
Angga masih saja tidak beranjak sedikitpun dari samping Laura, bahkan dia rela kelaparan kerena Laura belum siuman juga.
"Angga..kamu makan dulu nak, nanti kamu malah sakit lagi," suruh Sinta
"Enggak Ma, Angga gak lapar, Angga masih mau di samping Laura."
"Sayang...kalau Laura tau kamu seperti ini Dia juga akan sedih, Laura itu gak mau melihat kamu sakit sayang,apa kamu gak kasihan kalau nanti dia bangun malah kamu yang sakit," ucap Sinta.
"Tapi ma...
"Gak ada Tapi-tapian sayang, ini kamu mau makan sendiri atau mau mama suapin ?
"Iya ma nanti aku makan ," ujarnya masih belum beranjak dari duduknya.
"Angga..." ujar Sinta sambil geleng-geleng kepalanya melihat putrannya itu. Sinta kemudian berinisiatif untuk menyuapi Putranya itu.
"Ma...Angga sudah bilang, nanti Angga makan ," ucapnya sedikit meninggi, Sinta merasa sedih, dia menaruh piring itu di atas meja lalu hendak beranjak pergi.
"Ma...maafin Angga ya, Angga gak bermaksud membentak Mama," ucap Angga memegang tangan Sinta lalu menciumnya.
__ADS_1
Sinta tersenyum dan berbalik menghadap ke arah Angga.
"Sayang..mama yang seharusnya minta maaf sama kamu, seharusnya mama tidak memaksa kamu makan kalau kamu gak mau," ucap Sinta
"Tidak ma, mama gak salah kok, Angga akan makan nasinya, ayo ma kita duduk dan mama suapin Angga," ujar Angga seperti seorang anak kecil yang lagi manja sama Ibunya.
Sinta pun tersenyum, dia senang karena Angga sudah mau makan. Sinta mengambil sesendok nasi lalu menyuapkan ke arah Angga, Air mata Sinta menetes di pipinya.
"Loh kok mama nangis sih ma," ucap Angga sambil menghapus air mata Sinta
"Enggak sayang, mama tidak menangis, mama hanya teringat waktu kamu kecill dulu, kamu gak mau makan kalau mama suapin kamu," ujar Sinta tersenyum mengingat kenangan itu
"Sayang..kamu sudah bangun ? apa kamu masih merasakan sakit ?" tanya Angga, padahal dia tau kalau Laura masih kesakitan karena lukanya.
"Gak kok sayang, malahan aku sekarang sangat lapar, aku mau juga di suapi sama mama seperti kau tadi," ujar Laura, Angga mengambil makanan yang ada di tangan mamanya lalu menyuapkan ke mulut Laura, tapi Laura tidak membuka mulutnya.
"Ayo sayang di buka dong mulutnya," ujar Angga
"Aku maunya di suapin sama mama," ujar Laura
__ADS_1
"Ya sudah...bawa sini makanannya Ga, biar mama yang suapin Laura," Angga memberikan makanan itu ke tangan Mamanya.
Wajah Angga kesal, padahal dia ingin memanjakan Istrinya itu, tapi apa daya istrinya tidak mau di manjakan olehnya.
"Satu suap lagi," ujar Sinta
Suapan terakhir pun sudah ludes masuk ke mulut Laura, ternyata apa yang di katakan oleh Laura itu kalau dia Lapar sekali benar adanya, gak butuh waktu lama dia sudah menghabiskan makanan itu.
Laura tersenyum ke arah Angga, dia tau kalau suaminya itu kesal padanya, tapi entah kenapa Dia sangat Ingin di suapi oleh mama mertuanya itu.
"Sayang...sini dong kupasin buah buat aku," suruh Laura, Sinta yang mengerti pamit keluar dan kini tinggallah hanya mereka berdua di sana.
Angga merasa senang karena mamanya mengerti akan keinginannya berdua saja dengan Laura. Angga berjalan menghampiri Laura, dia mengambil jeruk lalu mengupasnya dan memasukkan ke dalam mulut Laura, Laura tersenyum melihat wajah senang dari Angga itu, dia berhasil membiat suaminya jadi gak kesal lagi padanya.
"Sayang...aku sangat takut, aku gak bisa bayangin kalau kemarin kamu gak selamat," ucap Angga meneteskan Air matanya, Laura tersenyum.
"Sayang..aku rela kok tiada asalkan kamu tetap hidup," ujar Laura
"Jangan pernah mengatakan itu lagi, dan jangan pernah kamu berpikir untuk meninggalkan aku, aku gak bisa membayangkan kalau hidupku tanpa kamu sayang.."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...