Pesona Cinta Semu

Pesona Cinta Semu
Bab 34


__ADS_3

Relea berlari dan masuk kedalam mobil sang Daddy, sambil mengenakan sabuk pengamannya dia pun bertanya, "Kita mau kemana, Dad?"


"Ikut saja, nanti kamu juga tahu mau kemana kita," jawab Setta tanpa melihat Lea.


"Lea mencebikkan bibirnya. "Kenapa Daddy selalu tidak mau menjawab kalau Lea tanya kita mau kemana?" tanya Lea pada lelaki.


"Karena jika ku beritahu pun kau tidak akan tahu, jadi ikut saja aku tidak akan membawamu ke jurang kematian," kata Setta terkekeh


"Kita akan ke suatu tempat, dan aku akan.memperkenalkanmu pada mereka, setelah itu kita akan membahas sesuatu yang penting tentang kita," kata Setta pada Lea.


Setelah itu tidak ada percakapan apa pun Lea melihat ke luar jendela hatinya berdebar sangat kencang sebenarnya apa yang akan di bicarakan Daddy-nya padanya.


Lea melirik sang daddy, yang fokus mengemudi, hingga mobil berhenti di pemakaman umum.


"Ayo turun!" perintahnya.


Lea pun membuka pintu dan turun dari mobil dan berjalan menyusul sang Daddy. Mereka pun sampai di sebuah pusara yang bersebelahan walau terkesan sederhana namun sangat terawat. Terlihat Dady sudah memanjatkan doa pada ke dua makam begitu pula denganku, aku memanjatkan doa terbaik walaupun aku tidak tahu makam siapa ini.


Setelah selasai dengan doanya Daddy menoleh ke arahku dia berkata ini adalah makam orang tuaku, kenapa aku mengajakmu kesini karena ingin memperkenalkan mu pada mereka sebagai calon istriku," katanya sambil menggenggam tangan gadis itu.


"Maukah kau berjanji untuk tidak meninggalkanku dalam keadaan apapun di sini di depan makam ke dua orang tuaku," pintanya lagi kepada gadis itu.


"Tentu, akan ku lakukan demi untuk mu Dadd," kata Lea pada Setta.


"Ayah, Ibu, aku ke sini mau meminta ijin mu untuk menikahi gadis yang bernama Relea Melati, semoga membawa ke bahagian untukku," ucapnya di hadapan makam kedua orang tuanya.


"Ibu, Ayah, Lea berjanji menjadi istri yang baik dan selalu berusaha untuk membahagiakan Deddy dan Lea berjanji tidak akan meninggalkan Daddy walaupun dalam keadaan bagaimana pun," ucap Lea.


"Trimakasih, sayang, ayo kita pulang," ajak Setta.


"Apa kita tidak pergi ke makam orang tuaku?" tanya Lea.


"Nanti, ya, Daddy belum siap untuk pergi ke sana, tidak apa-apakan?" tanyanya sambil mencium jemari tangan gadis itu.


"Baiklah tidak apa-apa," jawab Lea dengan hati sedih.


"Jangan sedih begitu, setelah kita menikah kita akan ke sana," jawab Setta. Lea pun mengangguk walau pun hatinya kecewa, mungkin Daddy-nya mempunyai pemikiran yang berbeda dengannya memandang bahwa dirinya belum menjadi istrinya.

__ADS_1


Setta menggandeng tangan Lea berjalan menyusuri jalan setapak dan masuk ke dalam mobil, lalu menjalankannya.


Mobil berjalan terus keluar dari jalan raya menuju arah kepedesan.


Kita mau kemana, Dad?" tanya Lea.


"Apa kau tidak mengenali jalan ini Lea?" tanya Setta.


"Ini sepertinya jalan menuju Vila yang kemarin itu ya, Dad?" tanya Lea pada Setta.


"Kalau kamu jadi istrinya Daddy mau tinggal di mana? Apartemen apa Vila?" tanya Seta pada Lea.


"Kemana pun Daddy pergi Lea akan Ikut, asal sama-sama Dadd, di Vila oke, di apartemen boleh," jawab Lea.


