Petaka Cinta Dwipangga

Petaka Cinta Dwipangga
Salah arah


__ADS_3

Awww...,, pekik Arumi


"Hufff...hampir saja gue jatuh ke jurang, kalau gue jatuh kesana gue bisa mati, Eh tapi kan gue sudah mati ya hi..hi..


Angga merasa ada sesuatu yang menindihnya tapi dia tidak melihat suatu benda pun di sana, yang ada hanya kelopak bunga mawar yang masih tersisa di sana.


"Kok gue jadi takut gini ya," gumannya kemudian dia bergegas menuju mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.


Angga tidak sadar kalau dia salah arah, bukannya arah pulang ke Jakarta malah dia mengarah ke Bandung.


"Setelah sekian lama menyetir dia baru menyadarinya kalau dia salah jalur. Dia pun Binggung ketika di daerah sana tidak banyak rumah-rumah penduduk karena memang belum memasuki kawasan perkotaan.


Angga masih tetap melajukan mobilnya dan sampailah dia di sebuah desa yang padat penduduk dan sudah maju, disana sudah ada pertokoan dan gedung-gedung penginapan walaupun tidak seperti di kota-kota. Angga berniat mencari penginapan di daerah sana karena malam sudah sangat larut.


Sampai lah dia di sebuah Penginapan yang tidak begitu besar, dia menghentikan mobilnya di sana dan segera masuk ke dalamnya. Angga segera menuju Resepsionis , tapi di tempat Resepsionis tidak ada orang, netranya melihat ada seorang pemuda yang terlihat sedang tidur di sofa yang ada di sana.


"Permisi ," ujarnya tapi pemuda itu hanya mengeliat saja sambil senyam-senyum sendiri dalam tidurnya. Angga mendekatinya dan mencoba menepuk kaki pemuda tersebut.


"Mas..mas..bangun, saya mau menginap di sini," ucap Angga, pemuda itu pun akhirnya mengerjap-ngerjaplan matanya lalu bangun dan melihat ke arah Angga.


"Ada apa ?" tanya pemuda itu dengan nada khas bangun tidurnya


"Saya mau menginap di sini, apa masih ada kamar kosong ?" Tanya Angga


"Kamar di sini semuanya sudah penuh," ujar pemuda itu lalu hendak melanjutkan tidurnya


"Saya akan bayar berapapun asalkan saya bisa menginap di sini malam ini," ujarnya, Angga berpikir mungkin ini satu-satunya tempat yang masih buka kerena memang malam sudah sangat larut.


Saat mendengar ucapan Angga pemuda itu langsung bangun kembali.


"Beneran kamu mau bayar berapapun ?" tanya pemuda itu berbinar

__ADS_1


"Apa segini cukup," ucap Angga sambil menyerahkan uang satu juta ke tangan pemuda itu, Pemuda itu terbelalak melihat jumlah uang itu.


"Apa masih kurang ?"


"Ini lebih dari cukup kok, ayo ikut saya," ucap pemuda itu lalu mengambil kunci kamar yang masih kosong.


Mereka berjalan beberapa saat dan menaiki tangga ke lantai dua dan terus ke lantai tiga, memang di sana tidak memiliki liff jadi untuk mencapai lantai tiga harus menggunakan tangga.


Angga ngos-ngosan saat sampai di lantai tiga gedung itu. Pemuda itu menuju ke kamar yang ada di pojokan lalu membuka pintunya dan mereka pun masuk ke sana.


"Ini kamarnya, kalau panas itu ada kipas angin tinggal di hidupkan saja," ucap pemuda itu, Angga ternganga melihat kamar itu yang luasnya hanya sebesar toilet di apartementnya.


"Apa tidak ada kamar lain yang lebih legaan ?" tanya Angga


"Tidak ada, ini satu-satunya kamar yang masih kosong, kalau mau ya syukur kalau gak ya gak apa-apa kamu bisa cari penginapan lainnya," ucap pemuda itu.


