Pesona Cinta Semu

Pesona Cinta Semu
Bab 32


__ADS_3

Pagi hari di kebun belakang semua sibuk memanen sayuran yang akan di jual di pasar di tempat langganan mereka, semua penghuni panti di kerahkan untuk memanen sayuran itu.


Begitu pula Lea Gadis itu begitu antusiasnya membantu mereka, setelah itu semua sayuran di taruh kedalam mobil pickup.


Setta yang dari tadi berdiri bersembunyi di balik pepohonan, hanya melihat anak angkatnya itu yang sedang membaur dengan adik-adik pantinya tidak menyadari kalau Ayah angkat itu sedang memperhatikannya sedari tadi.


Pukulan ringan di bahunya membuatnya terkejut dan menoleh kebelakang, seorang wanita tersenyum lembut menyambut tatapan yang ingin marah dan menyemburkan kata-kata cacian pada orang yang mengejutkannya.


Lelaki itu mengubah wajahnya dengan senyuman angat pada sahabatnya.


"Dia tidak seperti Sinta, Setta, hatinya lembut, jika kau memang menyukainya sebagai wanita, maka lakukan yang benar, Sinta dan Arga memang salah tetapi menempatkan Lea sebagai pelampiasan rasa benci mu itu salah," kata Dea pada sahabatnya itu.


Setta menghembuskan nafas dia tidak tersinggung sama sekali dengan apa yang dikatakan sahabatnya.


"Aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri Dea, Cinta dan benci datang bersamaan, andai kau memintaku untuk meninggalkannya karena perasaan yang salah yang tidak dapat aku kendalikan ini, tolong jangan lakukan, jika kau tak ingin aku menjadi gila seperti 19 tahun yang lalu tak mudah bagiku melupakan semua itu," kata setta sambil menatap wanita belia yang tersenyum ceria bersama saudara pantinya itu.


"Aku tidak akan mencegah mu karena aku tak akan bisa sebab Lea sangat menyayangi dan mungkin lebih dari itu aku melihat penampilannya yang sedikit berani saat akan menemuimu membuktikan bahwa kalian telah melakukan sesuatu yang lebih," kata Dea.


"Tidak sepertimu dan Arga, Dea," kata Setta tanpa melihat sahabatnya itu.


Dea mendengus kesal. "Kenapa di saat aku menasehati mu selalu kau hubungkan dengan hal itu, Ta," katanya sambil membuang pandangan di tempat lain.


"Agar kau ingat betapa terpuruknya dirimu saat itu, dan aku tak ingin melihat wanita lain sepertimu," kata Setta sambil berjalan menuju mobil pickup saat melihat Lea yang berjalan ke arah yang sama lalu membuka pintu.


Namun, tangan kekar itu menahan tangan itu untuk masuk kedalam dan suara yang sangat familiar menggema di sudut telinganya. "Duduk di sana, biar Daddy yang mengemudi," kata Setta tepat di telinga Lea.


Lea mendongak ke atas, mata terbelalak ketika melihat wajah teduh itu tersenyum padanya.


"Kenapa bengong? Apa Daddy harus menciummu dulu di sini agar kau tidak menghalangi ku untuk masuk," katanya sambil menatapnya tajam.


Ia pun menerobos keluar di tengah himpitan Daddy-nya itu sambil bersungut-sungut dia berjalan memutar lalu membuka pintu depan dan duduk di samping sang Daddy yang saat ini sudah siap mengemudikan mobil pickup tersebut.


"Kok Daddy ada di sini, tumben-tumbenan, kenapa? Saya itu biasa mengemudikan mobil ini, jadi Bapak gak usah kawatir," kata Lea

__ADS_1


"Sudah jangan protes biar Daddy yang mengemudi, lihat di belakang adik-adik kamu itu sudah naik apa belum?" tanya Setta pada Lea.


"Sudah, Pak," jawab Lea.


Mobil berjalan menuju tengkulak yang menjadi langganan panti untuk menjual sayuran mereka, tak ada pembicaraan Lea hanya pasrah saja saat sang daddy memaksa untuk mengantarkan. Namun, di belakang terdengar ramai oleh celoteh candaan adik-adik Pantai yang nantinya membantu untuk mengangkut sayuran.


