
Terpaksa tinggal bersama sang sahabat, Naila Maharani tidak pernah menyangka kalau dia akan menjadi pelampiasan nafsu suami sahabatnya.
Karena Juwita, sahabat baiknya pergi dari rumah demi jabatan pekerjaan yang sangat diutamakan. Padahal sang suami sudah melarangnya.
Sehingga Naila yang menanggung pelampiassan suami sahabatnya. Bahkan kesucian yang selama ini dia jaga, direnggut paksa dengan sangat kejam oleh suami sahabatnya yang dulunya adalah pacarnya.
Karena peristiwa tersebut, Naila mengandung anak dari suami sahabatnya, tanpa sepengetahuan Juwita.
Sepertinya apakah kisahnya? Yuk simak kisahnya sampai Tamat~
Bab 1
Kehilangan Segalanya
Pov Naila
Aku menatap hampa dua jenazah yang terbujur kaku di ruangan tamu, baru tadi pagi aku berjumpa dengan mereka. Namun, siang ini mereka berada di sini dalam keadaan tidak bernyawa.
Rumahku sudah penuh dengan orang-orang yang membantu memandikan kedua jenazah orang tuaku. Tungkai kakiku terasa lemas, tak sanggup lagi untuk berdiri, airmata bercucuran tak berhenti menangis.
"mama, papa, kenapa kau meninggalkanku? Aku hidup dengan siapa?" teriakku pedih
"Nai, tambahkan hatimu, ikhlaskan kepergian mereka masih ada aku sahabatmu, ada Bang Bayu juga, dia tidak akan tegah membiarkanmu sendirian," kata Juwita menguatkan hati sahabatnya itu.
Aku hanya terdiam, tak mampu untuk menjawab atau sekedar mengangguk.
Tiga puluh menit kemudian penduduk membawa kedua jenazah orang tuaku ke masjid untuk disholatkan, aku melangkah dengan gontai mengikuti iringan jenazah. Sahabatku Juwita menopang bahuku dengan tangannya agar aku tidak terhuyung kebelakang.
Setelah disholatkan, mereka dibawah ke tempat pemakaman, aku menatap prosesi pemakaman dengan hati hancur.
Aku masih terduduk di depan kedua gundukan tanah yang masih basah, ingin rasanya aku ikut kedua orang tuaku. Aku tidak sanggup hidup lagi, masih teringat olehku derai tawa mereka tadi pagi, dan siang hari aku mendapatkan telpon rumah sakit bawah telah terjadi kecelakaan kepada mereka.
Baru kemarin aku pulang dari Jerman setelah menyelesaikan S3 ku di sana, tak kusangkah aku hanya sehari saja melepas rindu kemudian mereka pergi untuk selamanya.
__ADS_1
"Nai, ayo kita pulang! Hari mulai petang, aku dan Mas Bayu akan menginap hari ini di rumahmu," kata Juwita sambil menatap suaminya. Mas Bayu hanya mengangguk tidak berani menentang keinginan istrinya itu.
Kami bertiga pun berjalan pulang, tak terasa kami sudah sampai.
"Wit, Kalau kamu mau pulang dengan Mas Bayu tidak apa-apa, aku akan di temani Bik Mirna," kataku menyakinkan sahabatku itu. Bagaimana pun aku harus menghindari pertemuan yang terlalu intens dengan Mas Bayu, pasalnya sebelum menikah dengan Juwita sahabatku, dia adalah kekasihku dan Juwita tidak pernah tahu itu.
Aku meninggalkannya untuk mengejar beasiswa S2 di Jerman. Ketika aku sudah lulus, aku mendengar dia sudah menikah dengan sahabatku sebulan setelah kepergianku. Aku patah hati hingga memutuskan untuk melanjutkan S3 ku. Setelah lulus dari S3, aku tidak serta merta pulang ke rumah. Aku bekerja di perusahaan swasta di sana, orang tuaku akhirnya memintaku kembali ke Indonesia.
"Tidak! Aku akan menemanimu di sini, jangan pernah menolak ku! Karena aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan mu," katanya tegas
"Terserah padamu, aku tidak ingin memaksa kalian untuk tinggal di sini, maaf aku ingin ke kamar dulu. Tolong jangan sungkan jika kalian lapar silahkan makan duluan!" pintaku sebelum melangkahkan kakiku pergi meninggalkan mereka.
