
"Betul juga bawa sekalian tu Sean biar jadi temannya Kaila teriak-teriak di rumah," kekeh Zein.
"Mas Rega sudah siap nih jika bertemu dengan Bunda Mira?" tanya Dea pada Rega.
"Siap gak siap ya harus siap, Dek, Bukan kah mereka juga datang dadakan dan aku langsung di cerca berbagai pertanyaan," katanya sambil terkekeh.
"Tadi itu Setta katanya lagi suntuk mau kesini mau lihat anak-anak sampai sini malah minta mbak Narti bikinin kopi, eeh! Kamu datang bawa calon, ya sudah eksekusi saja" kata Zein sambil terkekeh.
"Boleh aku ngak ikut? Jadi ngeri dengar Om Zein cerita tentang Kaila," ungkap Sean.
"Oh mau dibatalkan yaa?" tanya Zein sambil menaik-turunkan alisnya.
"Oke-oke! Aku ikut demi Daddy," kata Sean tersenyum kecut.
"Memangnya kenapa? Key baik kok Sean cuma memang anaknya sedikit memaksa, kenal saja dulu anaknya lucu kok," kata Dea sambil tersenyum.
Terdengar Sean menghela nafas panjang sambil melipat tangan diatas perut. Membuat Zain tertawa terpingkal -pingkal.
"Ini belum-belum sudah di takut-takutin sama Daddy-nya Kay pasti, sudah jangan takut di sana ada Brain juga adik Kay anaknya pendiam tapi tengil juga sih," kekeh Dea.
"Kenapa semua ada tapinya Bunda, jadi ragu," kekeh Sean
Mereka tertawa melihat expresi Sean. "Sudah hadapin saja kayak Daddy, masak takut sih?" tanya sang Daddy.
"Ok! deh Sean ikut," kata Sean dengan yakin.
Rega dan Dea berpamitan pada Setta dan Zein kemudian mereka keluar dari rumahnya berjalan menuju ke mobil.
"Bunda sama Daddy di depan saja biar aku duduk di tengah sendiri saja," kata Sean mencegah Dea duduk di kursi tengah bersama dengan dirinya.
Dea pun duduk di depan bersama Rega, lalu pria itu menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menembus jalanan.
"Dek, aku gak tahu jalanya loh, kasih tahu ya nanti belok kemana." katanya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Baik, beres aku akan menjadi petunjuk jalanmu mas, biar di jalur yang benar," katanya sambil terkekeh.
Dua puluh menit dalam perjalanan akhirnya sampai di rumah bunda Mira, seorang sekuriti membukakan pintu untuk mereka dan mobil pun berjalan memasuki pintu gerbang dan berhenti di halaman depan rumahnya Bunda Mira.
Mereka pun keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk rumah bunda Mira. Dea memencet bel dan tidak seberapa lama terdengar derap kaki yang berlari dan pintu pun terbuka.
Seorang gadis kecil muncul dengan senyuman merekah di bibirnya. Mata indah terbelalak saat tahu siapa yang datang.
"Bunda, dengan siapa? Ini kakak siapa? Ehh, lupa ayo masuk dulu, Bunda, Om, Kak!"
"Bunda Cari siapa? Mama apa Grandma?" tanya Gadis kecil itu
"Cari Grandma, dong sayang," jawab bunda Dea.
"Waduh, Grandma lagi nonton drakor, gak bisa diganggu, Bun," katanya sambil menepuk dahinya, tingkah lucu gadis itu membuat Dea dan Rega tertawa tapi tidak dengan Sean yang sudah merasakan hawa-hawa menyeramkan.
Terdengar suara dari dalam memprotes apa yang dikatakan Kaila. "Siapa yang gak bisa diganggu?" Sambil berkacak pinggang menatap Kayla, gadis itu tertawa sambil menggaruk rambutnya dan menengok ke kiri dan ke kanan. "Siapa ya yang gak mau diganggu?" tanyanya pada diri sendiri lalu melirik grandma-nya kemudian terkikik lalu berjalan ke arah Sean. "Ayo ikut aku kalau tak ingin dapat muntahan lahar panas," katanya lirih sambil menarik tangan anak lelaki itu.
