Pesona Cinta Semu

Pesona Cinta Semu
Bab 16


__ADS_3

Pria yang punya sorot mata tajam dengan penuh kebencian dan kesedihan itu mendorong kursi roda masuk kedalam Vila dan berjalan terus menuju kamar indra.


"Herman, tolong angkat dan baringkan Bapak," perintah Setta


"Baik, Pak!" jawab Herman.


Lelaki itu mengangkat Pria sepuh yang bobot tubuh sudah sangat berkurang Itu dia membaringkan tubuh renta itu di ranjang.


"Herman, kemana suster Dian kenapa di ganti tanpa bicara dulu dengan saya?" tanya Setta pada Herman.


"Dokter Fernan yang ganti atas permintaan suster Dian, karena tangan Bapak itu sekarang sudah bisa di gerakkan jadi sering Jail tuan dan Suster Dian engak nyaman," kata Herman.


"Oh jadi begitu, Siapa namamu?" tanya Setta pada suster baru pengganti sister Dian.


"Saya suster Retno, Tuan," jawab suster baru dengan menunduk tajam wajahnya memerah.


"Sudah berapa lama kamu kerja di sini?" tanya Setta menatap tajam.


"Satu bulan Pak," kata suster Retno


"Siapa yang bertugas memandikan Om Indra?" tanya Setta.


"Saya, tuan," sahut suster Retno.


"Apa, kamu? Kenapa kamu yang memandikannya? Bukankah itu tugas kamu Herman?" tanya Setta sambil menatap Herman.


Herman terkekeh melihat keterkejutan majikannya itu.


"Nah, itulah tuan satu bulan yang lalu ada kemajuan tangannya bisa di gerakan dan itunya bereaksi jika melihat wanita cantik, tahu sendiri suster Dian itu cantik. Nah, Tuan Indra milih minta di mandikan suster Dian kalau tidak dia mengancam tidak mau makan dan mau minum obat, akhirnya suster Dian ngalah dia mandikan Bapak, tetapi Bapaknya nakal," kekeh Herman sebelum melanjutkan kembali.


"Lalu, suster Dian resign begitu?" tanya Setta.


"Betul, Tuan, lalu Dokter Fernan membawa beberapa suster-suster cantik dan suster Retno terpilih, entah apa dan bagaimana, suster Retno betah," jawab Herman kembali.

__ADS_1


Indra tidak berani menatap wajah Setta yang seolah sudah paham apa yang terjadi antara dirinya dan suster Retno.


"Herman, Suster Retno ikut saya keruangan kerja saya, saya mau bicara," kata Setta sambil melirik ke Indra.


"Baik, Tuan!" jawab mereka serempak dan berjalan mengikuti majikannya itu keruangan beliau lalu Setta menyuruh duduk dan dia mulai membuka laptop yang menghubungkan CCTV di seluruh ruangan kemudian pria itu mencari tangkapan kamera dari kamar Indra.


"Matanya terbelalak seperti tak percaya. "Herman kemari!"


"Iya, Tuan!" jawabnya lalu beranjak dan berjalan kemeja kerja majikannya itu.


"Herman melihat tayangan tangkapan layar di ruangan tuan Indra sama terkejutnya dan menatap suster Retno dengan tatapan yang tak bisa di tebak.


Setta menghelah nafas. "Ikut saya lagi ke ruangan Bapak kamu juga Sus," kata Setta sambil berjalan mendahului mereka.


Suster Retno mengikuti sambil menunduk. Tak lama kemudian mereka sudah sampai di ruangan Indra. Setta menatap mantan calon mertuanya itu lalu tertawa keras seolah mengejek lelaki tua itu


"Oh, jadi kau genit juga, yaa, Kakek," katanya sambil menatap suster Retno yang mulai gelisah.


"Saya terpaksa, Tuan karena beliau mengancam akan mengganti saya dengan suster lain sementara saya butuh uang untuk menghidupi anak saya, hanya di sini saya mendapatkan gaji besar," kata suster Retno sambil memilin-milin tangannya.


