Pesona Cinta Semu

Pesona Cinta Semu
Bab 27


__ADS_3

Mobil berjalan dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan hingga sampai di depan gedung perusahaan miliknya lalu berhenti di sana.


"Ta, lebih baik aku ikut kau saja, sebenarnya kau ingin pergi kemana? Aku takut kau mulai gila lagi," sarkasnya.


Setta tak menjawab hanya menoleh pada sahabatnya dan menatapnya dengan tatapan tajam.


"Ok! Aku keluar, jangan minum-minum!" larangnya.


Zein keluar dan menatap mobil hitam itu melaju dengan cepat serta menghilang di kelokan jalan yang menukik tajam.


Zein menarik dalam-dalam dan mengembuskan dengan kasar, 'Ada apalagi dia,' pikirnya.


Pria itu berjalan memasuki gedung megah itu dan melewati lobby beberapa karyawan menunduk hormat ketika berpapasan dengan dirinya lalu ia masuk dalam lift yang membawanya kelantai atas setibanya di sana elevator itu berhenti dan pintu terbuka Zein berjalan menuju ruang kerja Setta di sana Relea tengah berkutat dengan laptopnya.


Pria itu masuk dan tersenyum saat sang gadis tidak menyadari kedatangannya.


"Sudah makan siang, Le?" tanya Zein saat pantatnya telah menyentuh sofa lalu menyandarkan punggungnya dengan nyaman.


"Belum Pak, ini saya belum menyelesaikannya jika saya tidak selesai hari ini, Pak Setta bisa marah," katanya dengan tangan yang masih menari-nari diatas keyboard.


Zein melirik jam tangannya. "Ini sudah pukul dua siang sangat terlambat sekali untuk makan, biar saya pesankan," kata Zein sambil mengetik sesuatu di handponenya.


"Loh, gak usah, Pak, makanan tadi pagi saja belum saya makan karena gak selera makan," jawab Lea.


"Itu gak usah di makan, saya pesankan yang baru saja," usul Zein.


"Engak usah Pak, nanti Daddy marah lagi, gak enak Lea," kata gadis itu pada Zein.


Lea segera menyudahi pekerjaan dan mengambil nasi box yang belum sempat dimakannya.


"Duduk dan makan di sini om mau ngomong sama kamu, sebagai sahabat dari bundamu, bukan atasan mu," kata Zein dengan sangat tegas.


"Baik, Om," jawab Lea sambil membawa kotak makanan dan lalu mencoba menikmatinya.


"Om, Lea duluan yaa," ucapnya sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Hem," jawabnya sambil menatap iba pada gadis itu


"Kemarin tidur di apartemen Daddy?" tanya Zein.

__ADS_1


"Iya, sama Daddy gak di bangunin, datang terlambat di marahi," jawab Lea.


"Tidur sama daddy," tanya Zein.


"Iya, ehh, enggak, maksud aku, iya tidur di apartemen Daddy," jawab Lea sedikit bingung membuat Zein terkekeh.


"Om, kok ketawa sih, beneran deh Lea gak ngapa-ngapain sama, Daddy," jawab Lea semakin cemas


"Yang nuduh kamu ngapa-ngapain juga siapa? Gak ada Lea," kekehnya.


"Om, jangan gitu jadi gak enak," protesnya sambil mengerucutkan bibirnya.


Zein semakin terbahak saat wajah Lea merah padam.


"Jawab dengan jujur, Om gak akan cerita pada Daddy mu. Kemarin sama Daddy ngapain saja?" tanya Zein.


"Hanya makan malam, sih, Om," jawab Lea.


Zein melirik jari manis Lea yang tersemat cincin permata hitam, entah apa maksudnya semoga saja bukan maksud buruk.


"Itu dari Daddy?" tanyanya lagi


"Tapi hitam si Lea?" tanya Zein


"Enggak apa-apa om terlihat indah aku suka," kata Lea.


"Ya kalau kamu suka ya, ngak apa-apa," jawabnya sambil menghela nafas.


"Loh pesan makanan, Om mana?" tanya Lea.


"Gak jadi, karena sebenarnya, Om tadi sudah makan dari pada kamu makan sendirian jadi mau temani kamu, ternyata kamu sudah punya makanan sendiri.


"Om tadi cuma basa-basi kan?" tanya Lea.