"Kalau di gubuk derita kamu enggak?" tanyanya sambil terkekeh.


"Sudah di bilang asal sama Daddy, aku mau ," jawabnya sambil tertawa.


...----------------...


Sementara di rumah panti Dea dan Rega sedang membicarakan rencana pernikahannya.


"Aku tidak mau pesta Rega, aku hanya ingin akad nikah saja, aku trauma tetang sebuah pesta meriah yang berakhir kesedian, dan itu membuat hal yang paling berharga hilang dari ku Ga," kata Dea.


"Ok, terserah kamu sekarang kita akan bahas tentang gaun pengantin mu,"


"Aku mau busana pengantin di butik mbak Ratna saja," pinta Dea.


'Ya kalau begitu kita ke sana, biar Sean di sini saja, sama kakak-kakaknya," jawab Rega.


"Ok! Sebentar, ya," jawab Dea sambil berjalan ke dalam dan tak lama kemudian kembali dengan membawa tas kecil yang di sangkutkan di pundaknya.


Rega mengulum senyum, melihat tampilan Dea sedikit berbeda, sedikit memoles wajahnya dengan make-up membuatnya ingin segera menghalalkannya.


"Kenapa? Ada yang aneh? Apa aku jelek?" tanya pada Rega.


"Tidak justru kamu sangat cantik ingin rasanya hari ini juga ku bawa ke KUA.

__ADS_1


"Kau bisa saja, jangan menggombal bisa pingsan aku kena bisikan mautmu," katanya sambil terkekeh.


Mereka pun keluar rumah bersama nampak Sean tengah bermain dengan kakak-kakaknya ketika dia melihat ayah dan bunda seperti hendak pergi, Sean berlari mendekati Mereka. "Mau kemana?" tanyanya


"Ayah ada perlu dengan bunda, kamu di sini sama kakak-kakaknya, ya," perintah pada putranya itu.


"Anak-anak jaga Sean ya jangan membuatnya terkejut jangan mengajak bermain dengan extreme, ya!" teriaknya pada mereka.


"Ok, Bun," jawab mereka serempak.


Dea dan Rega pun masuk kedalam mobil dan kemudian berjalan meninggalkan rumah panti tersebut.


Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di butik itu, lalu mereka masuk dalam di sambut oleh karyawati Ratna.


"Bun, dan Bapak sudah di tunggu di dalam oleh nyonya," kata salah satu pegawai Ratna.


Dea dan Rega masuk kedalam. "Mbak Dea ayo masuk di dalam, sepertinya ada kabar baik nih," sambut Ratna dengan tersenyum ramah.


"Ah, mbak Ratna bisa saja," kata Dea sambil tersipu malu.


"Ini loh Mbak aku mau mencari busana pengantin yang sudah jadi saja karena minggu depan kami mau melaksanakan pernikahan, rencana cuma Akad nikah saja dan walimah yang sederhana saja," kata Dea.


"Wah, jadi acara Minggu depan?" tanya Ratna.


"Ayo kemarilah aku ada busana yang cocok denganmu," kata Rana sambil mengajaknya di deretan baju pengantin dan mengambil salah satunya dan menunjukkan ke Dea.


"Ini loh yang aku bilang cocok buat kamu bentuk sederhana dan elegan," jelas Ratna.


"Wah, ini sangat indah, iya aku mau yang ini mbak," jawab Dea antusias.


"Coba dulu deh, apa sudah pas di badan takut kekecilan aku mau ambil pasangan jasnya." perintah Ratna.


"Mbak tolong kancingkan dong kak," pinta Dea


Rega yang tengah melihat-lihat mendengar suara Dea di bilik dia menghampiri dan menyingkap tirai, terlihat punggung putih nan mulus.


"Mbak tolong kancingkan," pintanya kembali.

__ADS_1


Rega dengan gemetar menarik gasper ke atas. "Sudah Dek," jawab Rega.


Dea pun menoleh. "Loh mas Rega to yang tadi mengancingkan baju ku?" tanyanya dengan wajah yang merona karena malu.


__ADS_2