Pesona Cinta Semu

Pesona Cinta Semu
Bab 22


__ADS_3

"Jangan kurang ajar kau, Ris, Om Setta juga ayahmu, dia menganggap mu sebagai anak ada sesuatu yang kamu tidak tahu dan tidak perlu tahu untuk saat ini, Jika kau tahu bundamu ini perna terpuruk dia lebih terpuruk lagi dari bunda andai bunda yang mengalaminya mungkin bunda sudah tidak waras lagi, jadi Bunda mohon jangan ikut campur apapun yang terjadi, karena Bunda yakin dia menyayangi Relea, mengerti, sayang," jelas Dea pada Risky


"Iya, Bun, Risky mengerti," jawabnya menunduk.


"Hormatilah dia seperti sebelumnya, Kau masih ingat bukan waktu kecil kau yang selalu di temuinya dan alasan dia tertawa, maka jadilah seperti itu, Nak. Jadi alasan untuk Om Setta mu tersenyum dan tertawa," lanjutnya pada Risky.


"Baik, Bun, Akan Risky lakukan untuk Bunda, Om Setta dan Om Zain juga untuk hubungan lama yang telah terjalin maka hubungan yang baru akan ku tinggalkan, Bun. Sudah sana pergi! Om Rega sampai bengong lihat Bunda marahin aku," kekehnya sambil berjalan menuju Rega dan mencium punggung tangan pria itu.


"Om, titip Bunda ya," pesannya pada Rega dan pria itu mengacungkan jempolnya.


Dea menghembuskan nafas lalu tersenyum pada Rega. "Maaf membuatmu menonton perdebatan kami, dan kamu sudah tahu asliku seperti ini, masih berniat untuk masuk ke kehidupanku?" tanya Dea


"Aku semakin yakin, Dea. Jadi jangan ragu lagi, ayo kita pergi Sean pasti sudah menunggu di sekolah," kata Rega.


Dea tertawa. "Baik lah ayo kita pergi apa dia tidak marah kalau kita terlambat?" tanya Dea


"Kita tak akan terlambat masih punya waktu tiga puluh menitan," jawab Rega sambil tersenyum.


Sementara itu Risky termenung di ruangannya setelah menyerahkan projek pada tim. Dia kembali teringat saat bertemu Om setta.


"Hai gambaranmu bagus sekali anak kecil, di mana rumahmu ini sudah malam biar ku beli dan ku antar ke rumahmu," sapa Setta pada anak lelaki kecil itu.


"Aku tidak punya rumah, Om, aku tidur di emperan toko itu, tapi harus menunggu toko tutup baru bisa tidur di situ," kata Risky pada Setta.


"Ayo, naik, ikut pulang sama Om, Om tinggal sendirian orang tua sudah meninggal, dari pada tidur di jalan, mending di rumah Om, nanti om kenalin teman Om, kalau sudah kenal terserah kamu mau tinggal sama om atau teman om, itu sama saja," kata Setta pada anak lelaki usia tujuh tahun itu.


"Benar om mau ngajak Risky, ke rumah om?" tanyanya lagi dan Setta mengangguk lalu anak itu pun naik di belakang Setta.


Risky menghela nafas. "Iya betul kata Bunda aku keterlaluan, biar bagaimanapun Om Setta berhak bahagia, lagipula belum tentu Lea suka sama aku."


.


.


Setelah dua puluh menit perjalanan, mereka sampai di sekolah Sean.


Ketika tahu mobil ayahnya sudah di depan pintu gerbang sekolah dia pun berlari menghampiri mobil sang ayah.


"Daddy, mana Bunda?"


"Itu," tunjuk Rega

__ADS_1


Dea yang baru keluar dari mobil pun di tarik oleh Sean di ajak duduk di bangku tengah.


"Biar Daddy sendirian saja, sekarang Sean yang sama Bunda," kata Sean pada Daddy itu.


"Iya deh, Daddy sekarang jadi supir buat pangeran dan ratu," jawabnya terkekeh.


Mobil pun berjalan dengan kecepatan sedang dan mereka menuju restoran terdekat.


Setelah sampai mereka masuk dalam restoran tersebut, mereka memilih tempat yang agak jauh dari keramaian orang lalu lalang.


"Aku minta es krim ya Dad?"


"Boleh tapi kamu harus makan dulu setelah makan baru pesan es krim," kata Rega.


