Petaka Cinta Dwipangga

Petaka Cinta Dwipangga
Bidadari kucel


__ADS_3

"Loh abang kok masih di sini ?"


"Ongkosnya neng," ujarnya


"Oh iya aku lupa ,"Laura mengambil uang sepuluh ribuan tiga lembar dan dua ribuan satu lembar dan memberikannya kepada kang ojek itu.


"Loh kak segini sih neng ?"


"Itu kan udah bener bang, malah udah di tambahin lagi,"


"Gak kek gini juga neng nambahnya "


"Loh kan yang penting nambah kan, tadi ongkosnya berapa ?


" tiga puluh,"


"Itu lebih gak ?"


"Iya.."


"Nah itu dah bener kan nambah, kan aku tadi bilangnya mau nambahin tapi aku gak sebut jumlahnya berapa kan ?


"Iya..


"Ya sudah kalau begitu, ayo cepat pergi sana," suruh Laura, kang ojek itu pun pergi dari sana dengan wajah kesalnya. tapi dia senyum-senyum sendiri karena ini pengalaman pertamanya mempunyai penumpang sableng seperti Laura dan yang membuat dia kagum adalah keberanian gadis itu dalam membela kebenaran.


Setelah kang ojek itu pergi Laura mulai mendekati gerbang tinggi itu.


"Ini gimana cara naiknya ya..kok ada ya rumah pagarnya tinggi kayak gini, kalau di kampung ku ini biasanya rumah pak Bupati nih yang sangat besar, tapi lebih besar rumah ini sih," ucapnya sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Laura mondar mandir di depan Gerbang itu sampai dia melihat sebuah cermin kecil yang berada di tiang gerbang itu, Laura mulai menhampirinya.


" Lebih baik gue ngaca dulu ah, ni bulu hidung udah panjang aja, padahal kemaren baru gue tebang." ucapnya.


"Laura ngapain sih lo di sini ? bukannya lo gedor aja gerbang itu," ucap Parjo

__ADS_1


Laura baru menyadari kalau dia tadi bersama Parjo, dia membalikkan tubuhnya dan menatap tajam ke arah Parjo .


"Iya..iya..gue jelasin kenapa gue ngikutin lo," ucap Parjo tau arti tatapan Laura itu.


"Sebenarnya gue kemaren itu sudah berniat buat tinggal kembali di bukit dan menghuni tepi jurang itu sampai jodoh gue datang dengan sendirinya, tapi Gendoruwo dan mbak Kunti memberi Ide agar gue tetap mengikuti lo secara diam-diam, selain bisa menjaga lo gue juga bisa mencari jodoh gue tanpa harus berdiam diri saja di tepi jurang sana," ceritanya


"Dasar Gegen dan kukun itu,, awas ya kalau gue pulang gue akan buat perhitungan sama mereka, sudah tau gue risih dekat-dekat sama lo masih saja mereka menyuruh lo ngikutin gue," ujarnya Marah.


"Lo jangan takut deh, gue bisa jaga jarak kok sama lo, tapi gue minta please ijinin gue mengikuti lo ya ?" ucapnya sambil menunjukkan Pupe Eyes nya.


"Kalau kek gini kan gue gak tegaan orangnya, tapi lo harus tetap di hukum," ujarnya


Apa...bisa-bisanya dia menghukum gue, harga diri gue sebagai hantu di lecehkan, tapi gue gak bisa nolak hukumannya karena cuma Laura yang bisa begitu sama hantu-hantu yang berada di sekitarnya, gak salah kalau teman-temannya menjulukinya Ratu Demit,, Batin Parjo


"Ya sudah deh, apapun hukumannya akan gue jalani asalkan lo ngijinin gue ikut kemanapun lo pergi.


"Eit..kalau soal itu nanti gue buat kortraknya dulu, kapan dan dimana saja lo boleh mengikuti gue, gue masih gak percaya sama lo,, sekarang yang terpenting lo harus bisa buka ni gerbang bagaimanapun caranya agar gue bisa masuk." suruhnya


"Oke..laksanakan," ucap Parjo lalu menembus pagar itu.Dia melihat-lihat sekelilingnya dan netranya melihat ke arah pos satpam yang tidak jauh dari gerbang itu.