Zein terkekeh. "Kamu tahu saja, ya sudah selesai pekerjaanmu jika sudah selesai makan, jika belum selesai bawah pulang saja laptop dan kerjakan di rumah," kata Zein.


"Aku sudah selesai kok, Om jadi gak usah bawa pulang pekerjaan," kata Lea.


"Aduh, Om hampir lupa kamu di suruh pulang ke rumah panti saja, itu pesan dari Daddy mu," kata Zein pada Lea

__ADS_1


Gadis itu terbengong perlahan. "Oh, Daddy kemana, Om?" tanya Lea.


"Om, gak tahu, Le, tadi main pergi saja gak bilang sama Om," jawab Zein sambil berjalan keluar ruangan Setta menuju ruangan sendiri.


Waktu berjalan dengan cepat tak terasa sudah jam empat sore Lea membereskan semua pekerjaan dan menyimpan file yang telah di kerjakannya.


Setelah itu dia pun mengambil tasnya dan berjalan keluar ruangan, hatinya terasa hampa, seperti ada sesuatu yang hilang yang sangat di rindukan.


Berjalan menuju lift dan masuk kedalamnya lalu bergerak ke bawah, berhenti sejenak dan beberapa karyawan masuk lalu berjalan kembali.


Lift berhenti di lantai dasar, pintu terbuka dia dan beberapa karyawan pun keluar lalu berjalan menuju area parkir lalu menaiki motornya kemudian menjalankan dengan kecepatan sedang.


Dua puluh menit akhir dia sampai di rumah terlihat Risky juga baru sampai rumah, Lea memasukan motornya di garasi samping rumah begitu pun Risky. Dia tidak menyapa Lea dan tatapannya begitu dingin, biasanya dia selalu menyapa saat Lea pulang kerja, Lea mengernyitkan dahinya. 'Ada apa sih para pria? Aneh sekali,' pikirnya.


"Baru pulang, Ky," tanyaku mencairkan suasana.


"Menurut mu?" tanya kembali sambil melangkah pergi meninggalkan Lea yang terbengong dengan sikap tak biasanya.


Lea menghembuskan nafas frustasi. 'Ah, bodoh amat,' pikirnya.


Lea pun masuk kedalam Beberapa adik pantinya berlari keluar masuk rumah dan hampir menabraknya. "Hai, hati-hati!" seru Lea.


"Maaf, kak," jawab salah satu dari mereka.


Lea melangkahkan kaki jenjangnya menuju kamarnya, lalu meletakan tas kecilnya kemudian melepas sepatunya, tanpa alas kaki dia melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan mengisi bathub dengan air hangat, sabun cair serta aroma terapi. Setelah itu dia menanggalkan pakaiannya dan masuk kedalam bathub.


Di pejamkan matanya, air terasa hangat menjalari seluruh tubuhnya. Ingatannya melayang tentang sentuhan itu, ciuman itu dan rasa itu semua seolah tertinggal dalam hatinya.


"Hari ini pria itu sangat dingin bahkan tidak mau melihat wajahnya, Lea berontak tak mau diperlakukan seperti itu, hatinya bergemuruh, jiwanya gersang, ingin rasanya berlari dan memeluk pria itu dari belakang membenamkan kerinduannya pada sang pria pujaan hatinya.


Satu jam berlalu Lea tak kunjung beranjak air sudah menjadi dingin begitu juga hatinya ingin sekali melangkahkan kaki menuju apartemen Daddy-nya. Namun Egonya seolah menolak, kembali menarik nafas dalam dan membuang dengan kasar memperbaiki hati yang mulai kacau.


Lea berdiri dan berjalan menuju shower di bilasnya tubuhnya Lalu mengeringkan dengan handuknya kemudian memakai bath robe dan keluar dari kamar mandi menuju lemari pakaiannya mengambil satu gaun sederhana dan memakainya lalu dihempaskan tubuhnya di atas ranjang.


"Ah, terasa begitu capek tubuh dan hatinya, ingin sekali terlelap hingga tidak merasakan kecewa.


'Inikah rasa rindu itu, kenapa membuatku begitu sesak nafas, saat tak terbalas.


Inikah Rindu itu, saat aku inginkan, membuatku terjun bebas dari angan yang tak tergapai.

__ADS_1


Ah sungguh membuatku tak bisa lepas dari harap sedangkan dia tak menoleh ku sama sekali,' batinnya nelangsa.


__ADS_2