Pesona Cinta Semu

Pesona Cinta Semu
Bab 48


__ADS_3

Suasana semakin panas, Setta membawa gadis itu ke sofa, mulai menguasainya dan emosi kembali naik ke atas Setta menghujamkan berkali-kali miliknya, bergerak liar di atas tubuh istrinya, Lea menjerit, melenguh dan mendesau. Nikmat dan sakit dirasakannya, tak seberapa lama tubuh pria yang menjadi suaminya itu menegang cairan hangat kembali memasuki rahim Lea setelah itu tubuh gagah itu jatuh di atas tubuh polos Lea.


Beberapa menit berlalu Setta kembali meraup bibir Lea dengan ganasnya hingga terengah-engah kehabisan nafas.


"Tidurlah tiga jam lagi aku akan mendatangimu dan kau harus siap," kata pria itu sambil mencabut senjatanya dan turun dari tubuh wanita itu.


Lea meringis serasa kurang nyaman di bagian intinya tetapi dia tidak bisa berbuat apapun selain pasrah, pria yang menjadi suaminya itu masih menyimpan kebencian pada cinta lamanya yaitu sang Mama, bagaimana pun Lea harus bisa mengubah kebencian itu menjadi cinta.


Lea melihat lelaki itu memakai pakaiannya lagi dan berjalan keluar ruangan kerjanya entah kemana dan membiarkan Lea dalam keadaan polos di sini.


Lea bangun dan mengambil pakaiannya dan memakainya kembali, dia tahu tak akan ada fungsi pakaian itu untuknya karena tetap terlihat lekuk tubuhnya yang tak memakai apa-apa, dengan kaki yang masih gemetaran dia berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan, dia pun berjalan ke arah kamarnya dengan pelan dan tertatih lalu membuka pintu dan masuk kedalam.


Lea menghembuskan nafas dengan kesal, pasalnya sang daddy sudah pindah kesini tanpa membawanya kemari padahal pria itu pasti tahu kalau Lea merasa kesakitan di bagian itunya.


Lea berjalan mencapai ranjang dan direbahkan tubuhnya di sana.


Satu jam kemudian baru dia terlelap. Namun, sepertinya sebentar saja dia tertidur, sudah merasa tubuhnya digerayangi kembali, siapa lagi kalau bukan sang daddy suaminya itu.


Pria matang itu mencumbu setiap inci tubuh istrinya, saat Lea mulai membuka matanya dia terkejut oleh benda keras yang langsung menghujam di bagian intinya.


Lea terbelalak ingin menjerit tetapi mulutnya sudah terkunci oleh bibir Setta yang menyambar dengan ganasnya mencecap dan mengigit kecil, sambil bergerak sangat liar, tidak menghiraukan Lea yang berteriak kesakitan, melenguh kemudian. Lelaki itu merasa Lea berada di puncak berkali-kali semakin membakar gairah bercinta juga kebenciannya.

__ADS_1


"Saat ini kamu merasa kesakitan tapi setelah kau terbiasa dengan milikku ini dan hujaman keras ini kau akan merindukannya, sayang, tak akan ku biarkan kau berpaling dariku, kau hanya milikku selamanya, Lea," kata lelaki matang itu pada istrinya.


Setelah bergumul selama satu jam pria itu mengerang dan cairan hangat membasahi rahim Lea kembali, tubuh pria itu runtuh di atasnya dengan napas yang memburu. Wanita itu hanya terdiam membeku tak mampu berkata apa pun, entah kenapa dia masih sangat mencintai pria ini meski raganya terasa remuk hatinya seolah dilempar kesana kemari.


Lelaki itu melepas tautan dan mengerakan tubuhnya kesamping. "Kau bangun disaat yang tepat, sayang. Ku kira kau masih di ruang kerja ternyata sudah di sini, melihat tubuhmu membuatku ingin melakukannya lagi dan lagi," kata Setta pada Lea tangannya masih bergerilya di tubuh Lea.


"Apa sangat sakit ataukah sangat enak?" tanyanya pada istrinya sambil membelai lembut area sensitif sang istri.


Lea tak sanggup menjawab dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Jawab lah! apa aku harus melakukan lagi? Agar kau membuka mulutmu itu, honey," perintahnya sambil menatap tajam.


