
Setelah memakan hampir dua jam akhirnya Rega dan Dea tiba di hotel itu. Tidak butuh waktu lama mereka pun mendapatkan key card mereka menuju kamarnya mereka di lantai lima.
Mereka pun memasuki lift yang kemudian bergerak membawa mereka ke atas. Tak lama kemudian pintu terbuka mereka pun keluar. Rega rasanya sudah tidak sabar untuk melalui hal yang terindah yang sudah sepuluh tahun tidak pernah merasakannya lagi.
Mereka sampai di depan pintu kamar hotel. Rega membukanya dan segera mengajak masuk istrinya itu lalu menguncinya.
Begitu sampai di dalam dia pun memeluk istrinya sambil menarik resleting di belakang gaun Dea ke bawah, kemudian menatap bibir wanita yang sejak kemarin menggodanya untuk diciumnya. Rega semakin mendekatkan bibirnya pada bibir wanita itu, sungguh membuat jantungnya berdetak dengan sangat kencang.
Rega menautkan bibirnya pada bibir Dea dan menikmati rasa yang ia rindukan sejak lama, hingga mampu membawa wanita itu kedalam peraduan. Rega mulai memimpin permainan dengan sangat lihainya memberikan kesenangan pada wanita hingga terdengar alunan merdu dibibir Dea menandakan rasa nikmat yang luar biasa semakin lama semakin menggebu dan pria itu mencapai puncaknya. Dea merasakan cairan hangat membasahi rahimnya, air matanya mengalir membasahi pipinya dia teringat buah hati yang dulu tidak dapat dilindungi. Rega menatap wanita yang ada di bawahnya di kecupnya keningnya tanpa melepaskan tautan lalu berbisik.
"Jangan menangis, semoga saja ini akan segera jadi, aku ingin sekali mempunyai anak perempuan andaipun bukan perempuan kita akan mencoba lagi untuk mendapatkannya."
Dea terkekeh. "Berapa kali kita mencoba untuk mendapatkan anak perempuan jika empat kali aku hamil dan lahir laki-laki apakah kau masih ingin aku hamil lagi Mas Re."
"Hem, tapi aku berharap ini anak perempuan agar kau tak perlu hamil berkali-kali untuk mendapatkan anak perempuan, cukup melakukan aktivitas ini saja yang kita ulang berkali-kali," katanya sambil terkekeh dia melepaskan tautannya dan menggulir tubuhnya kesamping istrinya dan memeluk tubuh polos itu dengan rasa cinta.
.
.
Lima hari telah terlewati setelah pernikahan Dea dan Rega, Lea semakin gelisah karena Daddy itu sama sekali tidak masuk kerja, hatinya mulai cemas, dia takut sang Daddy mengingkari janjinya untuk menikahinya.
Hari-hari selama berada begitu panjang, bahkan dari tadi dia kena tegur oleh Zein sang wakil CEO, dan harus mengulang File yang telah di kerjakannya.
Zein melihat kegalauan yang ada di hati Lea, tetapi dia tidak ingin memberikan perhatian pada gadis itu, karena Zein berfikir bahwa kesendirian adalah yang terbaik buat gadis itu.
__ADS_1
Jam dinding pun berputar dengan cepat menunjukan waktu pulang kerja, Lea dengan lesu membereskan meja kerjanya lalu menyambar tasnya dan berjalan dengan lesu keluar dari ruangan berjalan masuk kedalam lift.
'Om Rega saja mengajak tante Dea untuk merundingkan pernikahannya tapi Daddy ... ahh,' batin Lea resah.
Tak terasa dia sudah sampai di lantai dasar, pintu lift pun terbuka, dan dia berjalan keluar melewati lobby menuju area parkir dan menaiki motornya.
Tanpa dia tau setiap hari Setta memantaunya dari CCTV yang terhubung dengan handphonenya, pria itu tersenyum menyeringai. 'Maaf aku hanya ingin tahu sebesar apa rasa cinta yang kau miliki padaku,' pikirnya.
Setta yang berada di mobil hitam tak jauh dari Lea memakirkan motornya menyaksikan kepergian gadis itu dengan kendaraan roda duanya itu. Setta melajukan mobilnya menuju apartemen.
Tiga puluh menit berlalu Lea sudah sampai di rumah dan memakirkan motornya di garasi samping rumah, lalu berjalan menuju pintu masuk rumah sesampainya di depan dia mengucapkan salam dan di jawab oleh Risky yang ada di ruang tamu sedang merebahkan diri di atas sofa tas kerja di taruh di atas meja.
Dia mengernyitkan dahinya ketika nampak wajah Lea yang kusut itu.
"Kenapa kamu? Jelek amat dari kemarin dan hari makin jelek," sapa Risky dengan senyum sinis.
Risky menghela nafas. 'Ada apa denganku sebenarnya, harusnya aku tidak begini andaipun aku menyatakan cintaku pada Lea belum tentu dia menerima,' pikirnya.
Lea melemparkan tasnya di atas nakas setelah berada dalam kamarnya dan menabrak sebuah kotak berukuran besar. Lea sangat terkejut, dia pun berjalan menuju nakas di bukanya kotak itu dan ada secarik kertas yang terdapat di dalam kotak tersebut.
{Hai gadis jelek, itu gaun pernikahanmu, maaf Daddy tidak bisa menemuimu karena masih ada urusan, kau cobalah dan kirim fotonya ke Daddy}
'Hais, kenapa pesannya cuma begini saja tidak ada peluk cium honey,' batinnya berharap sang Daddy bisa romantis. Kemudian dia tersenyum sendiri saat teringat dia berada di Vila dan apartemen berduaan dengan sang Daddy.
Lea mengambil gaun itu dan menempel di tubuhnya dan dengan sangat senangnya ia berputar-putar, dia kembali melipatnya lalu berjalan semangat menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Setelah tiga puluh menit Lea pun keluar dari dalam kamar mandi, dengan bath robe-nya. Entah kenapa ia ingin menggoda sang Daddy di lepaskan talinya hingga terbuka tubuh depannya lalu memotretnya dan di kirimkan ke nomer wa sang Daddy.
.
.
Saat itu Setta baru saja menyeduh kopi panasnya dan duduk di minibar di apartemen sambil membaca koran, tak lama kemudian bunyi notifikasi di handphonenya.
Dia belum menghiraukannya masih fokus dengan bacaannya, lima belas menit kemudian dia meletakan surat kabar di atas atas nakas lalu mengambil handphonenya 'Ada pesan dari Lea,' pikirnya.
Setta membuka pesan itu sambil menyeruput kopinya, saat melihat tampilan foto Lea dia terkejut dan menyemburkan kopi di mulutnya. Karena foto itu benar-benar membuatnya ingin menerkam gadis itu.
Setta mengirim sebuah pesan Wa pada gadis itu.
Setta
[ Dasar anak nakal ku suruh kau kirim foto dengan memakai busana pengantin malah kau kirim foto seperti ini, awas ya, besok setelah aku menghalalkan dirimu akan ku buat kau nangis semalaman karena sudah membangkitkan sesuatu yang ada ditubuh ku]
Lea
[ Maaf Daddy Lea iseng. Jadi ingin tahu bagaimana Daddy membuatku menangis sepanjang malam]
Setta
[ Baik tunggulah dan setelah itu jangan pernah menyesal]
__ADS_1
Selesai mengirim pesan terakhir Setta pun berlari kedalam kamar dan langsung menuju kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya yang panas.
Setelah hampir satu jam di dalam kamar mandi dia pun keluar dengan rambut basah. Setelah itu berganti pakaian.