Pesona Cinta Semu

Pesona Cinta Semu
Bab 40


__ADS_3

Setelah prosesi pernikahan selesai, Setta berpamitan untuk membawa Lea pergi dari rumah, itu, koper telah di masukan dalam bagasi mobil. Mereka pun masuk kedalam dan mobil berjalan dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah itu dan jamuan makan pesta alakadarnya.


"Dadd, kenapa buru-buru pergi, Lea kan belum makan,"kata gadis itu sambil cemberut.


"Nanti kita mampir makan di restoran apa sekarang sudah lapar?" tanya Setta.


"Hem," jawab Lea pasalnya dia sangat kecewa karena tidak ada pesta dan sang daddy pun tak memberikan kesempatan untuk menikmati pesta kecil yang di adakan di rumah, sungguh suatu hal yang benar-benar mengecewakannya.


"Apa kau marah karena Daddy tidak membuat pesta pernikahan untuk kita?" tanya seta.


"Bukan marah Daddy tapi kecewa saja, aku kan juga ingin pamer suami ke teman-temanku tapi nyatanya tidak bisa," jawab Lea sambil menatap keluar Jendela.


Setta tertawa. "Apa perlunya pamer? yang terpenting kita sudah menikah Lea, Daddy tidak ingin selalu menyentuhmu tanpa ikatan yang sakral, kita bisa buat pesta sendiri bukan, kau mau kemana akan Daddy turuti."


"Benarkah?" tanya Lea sambil menatap sang Daddy.


"Hem," jawab Setta yang sedang fokus menyetir.


"Dad, kita tinggal di mana? kenapa arahnya bukan ke apartemen?" tanya Lea.


"Kau akan tinggal di vila dan mulai sekarang kau sudah tidak lagi bekerja sebagai sekertarisku dan aku sudah mendaftar mu di universitas ternama letaknya akan lebih dekat di jangkau melalui Vila," jelas Setta.


"Dad, kenapa cuma aku, bukan kita?" tanya Lea menatap sang Daddy.


"Karena Vila itu sudah jadi milikmu Lea dan Daddy tidak mungkin tinggal di sana karena terlalu jauh dari kantor Daddy," jawab Setta.

__ADS_1


"Berhenti, Dadd! Atau Lea lompat dari mobil Daddy!" teriak Lea.


"Tenangkan hatimu Lea, Daddy belum selesai berbicara," kata Setta dengan tenang.


"Bagaimana Lea bisa tenang, Lea bersedia menikah dengan Daddy karena Lea itu Cinta pada Daddy bukan karena ingin punya Vila, apa gunanya menikah jika Daddy justru menjauhi Lea?" tanya Lea pada Setta.


"Daddy akan datang ke sana saat Daddy rindu, kau juga harus fokus dengan kuliahmu, ada perusahaan yang harus kamu tangani setelah lulus kuliah," kata Setta tenang


"Bagaimana kalau Lea yang rindu, kenapa Daddy begitu egois memutuskan sesuatu tanpa bertanya bertanya pada Lea, yang Lea inginkan bukan seperti itu Daddy, yang Lea inginkan adalah selalu dengan Daddy," kata Lea sambil menangis.


Setta menghentikan mobilnya di pinggir jalan lalu melepas sabuk pengamannya, kemudian memeluk gadis itu dengan sangat erat.


"Hai harusnya kamu bahagia dengan pernikahan ini bukan menangis seperti ini, Hem. Daddy akan sering datang ke vila, kita akan memadu kasih di manapun kita berada, di sana sangat sunyi bukan, Daddy hanya ingin yang terbaik untukmu Lea," jelas Setta sambil mencium bibir gadis itu, mencoba meredah kemarahan gadis itu.


Lea membalas ciuman itu, semakin lama semakin menuntut hingga mereka kehabisan nafas dan melepaskan tautannya dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Kurang berapa jam kita sampai Dad?" tanya Lea sambil melihat wajah sang Daddy sepertinya sudah tidak nyaman.


