
Sebentar saya telpon ibu saya dulu yaa mbak," kata Zain melakukan panggilan tak lama kemudian dia berjalan menjauh dari kami lalu terlihat sedang berbicara dengan seseorang setelah selesai ia menoleh kepada Setta tersenyum dan mengangguk.
"Baik, Mbak, ini saya lunasi ya," kata Setta pada petugas itu setelah itu, mereka berjalan menuju ruang perawatan Dea, wanita itu selesai menjalani operasi, Setta mendengar bahwa Ibu dan Anaknya selamat. Namun saat kami mendekat terdengar histeris.
Kami berlari masuk kedalam kamar, ada seorang dokter dan seorang perawat di dalam tengah berusaha untuk memacu detak jantung sang bayi dengan CPR beberapa dilakukan bayi itu tidak bergerak
lagi Inalilahi wainalilahi rojiun, Maaf bayi Anda sudah meninggal.
"Tidak! tolong selamatkan bayiku! selamatkan putriku, Dok! Setta, Zain lakukan sesuatu selamatkan bayiku!" teriak Dea.
"Dea!" panggil Setta sambil berjalan menghampirinya Dea dan memeluk sahabatnya itu.
"Dea kuatkan hatimu, dia telah pergi, Allah lebih sayang dia maka ikhlaskan saja," kata Setta menguatkan sahabatnya, dan mungkin kesedihan yang datang bertubi-tubi tak kuat dia pikul sendiri, membuat wanita ini pingsan dalam pelukan sahabatnya.
Setta menghembuskan nafas berat. "Zain, Bun, aku keluar dulu," pamit Setta sambil berjalan gontai keluar kamar perawatan Dea untuk mengurus jenazah putri dari Dea.
Saat berjalan menuju kantor, Setta melihat Arga masuk di sebuah ruang perawatan, dia mengurungkan niatnya untuk mengurus jenazah Dea dia berjalan menuju ruang perawatan dimana Arga masuk kedalam tadi.
Tanpa mengetuk pintu dia masuk ke kamar itu.
"Selamat, keinginan mu terkabul, bayi itu meninggal, mungkin Allah lebih sayang dia karena kau tak menginginkan dan tak menikahi Dea dan kau wanita tak tahu diri hanya karena janin yang belum bernyawa itu kau tukar dengan membunuh bayi yang sudah bernyawa, dengarkan aku baik-baik hidup kalian akan selalu dihantui rasa bersalah," kata Setta lalu meninggalkan ruangan itu, masih terdengar jelas di telinganya wanita yang dia cintai sekaligus dia benci memanggil namanya. Namun dia tidak peduli.
Setta berjalan cepat kekantor untuk mengurus kepulangan jenazah bayi itu, di belakangnya seperti ada orang yang mengikutinya dia tidak peduli.
Setta menggendong bayi yang sudah tidak bernyawa bayi perempuan yang cantik hanya sempat menghirup udara hanya tiga jam saja setelah itu jantungnya melemah lalu meninggal dunia, "Sungguh malang nasibmu Dea kita mencintai orang yang salah," gumamnya lirih dan masih bisa di dengar orang yang di belakangnya.
"Setta boleh aku melihatnya?" tanya seseorang di belakangnya yang ternyata adalah Arga.
"Untuk apa? Apa kau ingin memastikan bayi ini sudah meninggal atau belum," katanya sambil berjalan melewatinya ia berjalan keluar dari rumah sakit sengaja tidak menggunakan ambulans untuk membawa jenazah bayi mungil itu, karena mengagetkan warga di sana.
Lelaki itu masih membuntuti Setta sambil merengek, hati Setta sudah membeku, dia tak akan membiarkan tangan kotor pria menyentuh bayi suci ini.
__ADS_1
Taksi yang di pesan sudah menunggu, Setta pun masuk dengan cepat tanpa memberikan kesempatan pada lelaki itu untuk melihat bayi yang di gendongnya.
"Jalan Pak, Cepat!" perintah Setta,
"Setta, tunggu!" pinta Arga. Namun taksi telah berjalan, Arga menatap kepergian taksi itu dengan tatapan tak terbaca. Pria itu meringis menahan sakit pada perut dan wajah, tadi ketika dia mengejar Setta seolah sakit itu tidak di rasakan, entahlah dia menyesal atau tidak dia tidak pernah tahu.
