Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 10 Kejutan


__ADS_3

Siapa yang tidak kaget ketika akan makan mendapatkan pesan yang memperingatkan kita agar tidak memakan makanan yang akan kita makan.


Begitu pula dengan Hani. Dia benar-benar kaget ketika Abhiyasa memperingatkannya agar tidak memakan makanan yang diberikan olehnya.


"Apa maksudnya pesan ini?" gumam Hani sambil melihat pesan tersebut.


Sedetik kemudian dia menghubungi Abhiyasa untuk bertanya padanya.


Halo, terdengar suara Abhiyasa yang menyapanya.


"Abhi, apa maksud dari pesanmu barusan?" tanya Hani dari telepon.


Terdengar suara kekehan dari Abhiyasa. Hal itu membuat Hani bertambah kesal padanya.


"Abhi!" seru Hani dengan kesal.


Apa sih Honey….? tanya Abhiyasa yang terdengar manja sedang menggoda Hani.


"Ini ada apa sebenarnya? Aku sudah sangat lapar Abhi. Jangan buat aku jadi tambah emosi deh," rengek Hani dengan kesalnya.


Maaf… maaf Hani. Aku hanya bercanda, ucap Abhiyasa sambil terkekeh.


"Bercanda?" tanya Hani sambil mengernyitkan dahinya.


Iya, bercanda. Maaf ya, jawab Abhiyasa sambil terkekeh.


"Abhi!!!" seru Hani sekuat tenaga hingga membuat Abhiyasa yang ada di seberang sana semakin terkekeh.


Dengan kesalnya Hani mengakhiri panggilan teleponnya. Dia melampiaskan kekesalannya pada ponselnya yang dilemparkan begitu saja di atas mejanya.


Tanpa menunggu lama, dengan perasaan kesalnya, Hani segera menyantap makanannya.


Di dalam hatinya dia menggerutu memaki Abhiyasa. Setiap makanan yang di sendokkan ke dalam mulutnya berisi kekesalannya pada si pemberi makanan tersebut.


Waktu berlalu, semua pekerjaan Hani sudah selesai dikerjakannya. Dia tersenyum dan menatap bangga pada tumpukan map yang ada di atas mejanya.


"Rasanya lelah sekali," ucap Hani sambil meliukkan badannya ke kanan dan ke kiri.


Pandangan mata Hani kini beralih menatap jam yang tergantung di dinding ruangannya.


"Huuufffttt… sudah malam juga ternyata," ucap Hani dengan lesu.


Segera dia membereskan mejanya dan memasukkan barang-barang miliknya ke dalam tas. 


"Sudah beres semua. Yuhuuuu… aku pulang…!" seru Hani dengan riangnya ketika akan beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Tiba-tiba gerakannya terhenti setelah berdiri dari duduknya. Senyumnya memudar dan dia hanya diam saja melihat ke arah pintu ruangannya yang sedikit terbuka.


Mata Hani terbelalak dan bulu mata lentiknya naik turun melihat sosok seseorang yang kini berdiri di pintu ruangannya. 


Orang tersebut tersenyum melihat tingkah Hani yang seolah menghiburnya. Dia hanya tersenyum melihat Hani tanpa berkata-kata.


Sedangkan Hani, dia masih sibuk tertegun melihat sosok tersebut, hingga mulutnya sedikit terbuka.


"Mulutnya ditutup Hani, biar gak kemasukan nyamuk," ucap orang tersebut sambil terkekeh.


Seketika Hani menutup mulutnya. Detik itu juga dia sadar jika telah melakukan hal bodoh sehingga membuat orang tersebut menertawakannya.


"Abhi?! Kenapa kamu bisa masuk ke sini?" tanya Hani dengan gugup.


Abhiyasa terkekeh melihat reaksi kaget ketika Hani baru saja tersadar melihatnya.


"Aku bukan penyusup. Dan aku masuk melalui pintu. Jadi, jangan kaget seperti itu, Hani…," sahut Abhiyasa sambil terkekeh.


Hani berjalan menuju arah pintu dan mendorong tubuh Abhiyasa agar tidak menghalanginya keluar dari ruangannya. 


"Wow… kuat juga ternyata kamu Hani," ujar Abhiyasa sambil berjalan mengikuti Hani di belakangnya.


Hani mengacuhkan Abhiyasa. Dia tidak menoleh ataupun menanggapi perkataan Abhiyasa.


"Pak, kenapa dia bisa masuk ke ruangan saya?" tanya Hani dengan ketus pada satpam yang berjaga di sana.


"Ya masalahnya tidak boleh memberi ijin masuk sembarang orang ke dalam Pak," sahut Hani yang bertambah kesal mendengar jawaban dari satpam tersebut.


