
Sementara itu di halaman belakang Kayla berceloteh pada Sean setelah mengajaknya berlari menuju taman belakang yang penuh dengan mainan, seperti ayunan, jungkat-jungkit dan mangkuk berputar.
"Abang namanya siapa kok Kay gak tanya Abang main tarik saja," kata kayla sambil terkekeh.
"Aku Sean," jawabnya datar.
"Oh Bang Sean, kenalkan aku Kayla yang paling cantik dan imut ini," katanya sambil terkekeh.
"Iya, tahu tadi di dalam kamu sudah sebutkan namamu," jawab Sean.
"Oh iya aku lupa tapi gak apa-apa biar Bang Sean tidak lupa sama aku," katanya lagi.
"Bagaimana kalau kita main mangkuk putar?" Bang Sean di dalam biar aku yang putar," usul kayla.
"Aku tidak Kay, nanti aku kau putar dengan kencang, kata ayahmu kau itu jail, aku tidak mau," kata Sean
Kay tertawa. "Aku janji akan pelan, ayo lah!" pintanya memaksa.
"Janji, Ya?" tanya Sean dan kayla mengangguk
"Baiklah," sanggupnya sambil berjalan kearah mangkuk putar lalu masuk ke dalam dan duduk.
"Siap ya kak Sean?" tanya Kayla
"Iya tapi pelan-pelan ya," pesannya pada Kayla.
pertama diputar agak pelan. "Bagaimana?" tanya Kayla.
"Biasa saja," jawab Sean
"Kalau begini bagaimana?" tanya Kayla
"Masih Biasa Kay," jawab Sean
"Kalau begini bagaimana?" tanya Kayla yang mendorong memutar sambil berlari.
"Kay jangan kencang-kencang! Kay itu terlalu kencang! Kay tolong hentikan abang tidak kuat!" teriaknya dengan keras sambil memutarkan semua isi di dalam perutnya.
"Ratna yang mendengar teriakan itu langsung berlari ke taman belakang dan menghentikan mangkuk putar itu.
"Pak Man! Tolong saya!" pinta Ratna.
Pak Man yang sedang mencuci mobil di samping rumah mendengar teriakan majikannya itu segera berlari di halaman belakang.
"Iya nyonya," jawab pak Man.
"Tolong bawa dia ke dalam dan baringkan di kamar tamu!" perintah Ratna.
__ADS_1
"Baik, nyonya," jawab pak Man.
Ratna menatap tajam pada putrinya. "Sudah sering Mama bilang jangan suka memaksa, kalau tidak mau ya sudah, nanti kalau dia sakit bagaimana? Tiap anak punya ketahanan tubuh berbeda, Mama tahu, kamu itu anak yang suka maksa habis itu kamu curangi, Ayo sana lihat sudah siuman belum lalu minta maaf padanya.
"Baik Mam!"
Pak Man sudah sampai di kamar tamu membaringkan Sean di atas ranjang lalu bergegas pergi menemui nyoya besar yang tengah berbincang-bincang dengan tamu.
"Nyonya, anak laki-laki teman Non Kayla pingsan," lapor pak pada Mira.
"Apa? Kenapa bisa pingsan?" tanya Mira.
Nona Key memutar mangkuk putar dengan sangat kencang seperti Anak itu gak kuat Nyoya dan pingsan," kata Pak Man.
"Aduh Key ada-ada saja sih!" gerutu Bunda Mira.
"Ga, Maafin Kay, ya," pinta Dea.
"Iya, gak apa-apa, dia memang gak tahu kau Sean gak boleh shock, atau kaget berlebihan, jadinya dia pingsan," kata Rega.
Dea dan Rega ikut Bunda Mira pergi ke kamar tamu, tak seberapa lama kemudian Sean terbangun. "Dadd, kepala Sean pusing, dada Sean sakit sekali.
"Bun, obat Sean yang Daddy kasih bunda tadi mana?" tanya Rega pada Dea.
"Oh di tas sebentar ya," katanya sambil berlari mengambil tasnya dan segera kembali ke kamar tamu.
"Ini yang mana Obatnya Dadd, bunda gak tahu," katanya sambil tangannya gemetar.
