Pesona Cinta Semu

Pesona Cinta Semu
Bab 43


__ADS_3

Di dalam ruangan kerjanya Setta termenung. 'Apa aku keterlaluan sehingga membuatnya seperti itu? Ah ... kurasa tidak sakitnya tidak sesakit aku, dua hari akan sembuh, sementara aku harus bertahun-tahun menyembuhkan luka ini tetapi tidak sembuh juga, aku tak akan iba dengan mu,' pikir Setta pada akhirnya.


Setta mulai fokus dengan laporan keuangan yang di kirimkan lewat emailnya, membuang ingatan masa lalu dengan menyibukkan dirinya.


Beberapa detik kemudian terdengar panggilan telepon, lalu Setta melihat nama yang tertera di layar handphone.


'Dea! Ck, mengapa harus telpon segala segala sih?' gerutunya dalam hati.


"Ada apa?" tanya Setta dengan intonasi yang tinggi.


"Aduh ketus amat sih, Ta. Aku tu telpon Lea tapi ngak di angkat," jelas Dea.


"Ngapain kamu telpon orang lagi pacaran, Lea lagi tidur, Dea," jawab Setta langsung menutup telponnya.


Sementara itu, Dea yang ada di di ruangan kerjanya marah-marah sendiri sebab Setta telah menutup telponnya sepihak.


"Ada apa sih Bun, kenapa marah-marah," tanya Rega yang belum pergi dari ruangan Dea setelah mengantarkannya istrinya itu.


"Aku itu tanya tentang Lea, eeh dia marah, katanya aku ganggu orang pacaran saja," jelas Dea sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ya jelas sayang, mereka kan menikah baru kemarin, kenapa kau ganggu?" tanya Rega.


Dea terkekeh, "Aku tidak bisa membayangkan wajah Setta yang marah karena aku ganggu," kekehnya.


"Kamu sekarang makin usil deh Bun, sudah biarkan saja mereka menikmati harinya jangan ganggu lagi," kata Rega.


"Iya-iya, aku gak akan ganggu mereka lagi," katanya sambil mencium punggung tangan Rega.


"Ya sudah Daddy mau ke kantor dulu, ingat jangan menggodanya lagi," nasehat Rega sebelum dia keluar dari ruangan Dea.


Dea mengangguk. Setelah suaminya pergi dia menatap nanar handphonenya, sebenarnya hatinya merasa tidak enak seolah telah terjadi sesuatu hal pada gadis itu tapi Dea berusaha untuk mempercayai sahabat itu.

__ADS_1


di dalam villa Setta melanjutkan pekerjaannya, hingga menunjukkan jam 12.00 siang.


pria itu mengakhiri pekerjaannya dan berjalan menuju dapur, dia membuka lemari es mengambil beberapa sayur lalu daging kemudian dia memotong sayur dan juga daging lalu mengupas bumbu dan memotongnya tipis-tipis serta memasaknya jadi masakan tumis sayuran.


Setelah matang di tatanya di atas meja lalu dia berjalan menuju kamarnya. terlihat Lea sudah terbangun. Setta berjalan menghampiri gadis yang terbaring tak berdaya itu.


"Bagaimana apa kamu sudah sembuh? Melihat mu seperti ini aku ingin sekali menyentuh mu Lea," kata Setta mulai membelai luka luka Lea dengan lembut, tetapi itu membuat Lea tidak nyaman karena masih terasa nyeri.


Setta melepaskan kancing baju dan mulai mencumbu, tubuh gadis itu. "Dadd!" panggil Lea


Hem," jawabnya


"Aku ingin buang air kecil Dadd," pinta Lea


Setta tersenyum kembali mengancingkan kemeja yang di pakai Lea. "Hari ini Daddy akan mengalah tapi nanti malam kau tak boleh menolak, ku rasa nanti malam itumu bisa ku pakai lagi," kata Setta sambil menggendong tubuh Lea dan membawanya ke kamar mandi.