Satpam tersebut terkekeh mendengar perkataan Hani. Kemudian dia berkata,


"Tapi saya perhatikan kok Mbak dari sini. Mas ini tidak masuk ke dalam ruangan Mbak. Mas ini tadi cuma berdiri di depan pintu dan pintunya pun terbuka. Lagi pula saya memberi Mas ini ijin karena Mas ini sendiri yang mengatakan cuma hanya berdiri di depan pintu dan akan membiarkan pintunya tetap terbuka Mbak. Maka dari itu saya mengijinkannya."


Mendengar pembelaan dari mulut satpam tersebut membuat Hani semakin kesal. Dia menatap kesal pada satpam tersebut dan Abhiyasa secara bergantian.


Melihat senyum mereka berdua membuat kekesalan Hani semakin bertambah. Dia segera masuk ke dalam mobilnya dan sedikit membanting pintu mobilnya untuk melampiaskan kekesalannya.


"Pak, saya permisi dulu. Terima kasih Pak atas bantuannya," ucap Abhiyasa pasa satpam tersebut.


Tok… tok… tok…


Abhiyasa mengetuk kaca jendela mobil Hani dari luar. Dia memerintahkan Hani untuk menurunkan kaca jendelanya dengan memberi kode melalui tangannya.


Dengan wajah kesalnya itu, dia mengikuti perintah Abhiyasa untuk menurunkan kaca jendelanya.


"Ada apa?" tanya Hani dengan sinis pada Abhiyasa.

__ADS_1


"Judes banget Neng," sahut Abhiyasa sambil terkekeh.


Hani mencebik kesal pada Abhiyasa yang sedang menggodanya. Kemudian dia berkata,


"Apaan? Ayo buruan bilang. Aku sudah sangat lapar sekarang."


Setelah mendengar perkataan Hani, Abhiyasa membuka pintu mobil Hani dan menariknya keluar dari mobil tersebut.


"Iiih… ngapain sih?" rengek Hani yang merasa terganggu oleh Abhiyasa.


Abhiyasa memegang kedua pundak Hani dan membantunya berjalan memutar untuk duduk di kursi penumpang sebelah kursi pengemudi.


Hani yang sudah sangat lapar dan lesu seolah tidak bertenaga, dia tidak bisa menahan langkahnya ketika badannya didorong oleh Abhiyasa.


"Kenapa aku jadi duduk di sini?" tanya Hani dengan wajah bingungnya.


"Laki-laki yang sangat bertanggung jawab ini akan menjadi sopir mu sekarang," jawab Abhiyasa sambil tersenyum manis pada Hani.


Seketika Hani terpanah melihat senyuman manis Abhiyasa. Lagi-lagi dia dibuat terpanah seolah lupa akan segalanya karena senyuman yang diberikan oleh Abhiyasa padanya.


Melihat reaksi Hani, ingin sekali Abhiyasa kembali menggoda dan menjahilinya. Sayangnya Abhiyasa sadar jika sekarang bukan saat dan pada tempat yang tepat untuk menggoda dan menjahili Hani.


Abhiyasa segera duduk di kursi pengemudi dan dia mengemudikan mobil tersebut dengan santai melewati jalanan yang sudah mulai lenggang.


"Kenapa pulang selarut ini?" tanya Abhiyasa dengan pandangan matanya yang tetap fokus pada jalanan.


Hani menyandarkan punggungnya lebih santai seraya berkata dengan lemas,


"Banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini juga."


Sekilas Abhiyasa melihat ke arah Hani, kemudian dia kembali fokus pada kemudinya.


"Pasti kamu belum makan," tebak Abhiyasa tanpa melihat ke arah Hani.


"Kan tadi aku sudah bilang. Aku sangat lapar sekali Abhi…," sahut Hani dengan lemas.


"Sudah bisa ku tebak. Maka dari itu aku menjemputmu dan sengaja menjadi sopir mu," ujar Abhiyasa dengan percaya dirinya.


Sontak saja Hani yang baru saja memejamkan matanya, kini membuka kembali matanya dan menatap Abhiyasa dengan tatapan heran.


Abhiyasa mengerti jika saat ini Hani sedang menatapnya. Dia hanya bersikap sok cool dengan menatap lurus memperhatikan jalanan yang ada di hadapannya.


Merasa diacuhkan oleh Abhiyasa, dia kembali bersandar dengan nyaman dan memejamkan matanya. 


Abhiyasa melirik ke arah Hani. Dia tersenyum melihat Hani yang sedang memejamkan matanya.

__ADS_1


Sepertinya keputusanku sangat tepat untuk menjemputmu. Kamu kelihatan sangat lelah sekali, Abhiyasa berkata dalam hatinya.


"Awwww… awwwww…."


__ADS_2