"Kenapa tidak bilang saya? Saya bisa kasihkan separuh gaji saya sama kamu jika kamu mau sama saya," bisik Herman sambil terkekeh.


Suster Retno menatap, Herman dan lelaki itu mulai menatap nakal pada Retno.


"Herman!" panggil Setta


"I-Iya, Tuan!" jawab Herman tergagap.


"Suruh bik Yul bereskan pakaian suster Retno, dan taruh di koper bawa keruangan kerja saya!" perintah Setta.


"Baik, Tuan!" jawab Herman sambil berjalan keluar dari kamar majikannya itu


"Berapa kali kau melakukan sus? Kutanyakan lagi!" Setta mengeraskan suaranya.

__ADS_1


"Tiga kali Sehari, Tuan, pagi dan sore pada waktu mandikan beliau dan malam Tuan besar meminta kembali dia akan terus menerus memencet bel yang menghubungkan kamar saya berulangkali tuan dan tak akan berhenti jika saya tidak kesini," jawab suster Retno.


"Setta duduk di sofa sambil memijit keningnya. Apa Dokter Fernan tahu?" tanya Setta


"Tidak, Tuan," jawab suster Retno sambil menunduk.


Setta menghembuskan nafas kasar. "Hai kakek tua, kau tidak berubah sama sekali, kau sudah tidak berdaya masih saja arogan, enak saja kau buat aku membujang dua puluh tahun lamanya dan kau enak-enak dengan suster ini. Aku tak akan memberikan mu perawat wanita, ku suruh Fernan carikan perawat laki-laki saja," kata Setta sambil menatap tajam pria yang berusia enam puluhan tahun itu.


"Maaf, Tuan, apa saya di pecat?" tanya suster Retno.


"Maaf suster saya tidak bisa memperkerjakan orang yang dibawa tekanan orang lain jadi saya memperhatikanmu untuk kebaikan dirimu sendiri dan kembali ke rumah sakit, saya akan meminta teman saya untuk membantumu di terima di rumah sakit besar dengan gaji cukup," kata Setta.


"Silahkan ke ruangan kerja saya dulu, saya masih ada perlu dengan Tuan arogan ini," kata Setta pada suster Retno, dan perempuan itu mengangguk berjalan keluar dari kamar majikannya.


"Kakek, Kau itu sudah tua dan tidak berdaya kenapa masih menyusahkan orang, Kau punya apa? Mengancam-ngancam dia. Jika ini ku perlihatkan pada cucumu apa kau tidak malu, Oh ya Tuhan aku jadi punya bahan untuk merendahkan mu di hadapan cucumu," kata Setta sambil tertawa.


"Jangan berulah lagi! Aku tak peduli kau tidak mau makan, aku juga tidak peduli apakah kau hidup atau mati, jadi jangan macam-macam denganku kalau kau tak ingin aku melempar mu di jalanan! Karena kita tidak punya hubungan apapun kecuali aku menikahi cucumu itu," ancam Setta sambil berjalan keluar ruangan itu menuju ruangan kerjanya di sana sudah ada Herman dan suster Retno yang duduk berdekatan dan Herman mulai curi-curi kesempatan karena sempat melihat rekaman CCTV Retno dan pak Indra.


"Herman kenapa kau duduk di sana? Kalau kamu suka nikahi dia jangan kayak bandotan tua itu, yang sedikit-sedikit mengancam!" nasehat Setta.


"Iya, Tuan, saya pindah," jawab Herman sambil beranjak dari duduknya dan berdiri di samping Setta.


"Kenapa malah berdiri?" tanya setta pada Herman.


"Enggak apa-apa, Tuan, saya kalau duduk di sana malah gak bisa jauh dari dia kebayang yang tadi, Tuan," kata Herman cengengesan.


"Retno, kirim rekening Kamu ke saya," kata Setta.


"Maaf saya tidak punya nomor Anda, Pak," jawab Retno.


Kirim ke nomorku, Ret, nanti biar ku kirimkan ke Tuan Setta," pintanya


"Retno mengirim nomer rekening ke nomer Herman dan Herman mengirimkan ke nomer telepon Tuan Setta.

__ADS_1


__ADS_2