
Setta menatap gadis itu sambil tersenyum saat Lea membuka matanya. "Daddy tidak marah? Lea takut sekali," tanya gadis itu pada Setta.
"Maaf, membuatmu takut, mandilah! Jika sudah selesai panggil Daddy ya, Daddy mau membersihkan ranjangnya dulu," kata Setta lalu berdiri dan berjalan keluar dari kamar mandi menuju ranjang.
Setta menarik seprai itu dan membawanya ke mesin cuci dekat kamar mandi lalu mengambil air di timba serta deterjen dan membawanya keluar, Setta membersikan moda darah yang ada di matras lalu mengeringkannya dengan alat pengering elektrik, setelah kering, dia mengambil seprai baru dan memasangnya, setelah itu dia kembali ke kamar mandi dengan membawa timba dan diletakkan di pojok ruangan.
Setta berjalan menghampiri Lea dan duduk berjongkok di depan bathub. "Apa masih sakit?" tanyanya dengan lembut.
Lea mengangguk. Sambil menatap pria itu. Ada ketakutan terlihat di wajahnya.
"Jangan takut aku tidak akan menyentuhmu sebelum kau sembuh. Apa sudah selesai mandinya?" tanyanya kembali.
Lea hanya mengangguk.
Pria itu mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya ke shower, Menurunkan dan menopangnya dengan tubuhnya. "Dadd, sakit," adu Lea saat kakinya menapak lantai.
"Maaf," ucap ulang Setta.
Setta membilas tubuh gadis itu lalu mengeringkannya dengan handuk lalu menggendongnya keluar dari kamar mandi.
"Daddy basah," ucap Lea
"Tidak apa-apa," jawabnya sambil terus berjalan
Setta mendudukkannya di bibir ranjang, lalu berjalan menuju lemari, mengambil kemeja lengan pendeknya lalu memakainya pada Lea dan dia sendiri pun mengganti pakaiannya yang basah.
"Begini saja dulu karena itu masih sakit kan," kata pria itu sambil menatap bagian bawah tubuh Lea.
"Iya," jawabnya tersipu.
Setta melihat jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. "Tidurlah Daddy akan cari apotik 24 jam lukamu harus di obati segera takut terjadi infeksi," katanya sambil bangkit dari duduknya setelah dia membaringkan tubuh Lea ke ranjang lalu berjalan keluar kamar.
Setta berjalan menuju garasi mobil dan mengeluarkan mobil menjalankan hingga ke pos sekuriti serta memberitahukan bahwa dia akan keluar untuk membeli obat di apotik. Sang sekuriti membukakan pintunya lalu mobil itu berjalan membelah jalanan.
Hampir satu jam dia mengitari jalanan dan akhirnya menemukan apotik yang buka 24 jam. Setta pun masuk kedalam apotik itu dan membeli obat yang dia butuhkan setelah mendapatkannya dia keluar dari apotik dan masuk kedalam mobilnya lalu menjalankan kembali dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
Ketika mobil sudah berada di pintu gerbang segera sekuriti membukanya dan kendaraan o
roda empat itu kembali berjalan memasuki pintu gerbang lalu masuk kedalam garasi.
Setta keluar dari mobil dan masuk kedalam lalu berjalan menuju kamar utama.
Saat dia melihat Lea tidur dengan kaki yang terbuka lebar membuat Setta tersenyum.
Setta mengambil kursi bundar dan menaruhnya di depan ranjang lalu mengoleskan salep di area luka Lea.
kaki Lea bergerak menandakan keterkejutannya lalu gadis itu membuka matanya dan melihat sang daddy ada di dekatnya.
"Makanlah sedikit, tadi membeli roti setelah itu minum obatnya biar segera sembuh," kata Setta.
"Kalau sudah sembuh apa Daddy akan ...?" Gadis itu memalingkan wajahnya dan mengurungkan niatnya bertanya.
"Jelas saja, kau istriku dan tidak hanya itu kau harus segera kuliah sebab kau sendiri lah yang harus mengelola perusahaan ayahmu Daddy terlalu capek jika harus menghandle-nya terus," katanya sambil menatap Lea yang sedang memakan roti dengan lahap.
