
Malam telah larut setelah makan malam tadi sang daddy kembali ke ruangan kerjanya, dan belum kembali ke kamar mereka, Lea semakin gelisah pasalnya sudah dari tadi ketika makan malam di mulai, dia sudah mengenakan lingerie dan sang daddy tidak menatapnya sama sekali apa yang terjadi, mengapa sang daddy seolah tak tertarik dengan dirinya dan tubuhnya, dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam, dia semakin gelisah, takut jangan-jangan hanya dia yang mencintai pria itu sementara sang daddy tidak.
Pintu terbuka terlihat sosok yang di rindukan masuk dan menatap dirinya. "Daddy!" panggilnya pelan penuh kerinduan.
"Belum tidur?" tanya sang daddy sambil memindahi tubuh sang gadis yang terlihat jelas di pelupuk matanya, dengan langkah pasti dia menghampiri gadis itu tangannya menyentuh nakal sambil berbisik ditelinga gadis itu. "Apa kau menungguku?"
Gadis itu mengangguk menatap pria itu penuh gairah, tetapi tidak berani untuk memulai.
"Sebentar ya," kata Setta melepaskan pelukan dan berjalan menuju piringan hitam menyalakan lagu yang romantis lalu melangkah menghampiri gadis itu lagi, mengajaknya berdansa dengan musik romantis gerakan tangannya disela-sela dansa membuat gadis itu kelabakan.
'Akan kuberikan semuanya di malam ini, keromantisan, sentuhan lembut hingga sentuhan membuatmu merintih kemudian menjerit lalu menangis, maka nikmatilah hari ini, sayang,' batinnya sambil tersenyum menyeringai.
Alunan musik masih mengalun tanpa di sadarinya satu persatu kain terlepas dari tubuhnya dan tangan yang kokoh itu membawanya ke ranjang, sang daddy mulai memanjakannya dengan sentuhan dan cumbuan lembut di seluruh tubuhnya yang polos itu hingga pria itu memulai masuk kedalam lubang terindah milik sang istri.
Awalnya begitu lembut lalu menghentak, membuat Lia menjerit kesakitan, tetapi itu tidak berlangsung lama karena Setta membungkamnya dengan ciumannya.
Pria itu berhenti sejenak, lalu bergerak liar dia atas tubuh Lea terus bergerak hingga mencapai puncak kenikmatan, dia pun melenguh begitu juga Lea.
Setta berhenti sejenak tak di pungkiri saat melakukan itu dengan Lea dia begitu nikmat tetapi bayangan itu selalu hadir dalam ingatan membuat rasa benci sekaligus nikmat hadir dengan bersamaan di pejamkan matanya sebentar lalu menatap gadis itu lagi.
"Apa enak?" tanyanya dengan seyuman nakal
"Hem," jawab Lea sambil mengangguk.
"Ini baru awal, sayang akan kubawa kau ketempat yang membuatmu menjerit histeris," jawabnya sambil mengigit bahu polos itu.
__ADS_1
"Ahh! Sakit Dadd," teriak sang gadis itu.
"Sakit tapi nikmat bukan, akan kuberikan kenikmatan lebih," bisik Setta yang mulai di rasuki rasa benci dia mulai mencium dengan buas membuat Lea menjerit juga merintih.
Pria itu kembali memasuki lubang dengan kasar dan menghentak-hentak dengan durasi yang cepat Lea menjerit kesakitan habis itu merintih dan melenguh, berulang kali dia berada di puncak sang daddy semakin liar tak memperdulikan keadaan Lea.
"Dad, tolong hentikan! Lea tidak kuat, ohh...! Daddy hentikan! Ahh...! Hentikan daddy!" teriaknya di sela-sela aktivitas itu.
"Bagaimana? Apa lebih nikmat?" tanya pada gadis itu, Lea menggeleng sambil air mata membasahi pipinya, Lea tidak tahu kenapa pria itu menjadi seliar itu tatapannya tajam penuh kebencian tidak seperti tadi, Lea sedikit merasa ketakutan menatap pria yang dicintainya itu berubah begitu cepat.
