2