Pesona Cinta Semu

Pesona Cinta Semu
Bab 24


__ADS_3

Rega hanya menggeleng-gelengkan kepala karena kekocakan mereka yang mengerjainya.


"Jangan kawatir! Aku tidak pernah tertarik sama dia dan dia tidak pernah tertarik sama aku, wanita satu-satunya yang tertarik denganku hanya Ratna seorang," kekehnya.


"Ya, aku percaya, aku hanya terharu melihat persahabatan kalian, cuma sedih saja Anda bisa pegang tangannya tapi saya belum bisa dan belum berani," katanya sambil tertunduk lesu.


Zein dan Setta tertawa. "Cepat bawa ke bunda, sepertinya sudah tidak sabar untuk halalin kamu," timpal Zein.


Ayo kita pergi biarkan mereka bicara berdua," kata Setta beranjak dari duduknya dan akan pergi.


"Om, bagaimana aku, ini aku di gigit semut nih gak bisa turun!" teriak bocah berumur sembilan tahun yang duduk di atas dahan pohon kelengkeng itu.


Zein menoleh dan memukul keningnya. "Yealah, ya tinggal lompat saja boy, pohonnya juga tidak tinggi, masak kalah sama Kaila," kata Zein pada Sean.


Setta tanpa bicara menghampiri Sean yang tangannya sibuk mengusir semut yang merambat di tubuhnya Kemudian mengangkat bocah itu dan di turunkan kebawah.


"Memang ya, Om Zein suka jahil anak orang di kerjain kayak gini," kata Setta sambil membatu membersihkan tubuh Sean dari semut-semut nakal.


"Iya tu Om Zein, kirain cuma nongkrong sebentar di atas terus diturunin gak tahunya di tinggal lama, Siapa lagi Kaila?" gerutu Sean.


Zein tertawa. "Sorry boy, kirain kamu bisa turun sendiri gak tahunya gak bisa turun, tuh semut gak mampir ke otong kamu kan? tanya Zein tertawa


"Om!" teriak Sean sambil berlari mengejar Zien dan pria itu menangkap lalu menggendongnya.


"Maaf tadi om lupa," katanya tersenyum pada bocah lelaki itu.


"Tidak apa-apa asal Bunda Dea mau jadi Bunda aku dan kesayangan Daddy," katanya sambil mengerlingkan matanya.


"Aduh, masih kecil sudah genit," kata Zein sambil berjalan menjauhi Dea dan Rega di ikuti oleh Setta di belakangnya mereka membawa Sean di tempat bermain.


"Sana boy main dulu biar Bunda dan Daddy ada waktu ngomong," kata Zein.


"Om siapa Kaila?" tanya Sean lagi.


"Anak Om nanti Om kenalin, tapi jangan marah kalau di pukul dia, anaknya agak bar-bar," kata Zein.


"Kalau begitu gak Sean gak mau kenalan," kata Sean.


"Kalau gak mau ya batal deh restu Om ke Daddy kamu," kata Zein menggoda boca itu .

__ADS_1


Sean berhenti dan menghela napas. "Baik deh Sean mau kenalan dan akan sabar sama anak Om demi Daddy dapatin bunda." ia pun langsung berlari menuju perosotan.


Zein tertawa dan Setta hanya bisa menggelengkan kepala melihat sahabatnya itu.


Tiba-tiba Zein menoleh ke Setta. "Kita gak balik ke kantor?" tanya Zein.


"Sudah biarkan saja, Kalau sudah waktunya pulang kau telpon dia suruh pulang ke panti," katanya sambil sibuk dengan handphone.


"Kok aku sih, Ta," kata Zein.


"Ya gak apa-apa, kamu kan wakilku Zein," kata Setta tanpa melihat sahabatnya itu. Tak lama kemudian terlihat dia berbicara akrab di telpon entah dengan siapa? Tak pernah Zein melihat Setta berbicara selembut dan seakrap itu.


Zein mendekati sahabatnya itu menunggu dengan sabar sahabatnya selesai menelpon. Menunggu hingga tigapuluh menit belum selesai, satu jam belum selesai juga hingga hampir dua jam berbicara akhirnya Setta mengakhiri telponnya.