"Sudah ku bilang ini baru awal Lea, aku pernah bertanya padamu jika sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi di hubungan kita apa kau bertahan dan tetap mencintaiku, jawabmu kau akan tetap mencintai daddymu ini bukan? tanyanya sambil menghentakkan dengan sangat keras.
"Ahh...! I-iya Dadd, ahh...! Ampun Daddy apa salahku?" teriak Lea kembali badannya terasa remuk dan itu terasa nyeri, sangat nyeri rasanya dia tak sanggup untuk terjaga.
Air matanya semakin jatuh bercucuran. "Jadi siapkan hatimu dan tubuh mu saat aku menginginkan dan jangan pernah ceritakan hubungan ranjang kita pada siapapun, kau mengerti Lea?" tanyanya pada Lea yang sedikit shock, lalu mencium dengan lembut kemudian mencabut senjatanya dengan cepat membuat gadis itu terkejut.
Setelah itu pria itu bangun dari tubuh Lea berjalan ke arah kamar mandi dengan memunguti pakaiannya dan membawanya serta. Gemercik air terdengar di telinga Lea.
Gadis itu masih termangu tak percaya apa yang terjadi di malam ini, 'Lalu bagaimana dengan malam-malam selanjutnya apakah aku sanggup melaluinya menghadapi cinta dan sekaligus amarahnya' batinnya.
Pintu terbuka sang dadi telah memakai pakaian lengkap dan berjalan keluar dari kamar mandi lalu keluar dari kamar Utama dan menutup dengan kencang membuat Lea terjangkit.
darah merembes membasahi seprei dan matras, Lea tak sanggup bangun dari ranjangnya badan terasa lemas dia berharap darah segera berhenti, bagaimana pun dia tak ingin sang Daddy mendapatkan masalah karena ini.
Masih dengan tubuh yang lemah dia mencoba meraih handphone lalu mengirim pesan Wa pada sang Daddy.
__ADS_1
My Daddy
[ Dad, Lea pendarahan, tolong! ]
Setelah itu handphonenya terlepas dari genggamannya, kepalanya begitu berat begitu pula dengan matanya, akhirnya dia pun pingsan.
Setta berada di ruang kerjanya termangu, dia masih tak menyangka kemarahan yang selalu hadir karena teringat masa lalunya membuatnya sebuah itu, tiba-tiba saja handphone di hadapannya bergetar dia menatap sebuah pesan muncul di layar handphonenya.
Lea
[Dad, Lea pendarahan, tolong!]
Setta terbelalak, dia berdiri dan menyambar handponenya serta langsung berlari menuju kamarnya terlihat olehnya Lea pingsan dan ranjang terdapat noda darah yang sangat banyak, membuatnya panik beberapa saat lalu dia menarik nafas menghembuskan perlahan.
Dia mengambil kotak obat lalu mengeluarkan kapas dan kasa serta merenggangkan kaki Lea cukup lebar kemudian dia melihat luka Lea dia menghembuskan nafas, diserapnya darah dengan kapas tersebut tak seberapa lama berhenti. Setta bernafas lega, setidaknya gadis mendapatkan pendarahan hebat.
Setta bangun dari duduknya dan berjalan kedalam kamar mandi menyiapkan air hangat aroma terapi dan sabun cair lalu kembali ke tempat Lea kemudian menggendong tubuh polos gadis itu dan di masukan dalam bathtub berisi air hangat.
Setta menepuk lembut pipi Lea. "Lea, bangun, sayang, maaf Daddy kasar." Setta berusaha membangunkan gadis itu.
Akhirnya gadis itu pun terbangun karena merasakan nyeri di bagian sensitifnya.
"Dadd!" panggilnya saat matanya telah terbuka.
"Hem, maaf Daddy terbawa emosi," katanya sambil mencium bibir Lea dengan lembut, setelah itu menatapnya dengan hangat, sungguh kepribadian yang sangat berbeda, yang tadi dan sekarang, membuat Lea sedikit bingung tetapi hal itu membuatnya nyaman.
__ADS_1