Setelah sampai pria itu menurunkan gadis ke dalam kamar mandi, dia berdiri di ambang pintu tanpa mau keluar dari kamar mandi. "Dadd, keluarlah! Aku malu," pinta Lea


"Aku tidak mau Lea, aku ingin melihat mu Lea dan ingin memastikan bahwa itu mu tidak sakit.


Setelah itu di gendongnya dan membawanya di kursi meja makan.


Setta kembali melayani Lea dengan mengambilkan makanan di piring dan mereka makan dengan sangat tenang.


Setelah selesai makan siang Setta memberikan satu tablet obat untuk di minum, lalu di kembali menggendong tubuh gadis itu lalu membaringkan tubuh gadis itu di atas ranjang kembali kemudian Setta menyingkap pakaian Lea dan mencium luka itu yang mulai kering memainkan lidah dengan sangat sangat lihainya


"Dad, Nanti malam saja, Lea janji tak akan menolak," kata Lia dengan terbata-bata karena menahan rasa nyeri dan nikmat.


Setta tersenyum dan menghentikan serangannya dan mulai mengoleskan obat luar di luka Lea. Setelah selesai, dia kembali beraksi di bukanya kembali kancing baju Lea lalu bermain di tubuh atas Lea bagian depan mencumbu gundukan indah milik Lea, Setta tidak ingin dan tak mau ditolak.


"Dad, nanti malam saja, Lea berusaha bernegosiasi, tetapi itu hanya sia-sia belaka.

__ADS_1


Pria itu tidak peduli bahkan telah membuat beberapa tanda di tubuh Lea. Sungguh baru kali ini Lea mengetahui sifat asli sang Daddy yang tak mau di banta dan tak mau ditolak.


Setelah puas menikmati apa yang dia inginkan, dia pun membaringkan tubuhnya disebelah Lea dan mulai memejamkan matanya dan tak seberapa lama dengkuran halus terdengar di telinga Lea.


.


.


.


Setelah makan malam Setta kembali mencumbu gadis itu, Lea sudah tidak bisa menolak dan berkata apa-apa walaupun lukanya belum sembuh benar, pria itu telah membuat polos tanpa sehelai benangpun, Setta kembali bermain, awalnya sangat lembut tetapi tiba-tiba ritme berubah dan sangat buas, lalu kembali lembut.


Setta kembali memasuki lubang Indah milik Lea kali ini dia begitu lembut dengan senyuman menyeringai bermain di atas tubuh gadis itu.


Kali ini dia begitu lembut, menekan segala amarahnya setiap kali melihat wajah Lea seperti melihat bayangan Sinta saat masih muda, membuat kemarahan memuncak.


Setta berjuang dengan sangat keras untuk menekan emosinya yang timbul karena bayangan pengkhianatan Sinta, kematian orang tuanya dan di usir dari rumahnya sendiri, hal-hal itulah yang membuat dia tersulut api dendam.


'Aku tahu kau bukan Sinta tapi sebelum senyummu terbit maka kau harus menangis dulu agar kau tahu bahwa dulu aku terluka begitu parah lukamu bahkan tak akan ada artinya,' batinnya.


"Apa masih sakit?" tanyanya


"Sedikit, Dad," jawab Lea.


"Apa kau menikmatinya?" tanya Setta sekali lagi


Lea mengangguk, sambil menatap sendu.


"Apa kau bahagia Lea?" tanyanya dan gadis lagi-lagi mengangguk dan air matanya mengalir deras.


"Jika kau bahagia kenapa kau menangis?" tanyanya kembali pada Lea.

__ADS_1


"Aku menangis karena aku bahagia Dad, kemarin aku seperti tidak mengenal Daddy, sorot mata daddy seolah sedang membenciku," kata Lea masih dengan uraian air mata.


"Senyum lah, jangan menangis lagi, aku ingin bercinta dengan senyuman di bibirmu saat maka ku perintahkan padamu untuk tersenyum," kata Setta masih di atas Lea bergerak mencari kenikmatan Setta mulai bisa mengendalikan dirinya hari ini, entah lusa hati dan jiwanya berubah atau tidak dia tidak tahu.


__ADS_2