"Siapa?" tanya Zein


"Klien, Zein," jawab Setta dengan tatapan datar.


"Jangan bilang kau sedang mengatur siasat, jika kau tidak sungguh-sungguh dengan Lea Lepaskan, Ta, dia tidak seperti Sinta," kata Zein.


"Kau ini bilang apa si Zein aku tadi memang bicara dengan klien, orangnya memang lucu Zein jika berbicara dengannya selalu tidak ada habisnya ada aja topik yang di bicarakan,"


"Cewek lah masak cowok sih," jawab Setta tenang.


"Ta, kamu serius apa yang kamu katakan itu, kamu jangan mainin perasaan orang yaa, mana ada cewek gak suka bisa ngobrol hingga dua jam," kata Zein.


"Benar aku gak ada apa-apa dengan dia, tahu Keysha teman SMA kita dulu?" tanya Setta


"Yang gemuk itu loh Zein," jela Setta.


"Itu Keysha sekarang gak gemuk dan cantik begitu," jawab Zein.


"Kok kamu tahu sih Zein," jawab Setta tertawa.


"Jangan aneh-aneh ya, Set!" ancam Zein.


"Aku lagi gak aneh-aneh, dia itu hampir mirip kamu dan Dea dan kamu tahu kan kalau kita lagi ngomong bertiga gak akan ada habisnya kan, begitu pula dengan Keysha,"


"Terus gimana sama Lea?" tanya Zein.

__ADS_1


"Ya gak gimana-gimana Zein," jawab Setta.


"Maksud aku kamu tertarik gak sih sama Lea, pasalnya ku lihat kamu seperti dingin terhadap Lea dan itu membuatnya sedih," kata Zein.


"Kamu gak tahu aja setiap kali aku melihatnya aku selalu ingin itu dengannya," katanya sambil terkekeh.


"Gila lo Ta," maki Zein pada Setta sambil melebarkan matanya.


"Itu sebabnya gue gak tahan kalau lihat dia, awalnya cuma mau ngerjain dia saja akhirnya gue malah jadi ketagihan sentuh dia," kata Setta membuang muka menghindari tatapan Zein.


Zein tertawa sambil memukul pahanya. "Lo belum kena ranjaunya kalau sudah kena dah gue yakin lo gak akan bisa menghindarinya, sudah lupakan sakit hatimu anggap saja Sinta memberikan Lea untuk menebus rasa bersalahnya padamu."


"Lo senang amat bikin gue menderita," katanya sambil tersenyum sinis.


"Ini deal, Lea di suruh pulang kesini? apa nanti malam lo bisa tidur tanpa Lea? Sudah Ta, nunggu apa lagi kamu nikahi saja sekarang," kata Zein.


"Aku nunggu Dea menikah setelah itu baru aku akan menikahinya," katanya Setta


"Bener anak ini suruh pulang ke sini?" tanya Zein sambil menyipitkan matanya.


"Hem, aku ingin tahu apa dia merindukanku dan akan datang mencari ku," kata Setta sambil tersenyum menyeringai.


"Om, apa Daddy dan Bunda Dea sudah selesai bicaranya?" tanya


Sean sambil berteriak.


"Kita sampai tidak menghiraukan anak itu," kata Zein.


Setta tertawa. "Benar juga katamu."


"Kemari lah! Ayo kita kita lihat apakah mereka sudah selesai berbicara?" kata Setta berdiri dari tempat duduknya di batu alam yang berjejer di pinggir taman bunga.


Bocah lelaki itu berlari ke arah mereka. "Om kenapa Daddy tidak mencariku ya," kata Sean.


"Karena kamu bersama kami jadi Ayahmu tidak mencarinya," kekeh Zein yang berjalan bersama Setta mengikuti Sean yang berlari duluan menuju kursi yang ditempati Dea dan Rega.


Rega tersenyum menyambut kedatangan putranya.


"Daddy lama sekali berbincangnya," protesnya pada sang Daddy.

__ADS_1


"Kalau kalian sudah yakin kenapa tidak tuntaskan sekalian, pergi lah temui bunda Mira pasti dia sangat senang dengan keputusan kalian itu," saran Setta.


__ADS_2