
Dea tertawa. "Kau ini aneh-aneh saja, Ta."
"Aku tidak aneh-aneh, aku tidak mau dia seperti Arga, Dea, menyia-nyiakan kamu, mengerti kamu!" jelas Setta pada Dea.
Dea pun mengangguk. "Kau sendiri kenapa kesini?" tanya Dea sambil mengikuti langkah Setta ke makam ayah dan ibunya.
Setta berjongkok. 'Ibu,Ayah, Maaf aku tidak bisa menghapus luka ini sebelum dia tahu seberapa sakitnya hati ini dan maaf aku tidak mematuhi kalian karena aku tidak bisa melupakan masa lalu.' batinnya berbicara, Setta memejamkan matanya ada nyeri di hulu hati.
Setelah memanjatkan doa terbaik, pria itu menatap Dea. "Ayo aku antar ke kantormu," katanya pada Dea berjalan mendahuluinya.
"Ta, apa kau akan menemui om indra hari ini?" tanya Dea
"Kenapa kau mengira begitu?" tanyanya pada Dea.
"Karena kau akan kesini jika meneruskan untuk menemui seseorang yang melukai hatimu," kata Dea sambil tersenyum.
"Tidak semua tebakan mu benar dea jadi jangan tersenyum begitu kau seolah mengejekku, 'Setta aku sudah punya Sandaran hati,' Itu kan yang akan kau katakan padaku," kata Setta pada Dea.
"Ngawur saja, aku tidak akan begitu karena kalian adalah nyawaku," kata Dea dan disambut dengan deraian tawa Setta.
"Jangan tertawa ini itu benar, itu lah hatiku pada kalian," kata Dea lagi
"Kalau dengan dia bagaimana?" tanya Setta membuat Dea merona.
"Ya, aku tahu hatimu, ingat, jangan bodoh lagi!" kata Setta.
"Kenapa kau selalu mengingatkanku?" tanyanya pada Setta
"Karena kau bodoh, itu sebabnya aku mengingatkanmu," kata Seta pada Dea
"Kau juga bodoh buktinya kau masih terbelenggu dengan masa lalu," kata Dea sambil tergelak
"Iya kita berdua bodoh," kata Setta tertawa begitu juga Dea.
Semua itu tak luput dari pengelihatan Rega seorang duda beranak satu yang berusia Sembilan tahun.
__ADS_1
Sembilan tahun yang lalu istrinya meninggal dunia saat melahirkan sang putra, satu tahu kemudian sang kakak meninggal dunia beserta sang istri meninggalkan seorang putri berusia sepuluh tahun dan dititipkan pada sahabat yang telah dikianati kemudian dirawat mantan kekasih yang telah di sakitinya.
"Kakak jika itu terjadi pada diriku mungkin aku pun sama akan membencimu seumur hidupku, aku baru bertemu mantanmu dua bulan yang lalu, dia begitu lembut, aku mencintainya bukan karena wasiat mu untuk menjaganya seumur hidupku dan bukan untuk menebus kesalahanmu padanya, kau tahu kak, seorang ibu sanggup melakukan apapun untuk anaknya. Namun justru kau penyebab dia kehilangan putrinya."
Rega menghela nafas.
"Kakak aku akan melamarnya melalui dua pria yang menjaganya yaitu sahabat-sahabatnya. Semoga ini mengurangi rasa bersalah mu pada wanita itu, Untuk putrimu aku tak ingin ikut campur," kata Rega lalu pergi dari Makam kakak dan kakak Iparnya.
Rega masuk kedalam mobilnya dan menjalankan dengan kecepatan sedang menuju sekolah sang putra. Tak seberapa lama anak lelaki berusia Sembilan tahun itu berlari menuju mobil sang ayah lalu membuka pintu depan dan duduk di sebelah sang Ayah.
"Apa kita akan bertemu Bunda Dea aku rindu sekali Dad," kata sang putra
"Baru dua hari yang lalu tidak bertemu, masak kangen, besok yaa, sekarang bunda lagi sibuk," kata Rega pada putranya
"Ok! Janji yaa," kata Shain sang putra.
