Pesona Cinta Semu

Pesona Cinta Semu
Bab 13


__ADS_3

"Saya tidak bawa uang saat ini, Mbak, tapi saya hanya punya ini sebagai penjamin, tolong tangani dulu pasiennya dulu," katanya sambil melepas jam tangannya, itu ada pemberian sang Ayah, katanya hadia dari bosnya entah harga tidak tahu berapa.


"Baiklah mas, ini saya trima ya, Mas, harusnya gak bisa tapi saya memberikan kesempatan pada mas untuk mencarikan biayanya, jadi biar saya pinjami uang saya dulu dan ini jadi jaminan saya bagaimana?" katanya pada Setta.


"Iya gak apa-apa mbak, terimakasih berapa yang harus saya bayar Mbak, biar segera saya siapkan," kata Setta sedikit wawas.


"Semua dua belas juta pak," katanya pada setta.


Pria itu tertegun setelah itu dia tersenyum, dia tahu sebenarnya Dea mempunyai uang lebih dari itu dari hasil menjual rumahnya, itu, setelah sang ibu meninggal.


Kemudian, Setta pergi meninggalkan loket administrasi berjalan keluar rumah sakit untuk mencari uang, dan membiarkan Dea di tangani dokter saja percuma dia menunggu di sini semua harus di bayar bukan.


Setta berjalan dengan langkah pasti keluar dari rumah sakit dia menghampiri pria tukang sayur itu. "Mari, Mas, saya antar ketempat Mas dulu," katanya pada pria penjual sayur itu.


"Lo, gak di tunggu Mas," kata tukang sayur itu sedikit heran dengan Setta.


"Di tunggu juga percuma kalau gak ada yang buat bayar, Mas, jadi saya harus cari uang dan mas saya antar dulu ke tempat dagangan Mas, Maaf hari ini saya belum bisa mengganti kerugian mas tidak berdagang, tapi saya akan tetap menggantinya," kata Setta menaiki motornya di ikuti oleh pedagang sayur yang naik di belakangnya.


"Olah, Mas, begitu saja kok di pikir, saya itu tulus nolong mbaknya, Mas, kasian dia sudah hidup sendiri dibegituin sama pria itu, ngomong-ngomong kemana ya pria jahat itu tadi kok saya gak tahu perginya, mungkin karena kita fokus sama sampean dan Mbaknya tadi jadi gak tahu perginya," kata tukang sayur itu selama perjalanannya menuju tempat jualannya.


Setelah sampai di tempat jualan lelaki itu terkejut karena dagangannya tidak ada di sana, seorang ibu-ibu keluar dari rumahnya dengan membawa beberapa lembar uang ratusan ribu dan memberikan pada tukang sayur itu.


"Maaf, Pak, Bu Heni tadi borong dagangan Bapak karena kerabatnya mau datang, dia memberi saya uang sekian Bapak hitung sendiri kalau kurang bilang saja langsung sama bu Heni dan ini daftar belanjaannya," kata ibu itu.

__ADS_1


"Waduh, rejeki nomplok ini namanya, maturnuwun bu, nanti saya hitung lagi kalau ada kelebihannya saya kembalikan," kata tukang sayur itu.


"Bu, bagaimana dengan bantalnya? Itu terkena noda darah, saya harus segera pergi, tidak bisa mengurus ini," kata Setta pada ibu itu.


"Sudah mas tinggal saja biar ini saya urus wong cuma bantal saja nanti biar saya yang ganti, tanda syukur saya karena dagangan laris manis," kata pedagang sayur itu.


"Kau begitu trimakasih banyak, mohon maaf merepotkan kalian semua," ucap Setta setelah itu dia menjalankan motornya dengan kecepatan sedang menuju rumah Zein.


Sesampainya di rumah itu dia menekan bel beberapa kali seorang wanita yang sudah berumur keluar dari rumah membukakan pintu pagar sambil menjewer telinga Setta.


"Kebiasaan kamu yaa, pencet bel berkali-kali," protes wanita itu.


