Pesona Cinta Semu

Pesona Cinta Semu
Bab 23


__ADS_3

Lalu Setta bangun dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri pria itu, lalu berjabat tangan. "Aku tahu kamu siapa, aku tidak akan menghalangi mu, jika kau benar-benar tulus pada Dea," ungkap Setta sambil mengajaknya berbicara di tempat lain. mereka duduk di gasebo depan rumah.


"Aku sangat tulus pada Dea walaupun sesungguhnya aku datang kemari untuk memenuhi keinginan kakak ku untuk menjaganya seumur hidupnya, tetapi setelah mengenalnya aku jatuh cinta dan serius pada dia serta menikahinya menjadi ratu di hatiku untuk selamanya, tolong percaya lah dan terima aku menjadi suaminya, aku meminta pada sahabatnya yang selama ini yang menghapus air mata saat dia sedih dan menguatkannya saat terpuruk," pinta Rega.


"Apa kau akan merahasiakan selamanya?" tanya Setta pada pria itu.


"Aku ingin mengatakannya, tetapi aku takut dia membenciku," kata Rega.


"Lebih baik kau katakan padanya siapa kamu, pelan-pelan saja nanti akan ku pancing dia, jika kau berkata jujur apakah dia mau menerima mu atau tidak, setelah itu putuskan merahasiakan atau berterus terang," kata Setta pada Rega.


"Baiklah aku hanya takut dia tidak bisa menerimaku karena aku adik kak Arga padahal aku sudah sangat mencintainya putraku juga berharap aku bisa jadikan dia menjadi bundanya," kata Rega menunduk.


"Ada yang ingin ku katakan padamu tentang aku dan Relea, aku berniat menikahinya dan aku ingin engkau menjadi wali nikahnya, aku sudah bilang padanya menunggu aku bisa menemukan omnya, baru bisa menikahinya. Namun, kami tidak akan bisa menikah sebelum kau menikahi Dea. Apa kau paham?" tanya Setta pada Rega.


"Aku paham itu sebabnya aku memintamu merestui ku jika aku mendapatkan restu dari ke tiga orang yang terpenting untuknya dia baru mau menikah denganku," kata Rega pada Setta.


"Kau betul, ayo kembali ke dalam," kata Setta bangkit dari duduknya dan berjalan terlebih dahulu memasuki rumah dan diikuti oleh Rega.


"Apa kau menunggu di sini atau ikut di kebun belakang?" tanya Setta saat mereka sudah ada di raung tamu.


"Aku ikut kebelakang, aku ingin tahu ada apa sajakah di kebun belakang?" tanya Rega pada Setta.


Mereka masuk kedalam melewati ruang tengah yang hanya terhampar karpet lalu dapur yang terlihat dua orang wanita yang sibuk mengolah makanan Dea dan satu lagi Rega tidak mengenalnya, mata elang Rega menatap wanita yang sedang menyiapkan makanan kecil dan minuman di atas nampan, hingga tak sadar dia menghentikan langkahnya.


Setta menyadari itu tersenyum.


"Dea, kamu bawa ke kebun belakang, kita lagi menyusul Zein dan Sean di sana!" perintah Setta.

__ADS_1


Dea mendongak mencari suara itu. "Ehh, aku kira ada diluar mau ku bawa kesana." Senyum hangat menyapa mereka berdua.


"Ayo, jangan bengong! Kamu masih harus melewati dua orang lagi agar bisa menikahinya," katanya pada Rega


Dea tertawa sambil berjalan di belakang mereka. Melewati pintu belakang rumah akhirnya mereka sampai di kebun seluas dua hektar itu, ada beberapa sayuran yang di tanam di sana, yang merawat juga anak-anak panti. Ketika panen mereka membawa sebagian hasil kebun ke pasar untuk di jual dan sudah ada menampung hasil panen mereka karena kualitas panennya bagus.


"Tak lama kemudian mereka sudah sampai di tempat di mana Zein dan Sean berada dan mereka melihat Sean sudah nangkring di atas pohon kelengkeng yang tidak terlalu tinggi, dan siapa lagi kalau bukan Zein pelakunya, menggendong dan mendudukkan anak itu diatas dahan.