"Aku tidak mendengarnya, baby," katanya sambil menggigit gundukan kenyal milik Lea.


"Auh ...! Sakit juga Enak, Dad," jawabnya spontan membuat pria itu tersenyum.


"Tidurlah masih jam dua malam, aku tak akan membangunkan mu lagi, aku akan menjamah mu nanti pagi. Aku berencana di rumah saja dan kau tak perlu kuliah akan ku hubungi dosenmu nanti," jawabnya sambil memejamkan matanya tak lama kemudian suara dengkuran halus terdengar dan tangan tak lagi bergerak hanya menempel di area sensitif istrinya itu.


Lea memindahkan tangan Setta. Wanita itu berusaha bangun dari ranjangnya tetapi dia tak sanggup bangun rasanya tubuh remuk redam.


Kemudian Lea melihat ke arah suaminya. lelaki itu begitu lelapnya, sementara dia tidak bisa memejamkan mata barang sekejap.

__ADS_1


Selama satu jam Lea berbaring di ranjang tanpa bisa memejamkan matanya, setelah merasa kuat untuk bangun dia pun berjalan tertatih-tatih menuju ke kamar mandi. Dia siapkan sendiri air hangat, sabun cair dan aroma terapi, lalu masuk kedalam bathub.


Begitu nyamannya ketika air hangat menyentuh kulitnya, seperti dipijat seluruh tubuhnya membuatnya mengantuk, dia pun terpejam beberapa saat dan kembali terbangun saat tangan-tangan usil kembali menyentuh tubuhnya dan benar saja sang daddy duduk di belakangnya sambil menyentuh kembali dirinya.


"Kenapa tidur di sini? Sangat bahaya kalau kamu tidur saat mandi begini, untung Daddy datang di saat yang tepat," katanya pada Lea.


"Lea sangat capek, Dad, itu sebabnya Lea tertidur," katanya sambil melihat wajah datar sang daddy.


"Apa kau menolak ku," tanyanya sambil merenggut gunung kembar wanitanya dengan sangat keras, lalu memilin puncaknya yang menjadi kesenangan itu, saat melihat wajah ketakutan dan kekawatiran di wajah Lea membuatnya semakin kesal saja, ingin sekali lagi melampiaskannya tetapi pria itu tidak sampai hati saat bibir gadis itu terlihat pucat dan bergetar menahan tangis dan sakit.


"Tidak, Dad, tapi itu, anu--" ucapannya terhenti saat Setta memagut kembali bibirnya dengan sangat buas.


"Anu apa? Katakan pada Daddy!" perintahnya setelah selesai menikmatinya bibir yang pucat itu.


"Itu ... anu ... ma-masih sakit Dad, berikan waktu istirahat sedikit buat Lea, Dad, please!" mohon Lea dengan terbata-bata pada lelaki yang duduk di belakangnya.


"Kau tidak meminum obat yang kuberikan kemarin? Obat itu akan menyembuhkan luka ini dengan cepat dan aku bisa menjamah mu lagi tanpa menunggu lama, apa kau sengaja tidak meminumnya? Agar aku tidak bisa menjamah mu lagi selama beberapa hari. 20 tahun lamanya kau menyiksaku Sinta, dan baru tiga hari kamu merasakan emosi ini, luapan kemarahan ini, tetapi kau sudah tidak tahan, aku masih memberikan mu obat, sedang aku dulu bagaimana?" tanya dengan tatapan tajam.


"Dad, aku Lea bukan Sinta," protesnya pada Setta.


"Aku tahu tetapi Lea dan Sinta bagiku sama, dia dulu seusai mu saat mengkhianati ku dan kau jadi milikku di usia yang sama. Wajahmu, postur tubuhmu semuanya mirip, kamu membuatku selalu ingin marah kepadamu," katanya kembali meraih bibir Lea dengan sangat kasarnya. Lea melihat expresi kemarahan pada wajah Setta tidak berani lagi membantahnya, jika itu terjadi maka sang daddy akan semakin brutal, dia hanya berharap sang daddy tidak melakukannya lagi.

__ADS_1


__ADS_2