Pesona Cinta Semu

Pesona Cinta Semu
Bab 54


__ADS_3

Dua jam berlalu dia masih duduk terpaku dan sahabat kesana-kemari menginformasikan bahwa pesta batal.


Setta menatap sang Ayah seolah dalam keadaan tidak baik-baik saja, dia ingin sang ayah tidak tahu apapun mengenai dia dan Sinta.


"Ayah tidak usah pikirkan itu aku bisa menghadapinya," katanya


"Menghadapi dengan apa? Kau kira ayah tidak tahu apa yang kau lakukan Setta dan saat ini kita sudah tidak punya apa-apa bukan? dua pesta di hotel yang berbeda semua memakai Danamu dan mereka tidak akan mengembalikan bukan karena mereka telah mengkhianati mu, Ta, lalu bagaimana kita akan hidup, Nak?" tanya ayah setta sambil menekan dadanya lebih keras lagi, tiba- tiba tubuh lelaki paruh baya yang ringkih merosot ke bawah lalu tak sadarkan diri.


"Yah," teriakan sang ibu membuatnya terkesiap, beberapa orang membantu Setta membawa sang ayah ke dalam mobil dan membawanya kerumah sakit.


Mobil berjalan dengan sangat kencangnya


Ibunya menangis terus dalam perjalanan menuju rumah sakit saat sang ayah dalam keadaan tidak sadar, pria itu sangat panik.


Sesampainya di rumah sang ayah langsung masuk keruang ICU, dokter pun masuk ke dalam dan tak lama kemudian dokter pun keluar. "Maaf Bapak sudah tidak ada, sepertinya di meninggal dalam perjalanan kemari," kata dokter kepada Setta, ibunya dan Zein yang selalu mendampinginya sahabatnya itu.


Ibu Setta menangis sejadi-jadinya ia tak ingin ke hilang suaminya dalam keadaan seperti ini rasanya hatinya tak sanggup menerima kesedihan ini, tak sanggup melihat putranya kehilangan segalanya beasiswanya, rumah, usahanya hanya karena seseorang wanita yang di yakini mencinta putranya ternyata sang putra mendapatkan pengkhianatan.


"Ibu gak mau di tinggal ayahmu, gak mau, Leh!" teriak Ibu menangis sambil menatap jasad yang sudah kaku di ranjang rumah sakit.


"Ibu yang sabar, Ibu sama saya, Setta janji ini akan baik-baik saja, Setta akan membereskan ini semua bu gak akan kekurangan, Tolong Ibu jangan terlalu sedih, relakan ayah pergi, Ibu ... ibu," pinta setta pada ibu yang tiba-tiba tidak terdengar tangisannya.


Setta menggoyang tubuh ibu yang terduduk di lantai tepat di bawah ranjang ayah dan telungkup tanpa bersuara.


Pria itu menarik tubuh ibunyw yang sudah lemas, Setta terkejut dan panik dia kembali memanggil Dokter untuk memeriksa sang ibu ada apa gerangan kenapa ibunya hanya diam saja.


Dokter menghampiri istri jenasah yang terlihat pingsan dan di periksa detak nandi dan nafasnya.


"Maaf pak Ibu sudah meninggal," kata dokter itu.

__ADS_1


Seperti disambar petir Setta terkejut dan terpaku menatap ibunya yang sudah terpejam tak bernyawa, karena kesedian yang mendalam membuat wanita itu mengalami serangan jantung secara tiba-tiba.


Setta mematung menatap jasad ibu yang saat ini dia peluk.


Zein menghapus air matanya di sudut matanya, dia keluar ruangan segera mengurus kepulangan jenazah dari rumah sakit.


tigapuluh meni kemudian jenazah sudah berada di ambulan, Setta ikut dengan mobil itu sementara itu Zain membawa mobil Setta.


Satu jam perjalanan sudah sampai di rumah duka, jenasah di turunkan dari ambulans dan di masukan di rumah, beberapa tetangga sudah berdatangan untuk membantu Prosesi pemakaman, jam empat sore dua jenasah di bawah ke TPU dan di makamkan saling berdampingan.


