Petaka Cinta Dwipangga

Petaka Cinta Dwipangga
Kebahagiaan Laura lebih penting


__ADS_3

Apa...!Ja..jadi Laura sudah menikah ?" Panji lemah, dia sama kecewanya dengan Jessica, akan tetapi Jessica masih punya harapan sedangkan Panji malah sebaliknya. Jessica menarik tangan Panji menjauh dari Laura agar tidak mengganggu kosentrasi Para Dokter yang menanganinya.


Panji...apa sebesar itu cintamu pada Laura, sehingga kamu sangat terpukul mendengar kenyataan kalau Laura sudah menikah ,, Batin Jessica


"Panji...," Jessica memegang pundak Panji, Panji menoleh, terlihat Air mata masih mengenang di sudut mata indahnya itu.


"Panji..kamu yang sabar ya, mungkin Laura bukan Jodoh kamu, aku yakin kalau di luar sana masih banyak wanita yang lebih baik dan mencintai kamu,"


Salah satunya aku Panji, kenapa kamu tidak melihat ketulusanku mencintaimu Panji,, Batin Jessica


"Jes...apa aku kurang baik untuk dia, aku ke Jakarta hanya untuk mencarinya, aku tinggalkan pekerjaanku di sana agar aku bisa bersamanya, tapi apa yang aku dengar ini sangat menyakitkan hatiku Jess," ucapnya dengan penuh rasa kecewa.


"Apa aku kembali saja ke Kampung, biar bisa melupakannya," tanya Panji


"Jangan..! " Reflek Jessica menjawabnya dengan cepat.Panji mengernyitkan keninggya.


Mungkin ini waktu yang tepat untuk mengutarakan perasaanku yang sebenarnya padamu Panji, aku tidak mau menyesal nantinya ketika aku sudah kehilangan kamu, kalau kamu menolakku gak masalah yang oenting aku sudah berusaha mengutarakan cintaku padamu,, Batin Jessi

__ADS_1


"Panji...mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk aku mengatakan ini padamu, Jangan pergi Panji, aku gak mau kehilangan kamu karena..."


"Dokter Jessica..pasien kejang-kejang tolong bantu kami," ujar Dokter yang lagi menangani Laura, Tanpa aba-aba Panji langsung turun tangan dan akhirnya Kondisi Laura kembali stabil.


"Segitu besar kah cintamu padanya Panji, apakah masih ada ruang di hatimu buatku,, batin Jessica


Butiran bening jatuh di pipi Jessica, dia segera menghapusnya agar Panji tidak melihatnya.


"Alhamdulillah, Akhirnya selesai juga kita menjahitnya, dan kondisi pasien pun sudah stabil."ucap Dokter laki-laki itu sambil mengelap peluhnya.


Jessica dan Panji keluar dari ruangan itu, Angga yang melihat Jessi langsung menghampirinya.


"Alhamdulillah Ga, Laura sudah melewati masa kritisnya," sahutnya, Panji melihat ke arah Angga.


Jadi ini suaminya Laura, tampan sekali, pantesan saja Laura memilihnya untuk jadi suaminya,, Batin Panji merasa minder dengan Angga.


"Ga..kamu juga terluka, ayo ikut aku, biar aku obati ," ajak Jessica

__ADS_1


"Tidak Jess, aku belum tenang kalau belum melihat keadaan Istriku, aku di obati di ruangannya saja," ucap Angga, Jessi tidak bisa berkata apa-apa, kalau Angga sudah mengatakan seperti itu bagaimana pun dia memaksanya Angga tidak akan mau menurutinya.


"Baiklah kalau begitu, ayo kita masuk melihat keadaan Laura," ajak Jessi


"Panji kamu langsung keruanganku, biar aku saja yang mengobati Angga," suruh Jessica, Panji mengangguk dan kemudian dia pun pergi dati sana dengan perasaan kecewanya.


Tapi saat Panji mau belok menuju ke Ruangan Jessica seseorang memanggilnya.


"Nak Panji..! ini nak Panji kan ?"


"Bu Ratna...!


"Jadi kamu beneran nak Panji..., Ya Ampun nak Panji, sudah lama sekali kita gak bertemu ya nak ," ujar Ratna


"Iya Bu...setelah Laura ke Jakarta, saya juga pergi Ke Jakarta Bu," ujar Panji


"Nak Panji, maaf ya, Ibu gak bilang-bilang sama kamu kalau Laura ke Jakarta, dan maaf juga karena Laura sekarang..."

__ADS_1


"Gak apa-apa Bu Ratna, saya sudah tau kok kalau Laura sudah menikah," ucapnya memaksakan senyumannya. Ratna mengetahui kalau Panji sangat kecewa dengan pernikahan Laura itu, tapi apa boleh buat, dia juga gak bisa apa-apa karena kebahagiaan Laura lebih penting dari segalanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2