Ampun Bunda ini darurat aku mau minta bantuan Bunda dan Zain, Dea jatuh, Bun sekarang ada dirumah sakit, tolong jaga dia aku mau menemui pak Andre dia berjanji mau membeli aplikasi yang ku buat," kata Setta berbicara terburu-buru.


Bunda Mira ibunya Zain melepaskan tangannya dari telinga Setta lalu berteriak dengan lantang, Zein ganti bajumu! Dampingi Setta bertemu dengan pak Andre! Bunda mau ke rumah sakit."


"Kenapa tiba-tiba mau di jual? Padahal kau masih menunggu pak Andre memberikan penawaran yang lebih tinggi katanya," tanyanya heran,


Sang Bunda memukul kepala Zein. "Dea di rumah sakit jangan tanya kenapa. Sekarang Bunda pesankan taksi! Bunda mau kesana."


"Baik, Bun!" tanpa bertanya lagi dia memesan taksi sambil mengelus kepalanya yang sakit, lalu dia menyuruh Setta memasukan sepedanya.


"Duduk dulu, Ta, aku negokan lagi, biar aku yang nego kamu dalam keadaan panik, pikiran waras mu akan hilang," kata Zein sambil sibuk melakukan panggilan setelah panggilan terjawab.

__ADS_1


"Hello pak Andre produk kami mau kami lepas seharga 200 juta kalau Bapak mau kami akan segera kesana tetapi jika tidak, akan kami berikan pada pak Rudi, dia mau harga sekian," kata Zein pada pak Andre.


"Apa tidak bisa turun sedikit, Zein?" tanya Pak Andre.


"Harga segitu murah lah pak di bandingkan dengan keuntungan yang akan bapak dapatkan, ini saya tidak ada waktu nego pak, jika mau lekas putuskan, sebelum saya lempar ke orang lain," kata Zein bernegosiasi.


"Baik saya ambil, akan segera saya transfer ke rekening Nak Setta, ngomong-ngomong kenapa bukan Nak Setta sendiri yang bicara?" tanya pak Andre.


"Dia lagi sibuk buat aplikasi baru pak, tapi jangan kawatir nanti saya datang sama Setta pak, Bapak bisa langsung tanya-tanya pada dia tentang sistem kerjanya," kata Zein.


"Ok, segera ke sini, begitu kalian sampai di sini maka segera akan saya transfer uangnya," kata pak Andre.


"Sudah, setidaknya jangan kau jual 100 lah, Ta walau pikiranmu kalut. Ayo sekarang kita pergi, sepertinya Bunda sudah pergi, sampai gak lihat emak sendiri pergi karena serius sama Pak Andre," kekeh Zein


Mereka pun bergegas pergi ke perusahaan makanan pak Andre, tidak lupa mengunci rumah dan mengeluarkan motor Zein yang laju lebih cepat dari milik Setta.


Mereka pun meluncur ke perusahaan makanan instan. Zein memacu kendaraannya dengan sangat cepat,


Tak lama kemudian, mereka sampai di sana dan segera menuju kantor tuan Andre, Zein tidak bertanya banyak tentang Dea, karena akan mengulur waktu saja.


Sepuluh menit kemudian mereka sudah berada di ruangan pak Andre Setta memberikan hak paten akan ciptaannya itu dan memberikan pengarahan kepada sejumlah staf ahli yang akan mengoperasikannya, setelah selesai semuanya Zein dan Setta langsung pergi ke ATM terdekat mengambil sejumlah uang yang di butuhkan, Mereka tidak mau lagi ada kendala jika tidak membawa uang tunai.


Perjalanan selama setengah jam mereka lalui sampailah di rumah sakit yang di tuju, Setta segera ke loket pembayaran dan akan melunasi semua pembayarannya.

__ADS_1


"Mbak saya mau melunasi pembayaran biaya rumah sakit dan mengambil jam tangan saya sebagai jaminan tadi," kata Setta pada petugas rumah sakit itu.


Jam tangannya tadi sudah di tebus sama ibunya dan beliaunya menambah tiga juta jadi Anda hanya membayar lima belas juta saja," kata petugas rumah sakit itu.


__ADS_2