Setta mengambil segelas air minum dan satu tablet obat diberikan pada Lea yang duduk bersandar di sandaran tempat tidurnya.
Setelah selesai di berikan gelas kosong itu pada Setta.
"Kan ada Om Rega, bukankah dia bisa mengelolanya bukan?" tanya Lea pada Setta
"Iya, tapi itu milikmu, Rega sudah disibukkan dengan perusahaan kakek mu yang lain, kenapa? Kau tak ingin menjadi wanita karir? tanyanya.
"Mau," katanya tanpa berani menatap sang Daddy.
Setta menghelah nafas, dia baringkan tubuhnya di sebelah Lea lalu memiringkan tubuhnya menghadap pada gadis itu.
"Maaf kau sangat mirip dengannya, membuat aku hilang kendali saat teringat tentang dia," kata pria itu sambil memeluk tubuh gadis hati itu. Hatinya mulai gamang, dia tidak tahu harus bagaimana apa terus melukai gadis ini untuk menebus luka hatinya yang dalam.
"Tidurlah aku tidak akan mengusikmu," katanya sambil memeluk gadis itu.
Setta memejamkan matanya, kantuk dan lelah menyerang matanya dan mulai tertidur, begitu pula lea yang karena pengaruh obat yang di minumnya.
__ADS_1
...----------------...
Pagi hari setta lebih dulu bangun dia membangunkan Lea.
"Le, Bangun, sholat subuh dulu," ucapnya.
Lea pun membuka matanya, setta tersenyum. Apa kau bisa berjalan?" tanyanya pada gadis itu.
Gadis itu menggeleng, Setta tanpa bicara menggendong gadis itu ke kamar mandi dan menurunkan Lea di sana. masih dengan tubuh gemetar dia berdiri dan mulai mengambil air wudhu di kran, setelah itu, Setta duduk di tempat tidur, digelarnya sajadah lalu dia mendudukkan Lea dia atas sajadah. "Sholat saja sambil duduk, tunggu sebentar aku mau mengambil wudhu dulu.
Setelah selesai mengambil air wudhu mereka pun solat subuh berjamaah, setelah selesai Setta kembali membopong tubuh Lea dan di baringkan ke ranjang.
Setta keluar dari kamar menuju dapur memanaskan semua makanan tadi malam, Setta sengaja meliburkan pembantunya selama dua hari, setelah tadi malam membuatkan makanan untuk mereka.
Setelah semuanya siap dia kembali ke kamar kembali menggendong sang istri dan mendudukkan ke di kursi meja makan.
Setta mengambilkan makanan untuk Lea lalu mengambil untuk dirinya sendiri kemudian mereka makan dengan tenang tak ada percakapan, Lea pun menahan diri untuk tidak bertanya pada sang Daddy, mengapa perangainya begitu berbeda dan berubah-ubah apa yang membuat pria ini seperti itu.
Setelah makan, Setta kembali menyiapkan obat untuk Lea minum kemudian menggendongnya kembali ke kamarnya dan di baringkan di ranjangnya direnggangkannya kaki Lea dan disingkapnya pakaian Lea.
"Daddy mau apa?" tanya Lea mulai sedikit ketakutan.
"Menurutmu, apa?" Setta balik bertanya sambil mengambil obat oles.
"Hem, tidak," jawab Lea kemudian.
"Apa kau mengira aku akan melakukannya lagi?" tanyanya sambil menyipitkan matanya.
"Ti-- tidak, Dad," jawabnya tergagap.
Setta tidak memperpanjang perdebatan dia mulai mengoleskan salep pada luka Lea, gadis itu menahan sakit juga malu.
"Sudah ku bilang aku tidak akan menyentuhmu, sampai lukamu sembuh," katanya kembali sambil menatapnya.
"Jika kau butuh aku, panggil saja dengan menelponku aku ada di ruang kerja," katanya sambil melangkah keluar dari kamar.
__ADS_1