Mobil Setta berhenti di depan kantor Dea dan wanita itu tak bergeming dari tempat duduknya.
"Dea, aku akan kembali ke kantor tidak ke mana-mana," jelas Setta.
"Jangan sekarang dan tolong jangan beritahu siapapun," kata Setta.
"Baiklah," jawab Dea sambil membuka sabuk pengamannya dan keluar dari mobil kemudian masuk kedalam kantornya.
Pria itu menghembuskan nafas, lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju keluar kota, perjalanan memakan waktu tiga jam sampai di Vila yang sederhana nan Asri.
Dia keluar dari mobil dan masuk ke dalam Vila dan bertemu Dokter Fernando. "Bagaimana keadaannya Dok," tanya Setta
"Belum ada kemajuan," kata Dokter Fernan.
"Ok! Trimakasih, tolong selalu beri laporan kesehatannya padaku," kata Setta.
"Baik pak, saya permisi dulu," pamit Dokter Fernan.
"Silahkan, Sus, Herman mana?"
__ADS_1
"Membeli obat untuk Bapak, Tuan," jawab suster
"Bantu saya pegang kursi roda, Sus," pinta Setta
"Baik, Pak," jawab suster sambil memegangi kursi roda.
Setta mengangkat tubuh indra dan di dudukan di atas kursi roda.
"Bapak mau dibawa kemana Tuan?" tanya Suster.
"Bapak ingin ke mana, ke surga apa ke Neraka? Akan saya antar," timpal Setta
"Tuan, jangan bilang begitu, Bapak itu sudah tua," kata suster.
"Yang bilang Bapak muda juga Siapa?" tanya setta pada Suster itu yang membuatnya terdiam.
Saya mau ajak jalan-jalan dulu, jangan ikuti saya," kata Setta
"Baik, Tuan," kata suster itu.
"Kau sudah bisa bicara apa belum Om Indra, jangan jadi orang yang tidak tahu terimakasih, Jika bukan saya yang merawat Om siapa lagi? Om sudah tidak punya anak dan saya sudah tidak punya orang tua, jadi jangan sok Om," kata Setta.
Perlu Om tahu, aku akan menikahi Relea secepatnya, itu artinya ketika aku sudah menikah dengan Lea, Om akan jadi kakek buat aku juga.
"Bagaimana Om rasanya bersandar pada orang Om hina," kata Setta
"Hanya itu saja yang ingin aku katakan Om. Sehat-sehat lah Om agar Om bisa menghadiri pernikahanku nanti," kata Seta
Setta mendorong kursi roda menuju ke taman lalu duduk di taman. Aku dulu sangat mencintai putri Om yaitu Sinta, rasa sayang menjadikan otakku tumpul, hingga tak tahu aku sedang dibodohi, dihina dan direndahkan. Om aku sekarang mencintai cucumu tetapi tidak sebodoh dulu. Cinta dan benci ada di hatiku karena kalian," kata Setta
setta terdiam sesaat memandang lelaki tua itu yang tatapan matanya tidak berubah dari dulu hingga sekarang walau dalam keadaan tidak berdaya.
"Restumu tidak penting karena kau bukan wali dari Lea dan aku tahu Arga mempunyai adik dan akan segera ku temukan. Akan ku buat cucu menangis setiap hari, menangis cintanya dan akan ku buat dia selalu memohon padaku untuk di cintai, untuk dipuaskan hasratnya, membayangkan hal itu aku sudah tidak sabar menjadikan cucu seorang lelaki angkuh dari indra Permana, bersimpuh di kaki pria yang di hina kakek dan putrinya, oh ya, kakek ku tampan, bahkan menantumu sendiri yang menyerahkan putrinya padaku," kata Setta terkekeh.
Pria itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kursi roda Indra dan mendorong nya mengitari kebun. 'Kau kira dengan kau memperlakukanku seperti ini aku akan bisa menerima mu sebagai keluargaku, tidak, aku tidak akan membiarkan kau mendekati cucuku tapi bisa apa aku, saat ini saja aku masih hidup karena belas kasihannya,' batinnya.
__ADS_1