"Ini mas air minumnya." Ratna memberikan segelas air putih pada Rega, lalu Rega mengambil satu butir obat untuk anaknya.
"Bun tolong bantu bangunkan ya!" pinta Rega dan Dea mengangguk lalu membantu Sean bangun dengan menyanggah bahu Sean dengan tangannya kemudian Rega meminumkan obat kepada sang putra.
Sean sudah agak membaik tapi masih menimbulkan rasa kekhawatiran pada Rega.
"Bun, maaf saya mau bawa Sean ke dokternya," kata Rega pada Bunda Mira.
"Ya, Bawa saja, Bunda takut terjadi sesuatu," saran Bunda.
"Om, boleh Key ikut? maafkan Key Om," pintanya.
"Boleh, ayo!" katanya pada Key.
Sean di gendong dan di masukan kedalam mobil berbaring di bangku tengah.
"Sini Om kepalanya taro di pangkuan Key," pinta Key.
"Nanti Key capek," tawar Rega
__ADS_1
"Enggak, Key salah kalau ini tebusan agar abang Sean nyaman gak apa-apa," kata Key
Rega menyerah membiarkan gadis itu memangku kepala Sean.
"Abang Sean, Key minta maaf yaa, Key gak akan gitu lagi sama bang Sean," katanya
Mobil itu bergerak dengan cepatnya menuju dokter yang menangani Sean.
Mereka pun sampai Sean digendong masuk kedalam ruangan sang dokter dan dibaringkan ranjang serta di periksa dengan seksama oleh sang dokter.
Sean menderita jantung walau sudah di operasi dia masih harus mengkonsumsi obat sebagai pemulihan.
"Bagaimana dok?"
"Tidak apa-apa sedikit shock saja, istirahat dulu di sini Beberapa jam jika pasien kondisinya sudah pulih boleh dibawa pulang.
"Om, bang Sean sakit apa?"
"Key tidak usah tanya! Abang capek dari tadi denger kamu ngomong!" semprot Sean yang sudah sedikit pulih dari rasa sakit di dadanya dan sesak nafas karena terkejut yang berlebihan.
"Bang Sean sudah bisa marah, hehehe, Maafkan Bang, Key janji gak akan kagetin Abang," ucapnya pada Sean.
"Tadi juga gitu tapi akhirnya kenceng juga," protes Sean pada Key.
Key terkekeh," Key tadi kelepasan kan tadi Key tanya jawaban Bang Sean biasa saja," jawabnya sambil mengerucut.
"Ngak gitu juga Key kau kan bisa nambah sedikit-sedikit, kenapa kau putarnya semakin kencang," kata Sean
"Sorry," kata Key sambil mengacungkan ke dua jarinya tanda peace.
"Sudah-sudah, mulai sekarang Key gak boleh bikin Bang Sean terkejut, main sama Bang Sean gak boleh yang ekstrim-ekstrim, yang biasa saja, gak boleh panjat pohon yang tinggi," jelas Rega
"Baik Om, kalau begitu nanti biar Key yang manjat Abang diam aja di bawah nungguin Key lempar buah tapi harus bisa nangkap ya," cicitnya antusias.
...----------------...
Tempat lain di rumah yatim piatu Setta berjalan menuju mobilnya bersama Zein.
"Aku antar sampai di kantor," kata Setta tanpa expresi sambil mengenakan sabuk pengamannya, lalu menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Kau mau kemana, jangan-jangan macam-macam Ta!" ancam Zein.
"Aku tidak kemana-mana hanya butuh ketenangan saja, kau kembali ke kantor, kalau sudah waktunya pulang, suruh Gadis itu pulang!" perintah Setta.
"Apa? Gadis itu?" tanya Zein.
"Jangan kau bilang kalau kau telah mengambilnya!" teriak Zein
__ADS_1
"Apa yang ku ambil dari gadis itu, Zein? jangan menuduhku yang aneh-aneh!" bentak Setta.
"Syukurlah kalau begitu, aku sangat terkejut ketika kau mengatakan bahwa kau ... ah, sudah lah yang penting kau tidak jadi Brengsek," timpalnya.