Pesona Cinta Semu

Pesona Cinta Semu
Bab 47


__ADS_3

Tangan setta dengan cekatan mengurai rambut Lea untuk di keringkan dengan hair dryer, lalu, menyisirnya dengan lembut.


"Dadd, boleh Lea bertanya?" tanya Lea pada pria itu.


"Apa, kau ingin bertanya apa?" tanya lelaki itu sambil memeluk gadis itu.


"Apa sebenarnya yang terjadi antara daddy dan orang tuaku? Apa Daddy bisa jelaskan padaku?" tanya Lea. Namun wanita itu mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, justru Setta melepaskan pelukannya pada wanita itu, kemudian pergi meninggalkan Lea keluar kamar.


Lea menghembuskan napas sedih, dia hanya ingin suami jujur akan tetapi suaminya justru meninggalkannya dalam perasaan yang sangat ingin tahu.


Lea tak ingin rasa penasarannya membuat hatinya tersiksa, dia hanya bisa bertanya pada bunda Dea, sementara kalau dia bertanya pada om Zein tentu akan menyarankan untuk bertanya pada Daddy.


Lea memendam rasa kecewa dan ingin tahu. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar lalu menuju ke dapur.


Lea menengok kesana-kemari, tidak ada orang. 'Bik Surti sudah pulang rupanya,' pikirnya, ia melihat menu makanan sudah siap di meja, hanya tinggal memanaskan saja saat ingin makan.


Lea menyalakan kompor memasak air ingin membuatkan kopi untuk sang Daddy, dia tahu harusnya dia bisa menahan diri untuk tidak menanyakan hal itu saat hati sang Daddy tidak baik-baik saja, agar tidak membuatnya tersinggung.


Dia mengambil dua gelas di raciknya kopi dan coklat, setelah airnya mendidih dia tuangkan kedalam ke dua gelas itu.


Lea melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Setta, setelah sampai pintu dia mengetuk pintunya, terdengar suara menyuruhnya masuk dan dia pun masuk.


Lea membuka pintu dan membawa dua cangkir kopi dan coklat panas, dan meletakan di meja lalu berjalan di sofa dan duduk di sana sambil meletakkan coklatnya di atas meja.


Setta yang marah memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan, tidak ingin membahas apapun tentang masa lalunya dengan orang tua Lea.


"Kau menunggu apa, Lea? Jika sudah kau letakan di meja silakan pergi!" kata Setta tanpa menoleh pada gadis itu.


"Apa Daddy mengusir Lea? tidak bisakah Lea duduk disini menemani Daddy?" tanya Lea


"Jika ingin menemaniku di sini jangan bicara apapun cukup duduk di situ dan diam jangan tanyakan apa pun padaku!" pintanya tegas

__ADS_1


Lea menelan salivanya sendiri, dia menatap pria yang sibuk dengan laptopnya itu, aura yang membuat ruangan semakin dingin membuat hatinya menggigil.


"Lea minta maaf Dad," ucapnya sedikit takut.


"Minta maaf untuk apa?" tanyanya.


"Untuk tadi harusnya Lea tidak tanya tentang itu ke Daddy," kata Lea menunduk,


"Sebentar Lagi magrib Lea," timpal Setta.


Lea sedikit bingung dengan jawaban sang Daddy, dia berfikir apa hubungannya dengan Lea meminta maaf.


"Iya Lea tahu, Dad, tetapi Lea hanya ingin minta maaf pada Daddy," kata wanita itu pada Setta.


"Setelah isya, minta maaf lah yang benar, hibur Daddy agar bisa melupakan pertanyaan mu tadi," kata Setta kembali dengan masih menatap layar laptop.


Tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering dia tercekat dengan apa yang di katakan suaminya itu.


"Hem ... sebelum kau minta maaf dengan benar," jawabnya kembali.


Lea terdiam dia mengambil secangkir coklat hangat di meja dan meneguknya perlahan. 'Apa yang harus ku lakukan?' tanyanya dalam hati.


.


.


.