Zein melihat Dea duduk di sebuah makam yang masih basah juga, Zein memejamkan mata, dia menunggu proses


pemakaman selesai setelah itu dia akan mengajak Setta menemui Dea yang masih setia duduk di makam yang masih basah entah makam siapa.


Jenasah orang tua Setta sudah dikebumikan semua orang sudah meninggalkan pemakaman tinggal Setta dan Zein. Pria itu meninggalkan sahabatnya larut dalam kesedihan orang tua menghampiri Dea yang sedang bersimpuh di makam yang masih basah.


Dea menoleh." Zein ibu sudah meninggal dan itu karena aku," kata Dea sedih


zain berjongkok di sebelah Dea. "Kamu harus ikhlas."


Gadis itu hanya mengangguk dan menyeka air matanya.


Setelah itu Zein bangun dan berjalan menghampiri Setta duduk berjongkok kembali di sebelah sahabatnya itu.


"Bukan kamu saja yang mendapatkan kemalangan tapi Dea, dia juga ada di sini di pusara ibunya, dia kehilangan orang tua satunya, Ta. Kita lelaki masih bisa meredam rasa sakit kehilangan tapi Dea, ia pun sekarang tidak mempunyai siapa-siapa lagi hanya kita, Ta, hanya kita," kata Zein membuat pria itu menoleh menatap tajam sahabatnya. Zain mengangguk untuk menyakinkan sahabatnya itu.


Masih dengan hati yang luka dan kedukaan yang tiada tara, Setta bangun dari duduknya dan menyapukan pandangannya ke area pemakaman setelah menemukan seseorang yang di carinya dia pun berjalan menghampiri Dea.


"Dea!" panggilnya

__ADS_1


Gadis itu menoleh dan berdiri lalu menghambur serta memeluk Setta. "Dia tidak hadir, Ta. Dia menikahi Sinta dan aku ...." Dea menangis dengan keras di pelukan Setta.


"Dan kau apa? Katakan pada kami!" tuntut Setta sambil mengurai pelukannya.


Dea menunduk tidak mampu menatap bola mata sahabatnya dan tak mampu berbicara apapun.


"Dea katakan pada kami apa yang terjadi pada mu?" tuntut Setta.


"A-- aku hamil, Ta. Dia mengambil milikku yang berharga, dia berjanji akan menikahiku tetapi apa yang terjadi? Dia meninggalkan ku, Ta, dia menikahi Sinta." kata Dea sedih


"Aku akan menikahi mu, Dea," kata Setta yakin.


"Aku tidak mau, janin ini bukan milikmu tetapi milik Arga akan ku rawat sendiri anak ini, Ta, jangan membuatku lebih terhina!" pinta Dea.


"Aku hanya ingin menyelamatkan mu dari pergunjingan dan rasa malu," kata Setta lembut hatinya makin terluka sudah tidak tersisa sedikit pun.


"Tidak, ini salahku biar ku hadapi semua resikonya, andai aku tidak terlena dengan bujuk rayunya, semua ini tidak akan terjadi," terjadi gumamnya lirih.


"Kalau itu yang kau mau, aku tidak bisa memaksamu Dea, Baiklah kami akan menjadi pamannya yang akan selalu menjaganya.


Mereka pun meninggalkan tempat pemakaman dengan berjalan kaki tidak ada kata yang terucap, mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri.


Ingin rasanya Setta datangi rumah Arga dan memukulinya hingga babak belur. Namun, pria itu tengah terbang ke Paris ketika hijab kabul.


Di ujung jalan mereka berpisah, Dea pulang ke rumah dengan kesedihan yang menggelayut di hatinya begitu pula Setta.


Zein dengan setia menemani sahabatnya itu menghadapnya badai hidupnya yang sangat dahsyat.


'Aku tak akan meninggalkan mu, Ta, kita akan menjadi sahabat untuk selamanya semoga kamu bisa melupakan kejadian ini dengan cepat dan kembali bangkit mereka dulu orang lain di hidupmu andai pergi dengan cara yang begitu menyakitkan biarkan saja.

__ADS_1


__ADS_2