Melihat dua orang berbeda usia berbicara dengan akrabnya sambil memakan buah kelengkeng itu membuat mereka tertawa, karena tidak henti-hentinya Sean merayu Zein untuk bisa menyetujui Dea menjadi Bundanya.


"Zain giliran mu!" teriak Setta pada Zein.


"Aku sedang dirayu anaknya," kekeh Zein menoleh pada mereka lalu kembali melihat bocah usia sembilan tahun itu tengah menatap dengan tatapan memohon padanya.


"Ok! Boy berdoa saja apakah Daddy mu bisa menjawab semua pertanyaan ku, jika dia bisa menjawab, keinginan mu akan terpenuhi," katanya pada bocah itu.


Zein berjalan menghampiri mereka yang duduk di kursi taman, lalu menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi besi yang diatasnya terdapat atap gafalung itu.


"Aku perlu kalian berdua untuk menjawabnya tidak seperti Setta yang hanya memberikan pertanyaan pada prianya saja aku juga butuh jawaban dari kamu, ini sifatnya umum jadi kamu gak usah pergi, Ta," katanya sambil tertawa.


"Ok! Aku ingin tahu apa yang akan kau tanyakan pada mereka," jawab Setta.


Zein menarik nafas dan menghembuskan perlahan.


"Apa kau sudah tau masa lalu Dea?" tanya Zain.


"Sudah dan aku menerimanya andai pun dia tidak cerita aku tetap menerimanya," kata Rega pada Zein.

__ADS_1


"Kalau melihat wajahmu secara detail, kamu sedikit mirip dengan Almarhum Arga, apakah itu yang membuatmu menerimanya, Dea? Apa kau juga sama dengan Setta yang tidak bisa move on dari Sinta?" tanya Zein pada Dea.


Dea menghembuskan nafas. "Justru karena itu awalnya aku malas bertemu dengannya, Zein, tapi dia menggunakan Sean untuk bisa dekat denganku," kata Dea sambil mengenang awal pertemuan mereka.


"Wah kau cerdik juga ya, tahu kelemahan Dea. dia itu paling lemah kalau disodorkan pada anak kecil," kata zein pada Rega.


Zein menatap Dea lalu meraih jemari Dea dan berkata," Apa kau sudah bisa mencintainya?"


"Aku tidak tahu hanya saja aku merasa nyaman dengannya Zein," jawab Dea pada Zein


Lalu Zein menatap Rega. "Begitu lah perasaan Dea padamu, Ga, apa kau bisa menerimanya karena kau akan berjuang lebih keras untuk meyakinkannya bahwa dirimu tidak seperti Arga, ahh, namamu juga mirip dia kadang jadi sebal sendiri semoga Dea tidak begitu," kata Zein pada akhirnya membuat Setta yang tahu siapa Rega tertawa.


"Sudah bisa tertawa yaa, andai yang ada di hadapanmu ini adalah Arga mungkin sudah babak belur dia olehmu," ledek Zein pada Setta dan pria itu hanya tersenyum.


Zein menatap Dea apa kau mau jika dia berniat menikahi mu aku sih tergantung padamu Dea," kata Zein lagi dan Dea mengangguk.


"Jangan menggangguk saja! Rega itu menantikan jawabanmu, kamu bukan anak SMA yang usianya 18 tahun tapi sudah 38 tahun," timpal Setta.


Dea menatap tajam Setta yang duduk disebelanya dan memukul bahunya membuat pria itu terkekeh.


Lalu Dea menatap Rega dan berkata lirih, "Jika kau serius padaku aku menerima mu." Lalu menunduk tajam.


"Rega belum dengar, yang dengar cuma aku, Setta juga gak dengar karena kami gak tahu kamu ngomong sama siapa?" kata Zein menggoda Dea.


"Apaan si kalian, kenapa jadi menyebalkan semua," gerutu Dea sambil melepaskan pegangan tangannya dari Zein.


"Kamu pegang-pegang tangan aku begini apa Ratna gak cemburu, nanti kalau cemburu aku gak dapet diskon 20% persen kalau pas beli baju ke butiknya," kata Dea sambil tersenyum.

__ADS_1


"Bukan Ratna yang cemburu tapi pria yang ada di sebelahku ini yang cemburu dari tadi aku dengar dia terus menghela nafas sambil melirik tanganku yang tidak mau melepaskan tanganmu, Dea," katanya tertawa.


__ADS_2