Waktu berlalu begitu cepat mereka telah melaksanakan ibadah sholat sholat magrib dan isya, Setta masih dalam mode diam tidak bicara apapun, duduk di meja makan dengan memainkan handphone menunggu Lea memanaskan semua makanan yang ada di meja.


Setelah siap semuanya mereka pun makan dengan tenang tidak ada percakapan ringan maupun berat. Lea menatap pria itu, begitu dingin, tidak ada senyuman dia menghela nafas panjang.

__ADS_1


Area sensitifnya masih terasa mengganjal walaupun tidak sakit tetapi rasanya belum sanggup untuk dimasuki oleh rudal sang Daddy yang besar itu lagi, tetapi dia pun tidak bisa menghindarinya karena sang Daddy tetap akan menghukum di malam ini karena tadi dia membuat pria itu senang.


Setta menyelesaikan makan malamnya lalu dia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruan kerja, Lea menatap kepergiannya dengan perasaan galau.


Lea tak mengira setelah menikah pria itu semakin sulit untuk memahami pria tersebut.


Lea telah selesai dengan makan malamnya menyimpan makanan ke dalam kulkas lalu mencuci piring kotor setelah itu kembali ke kamarnya dan berjalan ke lemari pakaian, matanya membulat sempurna, dia baru tahu bahwa di lemari ini begitu banyak jenis lingerie, macam-macam dengan modelnya, Lea mendesau resah. 'Apa aku harus memakainya,' pikirnya dan dia harus meminta maaf dengan benar. "Ahh ... !" Lea duduk bibir ranjang,


Lea mondar-mandir kesana-kemari. Akhirnya dia memutuskan untuk memakainya, 'Bagaimana pun aku istrinya,' batinnya.


Lea pun memakai pakaian itu pakaian yang tipis hanya sebatas paha membuat tubuh yang polos terlihat jelas, dengan perasaan ragu Lea keluar kamar menuju ruang kerja sang Daddy.


Lea mengetuk ruangan itu.


"Masuklah! terdengar suara dari dalam. Lea membuka pintu dan masuk. "Dad, apa ini sudah benar?" tanyanya ketika sudah berada di dalam ruangan. Setta mendongak terlihat jelas ke indahan di pelupuk matanya, pria itu tersenyum menyeringai.


"Kunci pintunya Lea, setelah itu kemarilah!" perintah Setta.


Lea pun mengunci pintunya dan berjalan menghampiri menghampiri Setta yang sedang menatapnya tak berkedip.


Lea berdiri di depan meja kerjanya. "Ke sinilah duduk di pangkuanku dengan ragu ia mendekati pria itu dan Setta pun menarik tubuh Lea hingga duduk di pangkuannya.


"Tolong bantu memeriksa laporan ini!" pintanya sambil tangannya sudah sibuk bergerak menyentuh tubuh Lea.


Lea terpaku saat sang Daddy menyentuh area privasinya dia mulai membelai lembut. "Apa ini sudah tidak sakit Daddy ingin kembali memasukinya. Punyamu sungguh-sungguh membuat Daddy candu dan ingin selalu mengobrak-abrik isi di dalamnya," bisiknya


Lea mulai melenguh saat sang Daddy mulai mempercepat gerakan tangannya pada area privasinya. "Berdiri sebentar sayang," perintah Setta.


Lea segera berdiri Setta membuka resletingnya dan mengeluarkan senjatanya yang sudah berdiri menantang di arahkannya pada lobang yang sudah basah itu dan di dudukan secara perlahan benda itu masuk, Setta memejamkan matanya menikmati rasanya lubang yang sempit dan menghimpit miliknya benar-benar menguasai otaknya. "Bergeraklah sayang, keatas kebawah berikan kenikmatan yang luar biasa."


Lea yang merasa sensasi tusukan itu membuatnya tak mampu menguasai diri dia terus bergerak mencari rasa nikmat lagi-lagi dia kalah dengan lelaki ini kembali melenguh mencapai puncaknya Setta tersenyum tangan dan bibir sudah bergerilya di tubuh Lea.

__ADS_1


__ADS_2