
Dea yang mendapatkan kabar bawah Lea pulang ke rumah panti segera pulang kerumah meninggalkan pekerjaan, dia ingin segera tahu kabar Lea.
Dengan memesan sebuah taksi online dia bergegas pulang menuju rumahnya begitu sampai dia langsung masuk kedalam rumah berjalan menuju kamar Lea.
Dea mengetuk pintu kamar gadis itu, dan dengan sabar menunggu pintu di buka. Tak lama kemudian pintu pun terbuka Lea begitu senangnya melihat Bunda Dea berdiri di ambang pintu.
"Bunda, Lia kangen sama Bunda," teriaknya sambil memeluk bunda Dea.
"Bun, ayo masuk ada yang Lea tanyakan," kata Lea.
Dea mengerutkan dahinya. "Apa yang ingin kamu tanyakan? Apa kamu mendapatkan perlakuan buruk dari Setta?" tanyanya.
Lea menarik tangan Bundanya, mengajaknya masuk kedalam lalu
"Enggak Bun, hanya saja Daddy kalau sedang marah selalu memanggilku Sinta, bukankah itu nama mama? Bun, tolong ceritakan apa yang terjadi pada Daddy, mama, dan papa?" tanya Lea menatap Bunda Dea.
Dea menghela nafasnya. "Aku juga Lea berada di pusaran yang sama. Aku adalah kekasih papamu sedangkan mamamu kekasih Setta," jawab Dea dengan menatap sendu pada gadis itu.
"Apa?" tanya Lea dengan sangat terkejut sambil menutup mulutnya.
"Iya, hanya mama dan papamu yang tahu kenapa mereka mengkhianati kami memberikan luka yang mendalam seakan sulit untuk sembuh. Mama menitipkan surat untukmu, sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya. Sebentar akan Bunda ambilkan untuk mu," kata Dea bangun dari duduknya dan keluar dari kamar Lea.
Tak lama kemudian dia keluar lagi sambil menyerahkan sebuah amplop putih yang tebal entah berapa lembar isi dari amplop itu.
"Bacalah, aku tidak tahu, apa isinya," katanya sambil menyerahkan pada Lea lalu Dea menepuk bahu gadis itu dan meninggalkan sendiri di kamar.
Lea membuka amplop itu dan membacanya.
(Dear Lea, ketika kau baca surat ini, kau pasti sudah menjadi istri Setta, memang mama meminta Dea memberikannya saat kau sudah menikah dengannya. Maaf, aku memintamu untuk menebus kesalahanku padanya, jadilah air saat dia menjadi api yang membakar mu, akan ku ceritakan apa yang terjadi antara kita berempat, aku, Dea Setta dan papamu yang sebenarnya adalah seorang sahabat sejak di banku SMP
__ADS_1
Kami adalah dua pasangan yang saling mencintai, tetapi orang tua kami tidak pernah memberikan restu akan cinta kami. Setta berusaha mati-matian membangun usaha ayahnya agar bisa di terima di keluarga ku, Sementara Dea begitu percaya dengan Arga yang akan memperjuangkan cintanya di hadapan orang tuanya, aku tidak tahu jika Arga menyimpan rasa cinta pada ku padahal saat itu sudah berhubungan dengan Dea, dan aku juga tidak tahu jika Arga menyimpan dendam.
Tragedi itu berawal dari usul menikah di waktu bersamaan, Setta pun menyanggupinya karena permintaanku. Waktu itu kami baru saja menerima pengumuman kelulusan dan Setta dapat beasiswa di kuliah di luar negeri pada waktu itu dan dia membatalkannya karena aku memintanya, ketika mengurus persiapan pernikahan Arga meminta Setta untuk mengurus semuanya termasuk pernikahan dia dengan Dea karena Arga masih punya urusan dengan ke dua orang tuanya)
Flashback on
"Setta urus juga pernikahanku ya, nanti biaya akan aku ganti," kata Arga.
"Gila kau Ar aku dapat uang dari mana jika urusan pernikahan mu kau serahkan padaku," protes Setta pada Arga.