"Pantesan saja gak ada yang tau kalau ada orang di luar, malah tadi lagi bercermin lagi di depan gerbang itu." guman Parjo


Parjo mencari akal agar Satpam itu terbangun dari tidurnya. dia mulai meniup-niup tengkuknya tapi satpam itu hanya mengeliat saja.


"Gak berhasil," ucap Parjo kesal kemudian menyentil telinganya Budi namun masih belum berhasil dan tiba-tiba perut Parjo sakit dan dari pantatnya keluarlah bom atom yang membuat hidung Budi kembang kempis di buatnya, seketika mata Budi mengerjap-ngerjap sambil menutup hidung dengan tangannya.


"Siap sih yang buang gas di sini, malah bau banget lagi," ucap Budi sambil melihat kesana kemari tapi tidak ada seorang pun disana , di sana cuma ada dia saja.


"Ah apa mungkin punya gue sendiri ya?" ucapnya sambil senyam-senyum sendiri.


Budi memandang ke arah layar monitor CCTV dan dia menangkap sosok seorang gadis yang lagi bercermin di depan gerbang itu sambil membuka-buka lobang hidungnya.


Budi sempat tertawa cekikikan melihatnya, namun dia menyadari kalau gadis itu sangat mencurigakan.


"Ngapain dia berdiri di sana , gak mungkin kan mau bertamu, setahu gue teman-temannya mas Angga dan mbak Anggi orang- orang kaya semua deh, sedangkan gadis itu terlihat kucel dan kampungan, malah gak pakai mobil lagi atau mungkin gadis itu lagi memantau rumah itu menjadi target perampokan selanjutnya ya," Budi berasumsi sendiri.

__ADS_1


"Aku harus mencegahnya sebelum gadis itu terlalu lama di sana, kalau sampai Pak Rama pulang bisa berabe nih," ucapnya sambil menekan tombol merah untuk membuka gerbang itu.


Laura kaget tiba-tiba gerbang itu terbuka sendiri tanpa ada orang yang membukanya.


"Wiiih..Canggih bener,, pakai remot kali ya kayak di Film-Film ," ujarnya takjub, lalu dia bergegas masuk ke sana.


Tapi sebelum dia melangkahkan kakinya lebih jauh lagi, Budi menghadangnya.


"Mau kemana Lo ? ujar Budi sambil merentangkan tangannya di depan Laura.


Laura tersenyum manis ke arah Budi, sejenak Budi terpana akan kecantikan gadis itu.


"Ya salam...cantik bener nih cewek walaupun kelihatannya kucel sih, kayak Bidadari kucel aja," guman Budi


Sesaat Budi tetpesona akan kecantikan gadis di depannga, Akhirnya dia kembali sadar akan tugasnya yang harus menjaga mansion itu dari orang yang berniat jahat.


"Bapak tanya saya ?" bukannya menjawab Laura malah nanya balik.


"Emangnya selain Lo masih ada orang lain di sini ? ya saya tanya Lo lah," ucapnya masih ada di posisi yang tadi.


"Ooo saya pikir bapak nanya si Parjo," ujar Laura yang membuat kening Budi berkerut.


"Parjo..siapa Parjo ?" tanya Budi, Laura mulai mendekatkan mulutnya di telinga Budi.


"Parjo itu Hantu yang mengikuti saya pak," bisiknya tepat di telinga Budi hingga membuat Budi merinding. Bukan karena ucapan Laura tapi nafas Laura yang mengenai telinganya.


"Jangan bercanda Li, gue tau kalau Lo mau berniat jahat kan datang kerumah ini ?" tuduh Budi.


"Emangnya saya ada tampang penjahat apa," tanya Laura


"Enggak sih, Lo cantik,"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


🌹Read...Like...Coment...Vote...

__ADS_1


Thank's 🙏🙏🙏


__ADS_2