"Sekitar satu jam kita akan sampai, jika kita sedikit mengebut mungkin hanya tiga puluh menitan," jawab Setta kembali mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak lama kemudian mereka sudah sampai, mereka di sambut oleh pak Rahmat sekuriti yang merangkap supir.


Setta keluar dari mobil di ikuti oleh Lea. "Pak tolong bawa koper nyonya di kamar utama ya," perintah Setta pada pak Rahmat.


"Baik, Tuan," jawab lelaki paruh baya itu.


Setta menggamit pinggang gadis itu berjalan memasuki Vila tersebut lalu mengajaknya menuju meja makan.

__ADS_1


Di atas meja makan telah tersaji berbagai makanan yang menjadi favorit dari Lea.


"Bagaimana? Apa kau suka?" tanyanya sambil menggeret kursi untuk Lea.


"Bagaimana bisa Daddy tahu kalau semua ini adalah makanan kesukaan Lea?" tanya Lea.


"Tentu saja Daddy tahu dan harus tahu, sudah cepat makan dan makanlah yang banyak agar kau punya tenaga untuk nanti," jawab Setta ambigu sambil duduk di sebelah Lea.


"Memangnya nanti ngapain Daddy?" tanya Lea pura-pura tidak mengerti apa yang di maksudkan Setta.


"Temani Daddy main bola di kamar," jawab Setta tanpa ekspresi dan dia mulai menyuapkan makanan dalam mulutnya.


Lea tertawa saja menanggapi kelakar sang Daddy. Mereka pun makan dalam diam, terlihat Setta sudah menyelesaikan makanannya, dia menoleh ke arah Lea dan berkata, "Aku akan ke ruangan kerja dulu istirahat yang cukup karena nanti malam aku akan membuatmu lelah, jadi persiapkan dengan sangat baik." lalu berdiri dan berjalan menuju ruang kerjanya kemudian mengunci pintunya.


Setta berjalan menuju meja kerjanya mengambil sebuah foto lama dimana di sana terlihat Sinta memeluk tubuhnya seolah hati dan raganya hanya untuknya tapi ternyata semua itu hanya omong kosong saja.


Teringat di saat detik-detik Sinta menghembuskan nafasnya wanita itu memintanya untuk menemuinya.


"Maafkan aku, Ta, aku tak bisa menentang keinginan orang tua kami, maaf membuatmu kehilangan segalanya, tetapi aku tidak pernah berbohong bahwa aku mencintaimu, Ta, sangat mencintai mu," kata Sinta dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Putriku menjadi pengganti ku, nikahilah dia setelah berusia delapan belas atau sembilan belas tahun, tolong jangan lukai hatinya seperti aku melukaimu, Ta, apa kau bisa berjanji padaku?" katanya pada Setta


"Kau tahu, kau telah melukaiku begitu dalam Sin, bahkan kau tegah membuat aku kehilangan harta dan orang tuaku, lalu apa yang bisa kau harapkan dari orang yang terluka seperti aku, tidak ada Sin, selain kemarahan dan kemurkaanku, Sin. Maka jangan memintaku untuk mengabulkan keinginanmu yang tidak bisa aku wujudkan, maaf," kata Setta sambil berjalan keluar.


Hatinya patah sekali lagi, dia tidak mungkin melihat wanita yang dicintainya begitu tulus pergi dengan cara yang menyakitkan, bahkan dia ingin Sinta melihat bagaimana dia membalas segala sakit hatinya pada putri satu-satunya itu.

__ADS_1


Namun takdir berkehendak lain Sinta menghembuskan nafas satu jam setelah Setta pergi dari ruangan itu dan wanita itu tiada dalam pelukan Dea sahabatnya yang pernah disakitinya.


Setta memejamkan matanya, 'Maaf, Sin lukaku belum sembuh sampai sekarang, dan nanti malam awal dari tangisan putrimu, Sinta,' batinnya lalu dia mengembalikan foto itu dalam lacinya.


__ADS_2