Pesona Cinta Semu

Pesona Cinta Semu
Bab 50


__ADS_3

Lea kembali sedih, suaminya kembali marah, dia tidak tahu harus berkata apa, berkata jujur kalau dia sebenarnya senang suaminya pergi selama dua hari karena suaminya tak akan menjamahnya selama dua hari, mungkin cukup membuatnya istirahat tetapi itu pun juga salah dan berbohong sama saja dia tetap akan marah, dan saat ini dia harus siap tubuhnya akan remuk redam oleh amarahnya.


Lelaki itu kembali lagi membawa segelas air dan memberikan pada Lea dan ia melihat sang istri tidak nafsu makan. "Kenapa kau tak suka? makanannya apakah tidak enak?" tanyanya pada Lea.


"Enak, Dad, cuma sedikit kurang berselera," katanya sambil menyuapkan perlahan makanan di mulutnya.


"Walau kau tidak berselera, kau harus tetap makan karena aku butuh mengisi baterai dengan penuh, dan kau harus siap dan tidak boleh mengeluh," katanya mengambil alih piring Lea dan menyuapkan makanan pada Lea.


"Aku tidak ingin kau pingsan, isi perut mu biar bertenaga, aku tak akan berbelas kasihan dalam hal yang satu itu Lea, sudah ku bilang saat ini aku butuh tubuhmu," kata Setta menatap datar sang istri.


"Iya, Dad," jawabnya lirih.


Setelah selesai Setta memberikan obat pada Lea dan gadis itu segera meminumnya.


"Dad, boleh Lea tanya sesuatu?" Lea menatap sendu sang Daddy.


"Apa?" tanya Setta pada Lea


"Apa Daddy mencintai ku?" tanyanya dengan lirih.


"Ya, jika tidak aku tidak akan menikahimu Lea, aku akan merusak mu dan pergi begitu saja karena kau sangat mencintaiku kan, sayang?" tanya Setta menatap wanita itu.


Lea mengangguk. "Bagaimana dengan Sinta, mamaku?" tanya Sinta sambil tertunduk.


"Jangan tanyakan itu Lea! Tidurlah ! atau ku tiduri?" tanyanya pada Lea sambil memindahi seluruh tubuh istrinya.


"Aku belum mengantuk, Dad," jawab Lea.

__ADS_1


"Kalau begitu kamu memilih aku tiduri, begitu, sayang?" tanya Setta pada Lea.


"Ti-- tidak, Dad, kata Daddy, tiga jam lagi ini baru satu jam Dad," katanya sambil menunduk


Setta tertawa. "Jadi kau mau? Tidak sakit itunya?" Setta mendekati istrinya dan kembali merusuh di bagian-bagian tubuh sensitif Lea tetapi hanya sebentar lalu dia pamit untuk keruangan kerjanya.


Lea menatap tubuhnya, ia benar-benar seperti wanita malam, dengan memakai pakaian seperti ini, 'Daddy benar-benar, ya.' batinnya lalu Lea menghembuskan napasnya dia berencana untuk menanyakannya pada Bunda Dea, beliau pasti tahu segala tentang, mama, papa dan juga Daddy Setta, aku merasa Daddy menyimpan luka yang amat sangat.


Lea menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa memejamkan matanya, Lea benar-benar merasa tidak mengenal sang Daddy, begitu lelah pikiran ketika harus menebak isi hati sang suami.


Saat bersamanya dulu sebelum menikah Lea merasa begitu indah, walaupun perhatian daddy naik-turun tetapi hal itu membuat hatinya meletup-letup. Tapi sekarang justru itu membuatnya was-was setiap saat.


Lelah berfikir membuatnya terlelap dan akan terusik saat sang daddy mulai menjamah tubuhnya lagi dan memasuki area privasinya, entah kapan sang suami memindahkan tubuhnya di ranjang yang jelas saat ini di sudah di ranjang dan posisi di bawah suaminya.