Semoga pemuda ini tidak membatalkannya, bisa-bisa gak jadi dapat satu juta nih,, batin pemuda itu


"Ya sudah kalau begitu saya jadi menginap di sini," ujar Angga karena dia sudah sangat letih untuk mencari penginapan lain.


Pemuda itu akhirnya lega karena Angga tidak jadi membatalkan untuk menyewa kamar itu. Dia pun segera pergi dari sana. Sedangkan Angga yang masih berada di depan pintu langsung masuk kesana dan menghidupkan kipas angin lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur.


"Ini kasur apa kayu sih, keras amat," ucapnya, Angga sangat tidak nyaman dengan keadaan tersebut, setelah beberapa kali membolak-balikan tubuhnya akhirnya dia tertidur juga.


Arumi masih saja mencari-cari keberadaan Angga, Dia tadi tertinggal di atas bukit karena asik dengan pikirannya. Saat dia melintasi jalan pedesaan itu dia melihat ada mobil Angga terparkir di depan sebuah penginapan yang tidak terlalu besar.


"Apa mungkin Angga menginap di sana, Ah.. tapi tidak mungkin kalau Angga menginap di sana, Angga kan orang kaya mana mungkin dia betah tidur di penginapan sekecil itu," Arumi ber argument sendiri.


"Tapi itu kan mobilnya Angga, apa mungkin mirip aja kali ya," ucapnya, dia hendak pergi tapi nalurinya mengatakan dia harus masuk ke penginapan itu.


"Ah gak ada salahnya gue ngecek ke dalam dulu, lagian gue udah capek muter-muter," ucapnya lalu masuk ke sana

__ADS_1


Saat Arumi masuk ke sana, dia melihat pemuda yang lagi menghitung uang di sofa yang berada di dekat pintu masuk penginapan itu.


"Banyak banget uangnya, beruntung sekali aku hari ini. coba saja sehari dapat lima pelanggan seperti pemuda itu bisa kaya raya aku," ucap pemuda itu masih menghitung Uangnya.


"Sepertinya memang Angga menginap di sini, tapi di kamar yang mana ya," guman Arumi


"Ah biar gue cari satu persatu aja, kan penginapan ini tidak begitu besar," ucapnya segera mengecek satu persatu kamar mulai dari lantai paling bawah.


Ada saja pemandangan yang di lihat Arumi di dalam kamar-kamar tersebut, ada yang sudah tertidur lelap dan ada juga yang masih olah raga malam pun dia melihatnya. Dan sampailah Arumi di lantai Tiga, beruntung dia memulai dari kamar di pojokan dan akhirnya Arumi bernafas lega karena sudah menemukan Angga di sana.


Huff..


Dia menghembuskan nafasnya kasar.


" Ternyata capek juga ya mencari keberadaan lo, Untung saja tadi gue gak pergi dari sini," ujarnya lalu menghempaskan tubuhnya di samping Angga.


Malam sudah berganti pagi, Arumi sudah bangun namun dia melihat kalau Angga masih terlelap. Arumi berencana berjalan-jalan sebentar di sekitar penginapan itu sambil menunggu Angga bangun dari tidurnya.


Saat dia berjalan melihat-lihat pemandangan di belakang penginapan itu ada sebuah tangan yang memegang pundaknya.


"Laura ngapain lo di sini ? bukannya lo masih tidur ya ?" tanya Parjo yang kebetulan lewat di sana, dia juga berjalan-jalan di sekitar sana karena menunggu Laura yang tak kunjung bangun juga.


"Siapa sih, sok kenal deh," ujar Arumi


"Laura lo lupa sama gue, gue Parjo pengikut lo, dan ini apa ? lo pakai gaun, sejak kapan penampilan lo berubah ?" tanya Parjo


"Gila kali ya lo, Laura..siapa Laura gue gak kenal. Gue Arumi bukan Laura."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


🌹 Jangan lupa Like..Coment dan Vote ya Readers...Agar miss N semangat Up nya.

__ADS_1


Makasih 🙏🙏🙏


__ADS_2