Pesona Cinta Semu

Pesona Cinta Semu
Bab 33


__ADS_3

Lea mengurai pelukannya dan tersenyum. "Aku masih bau Bunda, belum mandi," katanya sambil terkekeh. Bunda Dea tersenyum. "Ya sudah cepat sana mandi takut semua yang ada di sini pingsan karena bau tubuh mu," canda Bunda Dea.


"Tidak seburuk itu, Bunda," kata Lea pada Bunda Dea sambil tertawa.


"Om, Dad, maaf ya, Lea tinggal dulu," kata Lea sambil masuk kedalam.


"Sean, ayah mu sepertinya mau ngomong serius sama Bunda, kamu main di luar duluan sana," kata Setta masuk kedalam entah mau ke mana.


Dea saat itu tenga memperhatikan setta, tetapi karena rega ingin mengatakan sesuatu itu membuatnya tak punya pikiran buruk apa pun.


"Apa yang ingin kau katakan, Mas Re?" tanya Dea pada Rega.


"Dea aku mencintaimu, sangat mencintaimu, jika yang ku katakan ini akan melukai hatimu, maka ku mohon tetaplah pada rencana kita dan tetap bersedia menikah denganku, berjanjilah apapun yang ku katakan padamu kau tidak akan meninggalkanku dan terus membersamaiku," pinta Rega.


"Apa si Mas? jadi penasaran, ceritakan dulu baru aku mau berjanji," jawab Dea.


"Tidak kau janji dulu, jika kau tidak mau berjanji maka lebih baik tidak ku katakan karena aku tidak akan sanggup kehilanganmu," jelas Rega sedikit merajuk.


"Baiklah aku berjanji," katanya terkekeh.


"Aku tanya lagi padamu, Bun, jika pria yang ingin mengajakmu menikah ini ternyata hubungan dengan masa lalu mu, apa kau akan menolak menikah dengannya andai dia punya hubungan dengan kekasih mu dulu, entah itu adik, atau kakak, apakah kau tetap mau bersamanya?" tanya Rega dengan tatapan penuh keingintahuan.


Dea menghelah nafas panjang. "Saat terjadi kecelakaan, Setta ada di tempat kejadian itu. Bahkan dengan mengabaikan rasa sakit begitu mendalam Setta menolong mereka, lalu dia menelponku memintaku untuk menunggui Sinta, wanita itu sangat terluka parah pada waktu itu dan memintaku mengambil surat di saku celananya untuk di berikan pada Lea jika dia sudah menikah dengan Setta, lalu memohon padaku untuk menjadi istri Arga, jika lelaki itu selamat dan dengan bodohnya aku mengabulkan permintaannya, tanpa memperdulikan perasaan Sinta yang waktu itu tengah sekarat, apalagi ini hanya sebagai kakak atau adik dari seorang yang bernama Arga.


Dea berhenti sejenak, lalu menatap Rega penuh kesungguhan. "Selama dia mencintaiku dengan tulus, aku tidak akan meninggalkannya. Aku bicara begini bukan berarti aku masih mencintai Arga, tidak. Hanya ingin mengatakan padamu jika saja orang yang telah menyakiti itu berubah dan ingin kembali aku pun menerimanya, apalagi cuma adik atau kakaknya." Dea menunduk tajam.


"Baik, trimakasih, Aku adalah adik dari Mas Arga," katanya sambi menyentuh dagu Dea dan menaikan keatas, untuk bisa melihat ekspresi wanita itu.


"Apa kau tak terkejut, Bun?" tanyanya pada Dea.


Wanita itu menggeleng. "Aku sudah menduganya Mas Re, cuma aku hanya menunggu kejujuranmu."


Rega menatap dengan hati yang penuh kebahagiaan. "Trimakasih, Bunda, sebelumnya aku sangat takut untuk mengungkapkan hal ini pada mu, Bun. Aku sangat takut kehilanganmu jika kau tahu aku ini adiknya Mas Arga."

__ADS_1


"Iya, Sama-sama, kemana Setta kenapa begitu lama ke toilet? Menyelinap kemana dia?" tanyanya pada diri sendiri.


"Sudah, jangan pikirkan dia, aku sedang senang hari ini, andai kau sudah halal buatku akan ku peluk dan ku bawah keperaduan," katanya menatap Dea dengan penuh cinta.


.


.