"Kau bisa gadaikan rumahmu dulu, Ta, nanti aku ganti setelah aku bicara dengan orang tuaku Ayolah, Ta!" pinta Arga memohon.
"Rumahku, sudah aku jaminkan di bank untuk usaha ayah ku itu, Ar," jawab Setta meninggi.
"Kau masih punya sertifikat usaha milik ayahmu kan, Ayo lah bantu aku, Ta, itu saja digunakan jaminan pinjaman di kolega ayah ku, orangnya sangat baik, Ta, bunganya tidak terlalu tinggi," kata Arga mengiba.
"Sayang, dia kan sahabat kita, bantulah nanti aku akan bantu kau juga untuk mengambil sertifikat itu," kata Sinta merayu kekasihnya itu.
.
.
.
Satu bulan kemudian, Setta sudah berangkat menuju hotel yang dipersiapkan untuk akad dan resepsi pernikahannya jam 07.00 pagi karena akad nikah akan di laksanakan jam 08.00
Seta menunggu dengan gelisah, tepat jam 08.00 sang pujaan hati belum juga datang, pak penghulu juga belum datang, pemuda itu semakin gelisah, ayahnya dan ibunya selalu bertanya,"Kapan akad di mulai, kenapa calon istrimu dan ayahmu serta penghulu belum datang."
"Aku tidak tahu ayah nomernya tidak aktif," jawabnya gelisah.
__ADS_1
Tiga puluh kemudian penghulu datang. "Maaf, Tuan saya datang terlambat, apa bisa di mulai?" tanya penghulu.
"Tunggu, Pak! Pengantin perempuannya belum datang," kata Setta.
Setelah meminta sang penghulu menunggu beberapa menit Setta menerima notifikasi di handphonenya, dia mendapat kiriman video dari Arga tanpa pesan dia membuka video itu, terlihat tayangan selama 15 menit, prosesi akad nikah Arga dengan Sinta serta penandatanganan surat nikah, membuatnya terkejut dan terduduk di kursi handponenya jatuh di lantai.
Zein yang menaruh rasa curiga, menghampiri Setta dan mengambil handphonenya dan melihat isi Video itu, lelaki itu sama terkejutnya.
Ada apa, Nak, kenapa pengantinnya belum datang?" tanya sang ayah cemas pasal sang putra telah mengeluarkan biaya besar untuk ini.
"Bapak dan Ibu duduk saja, saya akan mengurus ini dengan Setta," kata Zein menutupi apa yang terjadi.
Zein berjalan kembali menghampiri Setta yang bingung tidak tahu apa yang harus dilakukan, beberapa kali pak penghulu menanyakannya, tidak dihiraukan oleh Setta.
"Pak, biar saya bicara dengan sahabat saya, Bapak tunggu sebentar," kata Zein.
penghulu itu mengangguk, dan berjalan menjauh dari mempelai pria.
"Ta, sadarlah, ini harus di putuskan bagaimana pun kau yang harus menyampaikannya!" perintah Zein.
Setta menatap dengan tatapan kosong matanya merah menahan marah, kecewa dan sedih. "Hem, Ehh, Iya, tetapi aku tak sanggup mengatakannya tolong sampaikan pada para undangan dan penghulu, Zein," pintanya pada sahabatnya.
Zein menghembuskan nafas lalu mengangguk, dia menatap iba pada sahabatnya itu kemudian dia berjalan menghampiri penghulu membisikan sesuatu, sang penghulu mengangguk.
Dia menghampiri Setta dan menepuk bahu pemuda itu.
"Bersabarlah, Nak, nanti kau akan dapatkan wanita yang lebih baik darinya, Bapak pergi dulu."
Setta hanya mengangguk, dan setelah penghulu itu pergi Zein memberitahukan kepada undangan melalui mikrofon bahwa pernikahan batal karena suatu hal mempersilahkan untuk menikmati hidangan setelah itu mereka boleh meninggalkan tempat.
__ADS_1
Ayah Setta menghampiri putranya dengan menekan dada yang mulai berdenyut nyeri, karena mendengar apa yang dikatakan Zein.
"Apa itu betul, Nak? Pernikahanmu di batalkan dan kenapa?" tanya sang ayah terbata-bata.