Rega memesan menu yang sesuai dengan selera masing-masing orang.


"Bagaimana kapan aku bisa bertemu dengan mereka?" tanyanya pada Dea


"Aku atur waktu dulu ya, sama mereka karena ada penyesuaian dulu, selesai dengan mereka kita akan ke bunda Mira, karena dia adalah orang tua kami, beliau Bundanya Zain," jawab Dea dan Rega hanya mengangguk.


Makanan datang, mereka pun makan dengan tenang, sesekali terdengar Sean yang bercerita tentang teman-temannya.


"Daddy boleh tidak aku menginap di panti asuhan tidur sama bunda," tanya Sean


"Kalau itu tanya bunda boleh enggak tidur sama bunda kamu kan sudah sembilan tahun, mesti harus tidur sama mas Risky," jelas sang Daddy


"Kau Sean pingin tidur dengan bunda boleh enggak? soalnya Sean pengen merasakan gimana dipeluk bunda, kan dari dulu cuma sama Daddy," jawab Sean.


"Kalau masih sembilan tahun masih boleh tidur sama bunda," kata Dea.


"Asik, Sean mau nginep, Dadd," kata Sean


"Kalau bunda boleh ya, enggak apa-apa," katanya pada Sean


"Daddy jadi pengen seusia Sean deh," kekehnya sambil melirik Dea.


"Ih, Daddy genit deh," jawab Sean sementara itu Dea hanya tersenyum menanggapi candaan Rega.


Tak lama kemudian mereka sampai ke rumah yatim piatu, mobil pun parkir ke halaman rumah itu, Dea mengernyitkan alisnya, seperti dia mengenal mobil itu, 'Seperti mobil Setta apa dia ada di sini ya?' pikirnya.


Dea pun turun dari mobil bersama Sean lalu di susul dengan Rega di belakangnya. Dea berjalan terus menuju rumah sesampainya di sana dia tertegun melihat dua orang lelaki tengah bercanda. "Pernah gak sih Ratna cemburu sama Dea Zein,"

__ADS_1


"Perna awal-awal nikah, itu." Zean tertawa.


"Kenapa?" tanya Setta.


"Kamu masih ingat kan waktu kalian datang ke pernikahan ku dan kita bercanda kelewatan batas dan Ratna marah, di kamar aku di hukum tidak boleh sentuh dia padahal dia pakai baju seksi banget, kan bikin mupeng tuh, ahh, kelamaan aku paksa saja dia," kekeh Zein menoleh kearah pintu.


"Eh, Dea," sapa Zien.


"Kenapa kalian ke sini padahal kan ini jam kerja?" tanya Dea pada kedua pria itu


"Tanya si bos, tuh sukanya bikin galau tu cewek," kata Zein


"Siapa, Lea?" tanya Dea pada mereka.


"Kamu apain dia, Ta?"tanya Dea pada Setta.


"Lagi ku didik dia masak bangun siang banget sampai kantor tambah siang, kamu gimana sih, Dea? Masak Lea bangun molor kamu biarin saja sih," keluh Setta.


Emang dia kamu hukum apa?" tanya Dea pada Setta.


"Bikin file dan mengatur schedule aku lalu aku tinggal di sana sendirian kita ngobrol di sini, sekali -kali dia yang kerja, kita yang santai," kekeh Setta dan Dea hanya menggelengkan kepalabya dengan tingkah absur dari sahabat-sahabatnya.


"Om-om ini siapa bunda?" tanya Sean pada Dea.


"Nah ini siapa?" tanya Setta balik pada boca lelaki itu.


"Aku Sean Om, Om siapa?" tanya Sean.


"Kamu ke sini sama siapa?" tanya Setta kembali tanpa menjawab pertanyaan boca itu.


"Om siapa?" tanya Sean lagi


"Jawab dulu pertanyaan Om," perintah Setta.


"Itu sama Daddy," jawab boca itu sambil menoleh ke belakang.


"Ok! Kamu sama Bunda Dea? Itu Om Zein dan Om Setta mau bicara dengan Daddy mu," jelas Setta.


"Zein aku dulu yang mau bicara, anaknya kamu ajak main sana sama Dea," kata Setta.


Kemudian mereka bertiga masuk kedalam menuju taman belakang.

__ADS_1


__ADS_2