Sementara Setta yang menyusul Lea kedalam berjalan menuju arah kamar gadis itu lalu mengendap-endap masuk ke kamar gadis itu lalu menguncinya.


Setta duduk di bibir ranjang menunggu gadis sedang mandi itu. Hingga akhirnya Lea keluar hanya mengenakan balutan handuk yang menutup dada hinga sampai pahanya.


Alangkah terkejutnya dia saat melihat sang daddy dikamar seraya duduk di pinggir ranjangnya sambil melihat dirinya tanpa berkedip.


"Daddy! Kapan di sini?" tanyanya dengan wajah merona.


"Sudah lama, waktu kamu masuk kedalam kamar mandi," katanya sambil berdiri dan berjalan mendekati Lea. Gadis itu semakin gugup, dia takut Deddy-nya akan bertindak seperti di apartemennya.


Setta terus berjalan semakin mendekat dan gadis itu berjalan mundur hingga punggungnya menabrak daun pintu lemari yang tertutup.


"Daddy mau apa?" ulangnya sekali lagi.


"Menurutmu?" tanyanya Lea.


Lea menelan salivanya, sang Daddy menatapnya dari bawah hingga atas kemudian dia menyentil kening Lea sambil tersenyum. "Emang apa yang kau pikirkan? Cepat ganti pakaianmu! Daddy mau ajak kamu ke suatu tempat, jangan terlalu lama Daddy tunggu di luar," katanya sambil melepaskan kungkungannya pada Lea lalu berjalan menuju ke arah pintu Setta memutar kuncinya dan membukanya kemudian keluar dari kamar itu sambil menoleh ke arah Lea yang masih merasa malu.


Setta tersenyum sekali lagi setelah berhasil mempermainkan perasaan gadis itu. Melenggang keluar menuju ruang tamu.


"Kamu dari mana saja?" tanya Dea yang mulai curiga dengan sahabatnya Itu.


"Aku dari belakang kenapa memang?" tanyanya


"Kenapa begitu lama? jangan-jangan kamu--" tebak Dea ragu.

__ADS_1


"Jangan-jangan apa, Dea? Apa kau suruh aku tetap di sini melihat kalian bermesraan," jawab Setta.


"Bukan begitu, kalau kau benar-benar menyukainya, nikahi dia," perintah Dea.


"Tentu, Menunggu Omnya menikah dulu, baru aku, betulkan Om?" tanyanya sambil terkekeh.


"Apa, kau sudah tahu? Kenapa tidak memberi tahu ku?" tanya Dea sambil melebarkan matanya.


"Karena aku merasa tidak berhak Dea, andai aku yang mengatakannya padamu jelas penilaianmu akan berubah pada Rega dan mungkin saja kau merasa Rega membohongimu," kata Setta pada sahabatnya itu.


"Iya kau benar,Ta," kata Dea pada akhirnya.


"Hargai kejujurannya, Dea, Rega sudah benar mengungkapkan jati dirinya sebelum pernikahan kalian dan tolong jangan kau katakan dulu pada Lea. Setelah kalian menikah baru ceritakan padanya," pinta setta pada Rega.


"Baiklah," kata Rega


"Dea!" panggil Setta karena Dea hanya diam saja tidak mengiyakan permintaannya.


"Iya, Setta!" teriaknya gemas sambil melotot kearah setta


Lea muncul dari dalam dengan balutan kemeja warna navi dipadukan dengan celana jins berwarna biru. "Dad aku sudah siap," katanya pada Daddy-nya itu.


"Memang mau kemana, sayang?" tanya Dea. Rega menatap ponakan dengan tatapan iba gadis yang tumbuh dengan kasih sayang orang lain, dan bahkan dia tidak pernah menengoknya sama sekali dari mulai balita hingga dewasa.


"Tahu tu Daddy," jawabnya sambil mengangkat bahunya ke atas.


"Kemana, Ta?" tanya Dea.


"Apa aku harus jawab? Kamu seperti istri pertamaku saja pake tanya segala, simpan pertanyaanmu itu untuk suami mu bukan aku," katanya sambil berdiri dan mengeloyor pergi keluar rumah.


"Setta! Awas kau! teriak Dea yang di iringi kekehan Setta.


Lea segera mencium punggung tangan Dea dan Rega lalu berlari menyusul sang Daddy.

__ADS_1


__ADS_2