"Apa Kay? Kau bilang apa?" tanya Grandma
Melihat tingkah lucu Kaila membuat Dea tertawa, Bunda mawar menatap Dea. Ini sepertinya ada yang mau di sampaikan dan itu sangat penting," katanya sambil tersenyum.
Dea Berjalan mendekati bunda Mira, lalu memeluk dengan erat perempuan sepuh itu adalah pengganti ibunya yang telah meninggal.
"Ayo ada apa? Ini siapa?" tanyanya pada Dea sambil menatap pria yang ada di sebelah Dea.
"Bunda duduk dulu nanti saya cerita tetang siapa yang ada di samping saya ini," kata Dea
Bunda Mira duduk di sofa di depan mereka. "Ayo ceritakan sebenarnya, apa yang kau sampaikan?" tuntut Bunda Mira
Dea tersenyum menghilangkan rasa tegangnya. "Kenalkan Bunda ini Rega, di--" Rega menyentuh punggung tangan Dea dan berkata, "Biar aku saja yang menjelaskannya, Hem," pinta Rega pada Dea dan wanita itu tersenyum dan mengangguk.
"Maaf biar saya jelaskan, nama saya Rega, kedatangan saya bersama Adik, guna meminta restu pada Bunda, saya mencintai Dea dan ingin menjalani ikatan yang halal," katanya dengan sangat tenang.
__ADS_1
"Ok! Sekarang bunda mau tanya, apa kamu tahu masa lalu dia?" tanya Bunda
"Saya tahu Bun," jawabnya.
"Kamu menerimanya?" tanya Bunda.
"Saya tidak mempermasalahkan itu saya melihat Dea yang sekarang bukan yang dulu, Bun, Jika Bunda menyetujui saya akan menyegerakannya, karena selain saya cinta sama Dea saya juga seorang duda satu anak, dan jiwa keibuannya itu membuat saya semakin yakin kalau Dea yang terbaik buat saya, saya janji Bun akan membahagiakannya."
Bunda Mira menghela nafas lalu menatap sendu wanita yang 19 tahun yang meraung menangis
dan meratapi anaknya yang telah tiada, dan selama satu tahun harus harus menjalani terapi oleh spikiater.
"Sejatinya Bunda akan selalu setuju jika Dea sendiri mantap untuk membina rumah tangga, jadi, apakah kau siap dan bersedia jika rega menginginkan untuk hidup berumah tangga.
"Saya siap Bun," katanya sambil menunduk.
"Kalau begitu Bunda setuju saja bahkan Bunda sangat gembira karena putri Bunda sudah bisa move on, untuk rencana pernikahan kalian kalian rundingkan sendiri saja, kapan dan Bunda akan senang hati menghadirinya," kata Bunda Mira.
"Trimakasih Bun, saya sangat bahagia Bunda merestui kami," kata Rega pada Bunda Mira.
"Pesan Bunda jangan pernah sakiti dia, jika sampai dia mengeluh sedikit saja tentang kamu maka Bunda tidak segan-segan memukul kepalamu, Rega," ancam bunda Mira.
"Ampun Bun saya akan berusaha membahagiakan dik Dea," kata Rega.
"Ya, Bunda percaya pada kesungguhan kamu, dan Bunda yakin kamu bisa menjaga dan membahagiakan putri Bunda," katanya lagi.
"Loh ini kenapa belum di buatkan minuman yaa, Bik! Mana minumannya, kok lama sekali," gerutu Bunda Mira.
Tak lama kemudian Art membawakan minuman dan makanan untuk Dea dan Rega.
"Sebenarnya tidak perlu seperti ini Bun, direstui saja kami sudah senang," kata Rega.
"Sudah, jangan menolak, hukumnya wajib untuk menjamu tamu," kata Bunda Mira.
__ADS_1
"Kami bukan tamu, Bun," jawab Dea
"Kamu memang bukan tamu tapi dia adalah tamu karena belum menjadi keluarga besar kami," katanya sambil terkekeh.