Mas Bayu menatapku sendu, hari ini lah Pertama kalinya aku bertemu kembali dengannya, setelah lima tahun tidak bertemu. Aku tidak bisa memungkirinya bahwa aku masih sangat mencintainya, aku tidak sanggup menatap matanya.
Aku masuk ke dalam kamarku, ku hempaskan tubuh ku di atas ranjang, aku tidak mengira kehidupan akan seperti ini. ku pejamkan mataku, aku ingin ini hanya sebuah mimpi, saat ku buka kembali mata ini mereka masih hidup dan bisa memeluknya kembali.
Aku menangis, ku tumpahkan semua kesedihanku pada bantal yang tidak berdosa. Ku telungkupkan tubuhku dan air mataku tidak berhenti mengalir. Lelah menangis aku pun tertidur.
.
.
.
Seketika mata ku terbelalak, di depanku sudah berdiri mas Bayu yang tengah memindahi sekujur tubuhku.
"Baru Bangun?" tanyanya padaku.
"Hem, iya, apa ini sudah pagi?" tanyaku tak percaya mungkin saja ini masih jam enam sore, tetapi tidak mungkin karena merasa begitu lelap tertidur.
Dia tertawa. "Iya, apa kau tidak melihat matahari bersinar?" tanyanya balik sambil menunjuk jendela kaca kamarku yang tidak tertutup tirai.
Aku menoleh kebelakang dan menggaruk tengkukku yang tidak gatal sambil tertawa.
"Kami akan menunggu mu di ruang makan. Juwita sudah membuat sarapan pagi, lekaslah bersihkan tubuhmu! Kau seperti gadis yang tidak mandi seminggu," katanya sambil pergi dari hadapanku dan berjalan menuju meja makan.
__ADS_1
Aku menghelah nafas berat. "Dia mengatai ku," dengusku lirih sambil berjalan menuju kamar mandi. Setelah membersihkan tubuh, berganti pakaian dan sholat lalu aku keluar menghampiri mereka yang telah menungguku di meja makan.
"Ini semua kamu yang masak, Wit?" tanyaku menghidupkan suasana
"Iya, aku yang masak," jawabnya tersenyum sambil mengambilkan makanan untuk mas Bayu suaminya.
"Loh, kemana bik Mirna? Kenapa tidak membantumu?" tanyaku kembali sambil mengambil makanan dan menaruhnya di piring.
"Bik Mirna kemarin sore pamit pulang kampung, katanya suaminya masuk rumah sakit, aku ngak tegah bangunin kamu, jadi aku ijinkan saja," jawab Juwita padaku
"Iya, ngak apa-apa, cuma aku jadi tidak bisa memberinya uang saku, aku sedih kenapa musibah seolah tidak berhenti menimpa. Setelah orang tuaku sekarang suami bik Mirna," jawabku sambil mengaduk makananku, rasanya aku sudah tak punya selera makan.
Mas Bayu melihat apapun yang ku lakukan. Sorot matanya masih seperti dulu, seolah menyimpan kerinduan yang sangat dalam padaku.
"Dek kenapa kau katakan sekarang? harusnya kau menahan diri menunggu Naila selesai makan. Lihatlah! Dia sekarang tidak berselera makan lagi karena mendengar berita itu," tegur Mas Bayu pada istrinya.
"Maaf, Mas, Nai, kau harus makan!" perintah Juwita.
.
.
Tiga puluh menit setelah sarapan, terdengar suara orang yang bersitegang di luar, membuatku mempunyai keinginan untuk melihat apa yang terjadi.
"Loh-loh, kenapa ini, ribut-ribut? Kepentingan Bapak-bapak apa?" tanyaku dengan nada yang sedikit tinggi.
"Maaf Mbak rumah sudah bukan milik Mbak lagi karena rumah ini sudah di jadikan jaminan untuk peminjaman Dana oleh pak Sutoyo kepada tuan Ranfir, beliau ingin Anda mengosongkan segera rumah ini!" kata pria itu dengan tegas
"Tolong berikan saya satu Minggu saja untuk sampai acara tujuh hari wafatnya orang tua saya selesai," pinta Naila pada
"Kami tidak bisa Mbak, kami sudah memberikan waktu yang panjang, dan ini sudah batas waktunya mbak, kami hanya bisa memberikan waktu 1 jam mulai sekarang," kata orang-orang suruan tuan Ranfir itu.
"Apa hanya satu jam, yang benar saja, Pak?" tanyaku frustasi.
Juwita yang menyusul keluar menangkap tubuhku yang terhuyung kebelakang.
__ADS_1