Pesona Cinta Semu

Pesona Cinta Semu
Bab 55


__ADS_3

Tujuh hari kemudian, saat Setta baru saja terbangun dari tidurnya seseorang mengetuk pintunya. Dia melihat masih jam delapan pagi.


Dengan malasnya dia bagun dari ranjang berjalan ke luar menuju pintu, saat pintu terbuka dia terkejut, pak Munip yang meminjamkan uang dengan sertifikat tanah dan bangunan perusahaan.


"Ada apa pak Munif? bukankah saya sudah bilang yang bertanggung jawab membayar hutang ini adalah Arga?" tanya Setta pada pak Munif


"Pak Arga tidak mau bertanggung jawab atas hutang anda dan satu hari bunga adalah sekian pak, jika Anda tidak segera membayar dalam tempo satu bulan saya pastikan hutang Anda akan semakin membengkak," jelas pak munif.


"Kenapa begitu besar bunganya pak? Kata Arga bunganya hanya sekian," tanya Setta bingung.


"Berarti, pak Arga, tidak jujur pada Anda, Pak," jawab pak Munif.


Setta menyugar rambutnya frustasi. Dia tidak mengira bahwa orang yang dianggap baik itu menikamnya dari belakang.


"Baik tolong tangguhkan hingga satu bulan, Pak. Saya akan segera melunasinya," kata Setta sambil meraup kasar wajahnya.


"Ada solusi yang lebih baik, perusahaan Anda adalah perusahaan mandi tanpa bermitra, 100 % saham milik Anda sepenuhnya, bagaimana jika hutang Anda beserta bunganya di tukar dengan saham sebesar 40% ," tawar pak Munif.


"Saya keberatan, Pak, uang yang saya pinjam beserta bunganya tidak mencapai 40% saham mungkin saya bisa memberikan 30% saja.


"Saya menginginkan 40% jika Anda menolaknya kesepakatan tetap di awal," kata pak Munif dengan hati kecewa.

__ADS_1


"Baiklah, Pak, tidak apa-apa dan saya usahakan segera membayarnya, maaf saya tidak bisa memberikan 40% saham untuk kompensasinya," ucap Setta sopan.


"Tidak apa-apa, Pak Setta, saya bisa memaklumi itu, kalau begitu saya mau pamit dulu, Pak," ucap Pak munif.


Setta mengangguk dan mengantarkan sampai di teras rumah. Pak Munif masuk dalam mobilnya dan berjalan meninggalkan rumah Setta.


Baru saja dia masuk dan menutup pintu terdengar deru mobil berhenti tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu rumah, Setta kembali membuka pintu ternyata pegawai Bank dimana dia meminjam uang.


Remaja itu menguatkan hati dan rasa ketakutan untuk kehilangan banyak hal dalam hidupnya, cinta dalam hatinya sudah terbang jauh, menguap dari hati, mungkin pria remaja itu tak lagi sanggup mencintai untuk waktu yang panjang.


Kedatangan kedua pria paruh baya itu bisa dia tebak terjadi sesuatu atas apa yang dia percayakan kepada Sinta kekasih yang dengan teganya mengkhianatinya saat dia punya niatan yang baik, andai saja gadis itu mengatakan bahwa dia mencintai pria lain maka dia tidak akan melangka sejauh ini dan berakhir dengan kepedihan yang mendalam.


Setta mempersilakan mereka untuk masuk, mereka pun duduk di sofa dan menjelaskan pada Setta soal kedatangan mereka ke sini


"Masuk dulu, Pak, kita bicara di dalam," ajak Setta pada petugas itu.


Dua petugas itu masuk dan duduk di sofa. Setta menghela nafas satu kenyataan lagi, Sinta sang kekasih pun tak perna membayarkan angsuran hutangnya pada Bank. Uang yang dia berikan pada gadis itu entah kemana.


Setta merasa sedih ternyata orang yang paling terdekat dengannya. Bagaimana pun juga semua sudah terjadi, yang bisa dilakukan adalah mengatasi masalah.


"Kami hanya memberikan tahu bahwa Anda sudah menunggak selama tiga bulan, kami akan mengeklaim rumah ini menjadi milik Bank," kata pegawai Bank itu.

__ADS_1


"Beri waktu saya akhir bulan ini akan saya lunasi pak," janji Setta.


"Baik Nak Setta akan kami tunggu sampai akhir bulan ini," jawab pegawai bank.


Setelah mendapatkan kesepakatan yang baik mereka akhirnya pergi dari rumah Setta.


Setelah kepergian pegawai Bank, Setta bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu berganti pakaian yang rapi diapun bergegas keluar rumah dengan mengendarai mobilnya menuju showroom untuk menjual mobilnya, setelah itu dia pergi ke bank dan melunasi hutangnya, lalu kemudian dia menuju layanan jasa menjual rumah atau tanah untuk menjual rumahnya, "Aku harus bangkit." Itu kata hati Setta.


Masih dalam suasana duka dia menyelamatkan perusahaan ayahnya yang sudah susah payah dia kembangkan di saat masih usia belia, insting dalam berwirausaha sangat bagus walaupun perusahaan itu belum terlalu besar tetapi bisa di jadikan tempat bergantung untuk mendapatkan rezeki di sana.


Di ruang kerjanya dia mengundang Zein dan Pak Nugroho orang kepercayaan ayahnya sebagai staf tertinggi bagian keuangan itu.


"Pak Nug, berapa keuangan kita? Saya punya hutang sekitar 2 M dan sekarang bertambah 2,5 M. setelah kita membayar sekian apa bisa menggaji karyawan?


"Begini, Nak, keuangan perusahaan sebesar 4 M dan biaya gaji sebesar 2,5 M, kalau Nak Setta gunakan untuk membayar hutang maka untuk membayar karyawan kurang 1 M," jelas Pak Nug.


"Ok! Pak, insyaallah untuk tambahannya akan ada, saya menjual rumah semoga dalam waktu dekat terjual," kata Setta dengan helaan nafas berat.


"Kalau begitu sekarang juga kita berangkat, Pak Nuk bisa siapkan uang sekarang juga kan?" tanya Zein.


"Jika untuk transfer kita hanya 1M, maka prosedurnya lama, bisa makan waktu sekitar dua jam," kata Pak Nuk.

__ADS_1


"Ngak apa-apa ayo kita ke bank dulu kalau begitu, sambil menunggu Pak Irwan," kata Setta.


__ADS_2