Tak lama kemudian, mereka sampai, adik-adik dengan gesit memindahkan sayuran dari mobil ke lapak penjual.


Setelah semua selesai mereka kembali ke mobil. Seta mengemudikan dengan kecepatan sedang lalu berhenti di sebuah depot sederhana.


Setta turun dan mengajak anak-anak turun untuk makan di sebuah kedai sederhana.


"Ayo turun, kita makan dulu?" ajak Setta pada anak-anak.


Mereka dengan sangat senang turun dari mobil bak yang terbuka dan menghambur menuju rumah makan tersebut.


Pria itu tersenyum keceriaan yang sangat sederhana membuat dia sangat bahagia dan menatap keceriaan mereka.


"Ayo pesan saja, yang kalian inginkan, sepuas kalian," katanya sambil berjalan dan duduk di samping Lea dan memesan secangkir kopi.


"Tidak Daddy masih kenyang, kalian saja yang makan, kalian sudah bekerja keras sepanjang pagi," katanya


Setelah selesai mengisi perut, mereka kembali naik kedalam mobil dan kendaraan itu berjalan meninggalkan kedai tersebut.


Begitu sampai mereka pun berhamburan turun dari mobil masuk kedalam kamar mereka masing-masing untuk membersihkan dirinya sehabis bekerja di ladang dan mengangkut sayuran di pasar.


Lea keluar dari mobil. Dia melihat mobil asing yang terparkir di halaman, dahinya berkerut melihat mobil itu sedangkan Setta berjalan mendahului Lea yang sedang terheran-heran. 'Mungkin seseorang yang yang ingin berdonasi di sini,' pikirnya.


Setta yang sudah tahu siapa yang datang langsung bersalaman pada pria itu ketika berada di ruang tamu.


"Sudah lama, Ga?" tanyanya pada Rega.


"Baru, sekitar lima belas menit yang lalu.

__ADS_1


"Om, katanya panen sayur, kemana kakak-kakak kok pada sepi sih," kata Sean.


"Ya sudah selesai dari tadi, Sean, harusnya kamu berangkat agak pagi," sambung Setta.


Ketika Lea sudah berada di ruang tamu ia pun menyapa sang tamu meraih punggung tangan pria yang baru dilihatnya hari ini.


"Dengan Om siapa?" tanya Lea


Rega terpaku melihat keponakannya yang tak pernah di kunjunginya pasalnya dia tidak berada di Indonesia sementara perusahaannya pun mengalami masalah, dan aku mendengar kabar justru perusahaan yang ada di Indonesia begitu maju pesat oleh tangan dingin Setta.


"Om, Rega," jawab Rega


"Yang ini siapa?" tanyanya lagi sambil menoel dagu bocah lelaki berusia sembilan tahun itu.


"Aku Sean, Kak," jawab boca itu.


"Wah, masyaallah, tampan sekali kamu, mau main sama kakak di sini?" tanya Lea lagi


"Iya, Kak," katanya sambil mengganggu.


"Tunggu ya, mereka masih mandi sepertinya," kata Lea.


Dea yang baru saja keluar dengan satu nampan berisi minuman dan makanan ringan menyapa Lea.


"Sudah pulang, Le, duduklah dulu, bunda ada perlu denganmu.karena kamu yang tertua setelah Risky.


"Iya, Bun," jawabnya sambil duduk.


Bunda Dea meletakan minuman dan makanan di atas meja lalu duduk di sebelah Rega.


"Lea, Kami akan menikah, aku dan Om Rega Minggu depan, Daddy sudah setuju dan Om Zein juga, serta Oma mawar," jelas bunda Dea.


"Kalau Om Rega bisa buat Bunda bahagia, Lea justru senang dengan keputusan Bunda, Lea selalu akan dukung apapun yang membuat Bunda bahagia, karena Lea tak akan bisa menghapus air mata Bunda, ketika sedang sedih," jawab Lea sambil berdiri ingin menghampiri wanita yang telah ikhlas merawatnya.

__ADS_1


Bunda Dea berdiri dan berjalan menghampiri putri angkatnya itu dan mereka saling berpelukan dengan sangat eratnya.


__ADS_2