Mereka bergumul kembali, dan lalaki itu kembali tumbang setelah bermain selama satu jam, setelah selesai pria itu turun dari tubuh Lea dan berjalan ke kamar mandi membersihkan dirinya. setelah selesai dia pun keluar menuju lemari di ambilnya pakaian untuknya juga punya Lea, sebuah daster bercorak bunga-bunga berwarna pink dengan lengan bertali satu di taruh di atas ranjang. "Le, sana mandi dan pakai ini ya," kata Setta sambil memakai pakaian di depan Lea.


Lea pun membawa mukena dan sajadah lalu mengambil shaf di belakang suaminya. Setelah menunaikan sholat duhur, Setta pergi keruangan kerjanya dan menyibukkan dirinya di sana, jika dia dekat- dekat dengan sang istri bisa-bisa dia akan kembali mendatangi istrinya lagi.


Lea berjalan menuju dapur, ia begitu lapar apa Daddy lupa tidak membeli sesuatu untuk makan siang.


Dia membuka lemari pendingin ada sayur dan daging serta Ayam, kembali menengok lemari atas dia ingin mie instan kuah, mungkin akan nikmat jika dia membuatnya dan dia menemukan ada banyak varian ternyata dia mulai membuat mie instan kuah di dua mangkuk, secangkir kopi dan cappucino


Setelah selesai, Lea pun membawanya keruang kerja sang daddy. Lea mengetuk dengan kakinya. Dad, buka pintunya, Lea bawa makanan tolong di bukakan!" teriak Lea.


Setta berdecak, merasa terganggu akan ke datangan Lea. Setta beranjak dari tempat duduknya menuju ke pintu.


Pintu terbuka Lea tersenyum. "Maaf Dadd, Lea gak enak makan sendirian, jadi Lea bawa kemari makanannya, biar ada temannya makannya.

__ADS_1


"Kau bikin apa?" tanyanya kemudian.


"Ini mie kuah, gak tahu Lea ingin saja," katanya pada Setta


"Baiklah bawa kemari kita makan bersama," kata Setta mempersilakan Lea masuk lalu menutup pintu kembali.


Lea meletakan makanan dan minuman di atas meja, kemudian dia duduk di sofa dengan satu mangkok mie didepannya. Setta ikut duduk di di sebelahnya dan mengambil bagiannya setelah itu menyuapkannya dalam mulutnya. "Kamu tahu saja kalau daddy ingin segar-segar hari ini," komentarnya mengenai mie kua buatan Lea.


"Sebenarnya Lea ingin makanan berkuah yang hangat itu sebabnya Lea buat mie kuah dan cappucino hangat, sekalian buatku Daddy, bukankah Daddy belum makan?" tanyanya pada Setta.


"Hem kau benar Daddy sangat lapar habis menguras tenaga, berusaha membuatmu segera hamil," katanya sambil menatap Lea yang tersipu malu.


Lea pura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan Setta dia makan dengan lahapnya.


"Kau dengar apa yang kukatakan atau tidak, honey?" tanyanya lagi pada Lea.


"Aku dengar Dadd, tetapi kita baru menikah tiga hari bukan? Dad, apa Lea tidak boleh ikut keluar kota?" tanya pada sang Daddy.


"Kau akan bosan di sana Daddy akan sangat sibuk dan kau juga harus kuliah bukan? Dengar aku tidak suka istri yang bodoh oleh sebab itu kau harus kuliah dan Daddy sudah capek mengurus perusahaan ayahmu itu," kata Setta.


"Aku tidak akan bosan, Daddy tidak bertemu wanita bukan?" tanya Lea pada sang Daddy, membuat pria itu tersedak. Lea segera memberikan mengambil air minum yang ada di ruangan Setta lalu memberikannya.


"Kenapa? Apa kau cemburu?" tanyanya sambil tertawa.


"Iya," kata Lea menunduk.


"Tenang saja yang bisa membangunkan adikku hanya dirimu seorang," kata Setta sambil tertawa.

__ADS_1


__ADS_2