Arga kembali ke kamar tetapi saat melewati sebuah kamar di mana seseorang wanita menangis pilu karena kehilangan putrinya yang baru di lahirkan beberapa Jam yang lalu. Arga memejamkan matanya sesat setelah itu dia pun kembali berjalan melewati kamar itu.
Arga berjalan ke kamar Sinta, begitu sampai Sinta memberondong begitu banyak pertanyaan.
"Ar apa yang terjadi pada Dea? Kenapa Anaknya meninggal? Ar jawab aku," tanya Sinta
Arga mulai bercerita tentang apa yang terjadi pagi tadi, Sinta menghembuskan nafas.
"Kenapa kau mendatanginya Ar? Aku yang salah, mereka telah menjauh pada kita tapi kita yang mengganggu mereka, aku yang mendatangi Dea dan aku terkejut karena dia hamil, itu membuatku ke guguran Ar, Dea tidak bersalah, Setta benar kita akan selalu dihantui rasa bersalah pada mereka Ar."
Setta telah sampai di tempat Dea mengontrak. di tidak menuju rumah Dea tetapi tetangga Dea yang menolongnya tadi pagi.
"Loh, mas Mbak Dea mana?" tanya wanita itu,
"Dia masih di rumah sakit, bayinya meninggal tiga jam setelah melahirkan, saya minta tolong bu untuk membantu kebumikan putrinya," kata Setta
"Sini mas taruh di sofa dulu, masyaallah cantiknya," kata ibu itu, lalu dia memangil suaminya untuk mengumpulkan warga yang ada di situ.
Tak lama Zein pun datang ia tidak ingin ketinggalan untuk mengantar peristirahatan yang terakhir. Prosesi pemakaman sangat hikmat Banyak mengantar bayi kecil, Setta dan Zain yang mengantarkan hingga ke liang kuburnya setelah semuanya selesai Setta kembali ke rumah wanita yang menolongnya memberikan sejumlah uang untuk mengadakan doa bersama selama tiga kedepan setelah itu akan di lakukan Bunda Mira sendiri.
"Ini terlalu banyak Mas," kata wanita itu.
"Tidak apa-apa Anda telah membantu saya saja saya sangat bergembira," kata Setta pada wanita itu.
"Trimakasih banyak saya akan mengadakan tahlilan di rumah ini, Mas untuk putrinya Mbak Dea.
__ADS_1
Setelah itu mereka kembali ke rumah sakit di mana Dea berada saat ini.
Setta melangkah mendekati wanita yang duduk berjongkok di pusaran bernama Putri itu.
"Dea sudah lama?" tanya Setta sambil berjongkok,
Dea menoleh pada asal suara itu."Kau ada di sini?" tanyanya pada pria yang di sampingnya.
"Baru saja aku sampai aku ingin mengunjungi makam ayah dan Ibu, lalu melihatmu di sini aku ingin mengunjungi Putri dulu, ada apa tidak biasanya kau ada di sini, apa ada masalah?" tanya Setta pada Dea.
"Ta, ada seseorang menyukaiku, aku bingung harus jawab apa?"
"Sesuai kata hati mu saja, Dea," kata Setta.
"Aku sudah tua," kata Dea pada Setta
"Belum, hanya matang saja," kata pria itu pada Dea.
"Tidak terasa Relea sudah besar dan kita semakin tua, Ta," kata Dea.
"Sudah ku bilang kita belum tua usia kita baru 38 tahun andai kau ingin mempunyai anak pun masih bisa," kekeh Setta.
"Dia lebih muda dua tahun dariku, Ta," jelas Dea.
"Apa dia tampan?" tanya Setta
"Hemm," jawab Dea tersipu.
"Lebih tampan dariku?" tanya setta kembali.
"Kau ini jika Relea yang kau tanya pasti jawabannya iya," kata Dea tertawa.
__ADS_1
"Kenalkan dia padaku dan Zein serta Bunda Mira, karena kau tanggung jawab kami, aku dan Zein akan menilainya," kata Setta pada Dea,