Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 12 Malu


__ADS_3

Hani menatap Abhiyasa yang sedang menebus obat di apotek. Dia duduk tidak jauh dari apotek rumah sakit tersebut.


Perkataan Aulia tadi membuat Hani merasa tidak nyaman. Tapi dia juga merasa bahwa dirinya sangat beruntung.


Dari dulu Abhiyasa memang sangat cuek pada perempuan. Banyak perempuan yang menaruh hati padanya, sayangnya dia hanya mengacuhkannya. Dari dulu aku menyukainya. Dan sekarang aku akan mengatakan padanya, bagaimana perasaanku padanya selama ini. Jika kamu memang pacarnya, tolong beri aku kesempatan untuk menyatakan perasaan cintaku padanya. Bahkan aku lebih dulu mengenalnya daripada dirimu.


Perkataan Aulia pada Hani di ruang IGD itu masih saja terngiang di telinganya. Bahkan Hani merasa tidak nyaman saat ini.


Namun, dia merasa sangat senang ketika mengetahui jika Abhiyasa sangat cuek pada perempuan. Dalam hati dia berkata,


Apa itu berarti aku harus bangga dan senang karena mendapatkan perhatian dari Abhiyasa? Bahkan dia pernah mengajakku untuk berpacaran, meskipun hanya bercanda.


Abhiyasa kembali duduk di dekat Hani sambil membawa kantong plastik yang berisi obat-obatan milik Hani.


"Sebaiknya kamu minum dulu obat yang diminum sebelum makan. Setelah ini kita akan pergi membeli makanan," tutur Abhiyasa sambil meletakkan obat yang akan diminum oleh Hani di telapak tangan Hani.


Setelah itu dia membuka penutup botol mineral water dan memberikan botol yang tutupnya sudah terbuka tersebut pada Hani seraya berkata dengan lembut,


"Minumlah."


Hani menelan obat tersebut dan mengambil botol mineral water dari tangan Abhiyasa untuk meminumnya.


Setelah Hani meminum obatnya, dengan gerakan cepatnya Abhiyasa menggendong tubuh Hani menuju parkiran mobilnya.


Hani menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Abhiyasa. Dia malu karena banyak pasang mata yang melihat ke arahnya.


Semua ini karena Abhiyasa yang tidak mau menggunakan kursi roda untuk membawa Hani menuju parkiran mobilnya. Dia lebih memilih untuk menggendong Hani ketika Aulia memberinya kursi roda untuk Hani.


Ada rasa bahagia dalam hati Hani karena Abhiyasa menolak kursi roda yang diberikan Aulia padanya dan lebih memilih untuk menggendong dirinya.


Namun, dia malu ketika banyak orang melihat ke arahnya. Dia merasa jadi pusat perhatian banyak orang saat ini ketika dia berada dalam gendongan Abhiyasa.

__ADS_1


Abhiyasa benar-benar menjaga Hani. Dia mendudukkan dengan hati-hati tubuh Hani pada jok mobil yang ada di samping pengemudi.


"Kita makan di mana?" tanya Abhiyasa setelah duduk di kursi pengemudi.


Abhiyasa menoleh ke arah samping. Dia ingin mengetahui jawaban dari Hani.


"Terserah kamu saja. Aku tidak ingin apa-apa. Mulutku terasa pahit," jawab Hani dengan lemah.


Abhiyasa mendekatkan tubuhnya pada Hani. Wajah mereka saling berhadapan. Bahkan mata mereka saling bertemu.


Tatapan mata mereka terkunci satu sama lainnya, seolah menyelami perasaan masing-masing.


Bagai terhipnotis, Hani tidak melihat apa pun kecuali wajah dan mata Abhiyasa yang berjarak hanya beberapa sentimeter dari wajahnya.


Dengan cekatannya tangan Abhiyasa memasangkan sabuk pengaman pada tubuh Hani.


Klik!


"Pakai sabuk pengamannya, agar selamat sampai tujuan," tutur Abhiyasa sambil terkekeh.


Abhiyasa menahan tawanya. Dia hanya tersenyum tipis agar Hani tidak marah padanya. Dia pun melajukan mobilnya dengan santai agar Hani tidak merasakan mual pada perutnya.


Mobil tersebut berbelok pada restoran yang terlihat mewah. Hani menoleh ke arah Abhiyasa yang masih sibuk memarkir mobilnya.


"Abhi, kenapa kita harus ke restoran? Aku sedang tidak berselera makan, lebih baik kita ke warung atau resto biasa saja," ucap Hani dengan wajah sedikit pucatnya.


Abhiyasa melepaskan sabuk pengamannya. Dia menoleh ke arah Hani dan berkata,


"Di sini menjual bubur ayam yang sangat enak. Kamu harus mencobanya."


Dahi Hani mengernyit, dia memandang dengan tatapan menyelidik pada Abhiyasa seraya berkata,

__ADS_1


"Dari mana kamu tau?"


Abhiyasa tersenyum melihat perempuan di hadapannya itu sedang mencari tahu tentang dirinya. Dia kembali memajukan badannya dan berkata,


"Apa perlu bantuanku lagi untuk melepaskan sabuk pengaman ini?" 


Seketika tangan Hani melepas sabuk pengamannya. Dalam hati dia berkata,


Hani… Hani… bodoh sekali kamu. Harusnya kamu ingat jika kamu masih memakai sabuk pengaman. Malu kan kalau sampai Abhiyasa melepaskannya. Bisa-bisa wajahmu merona lagi seperti tadi saat dia memakaikan sabuk pengamanmu.


Abhiyasa tersenyum melihat tingkah lucu Hani. Tanpa menunggu lama dia segera keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil Hani.


"Silahkan Honey," ucap Abhiyasa sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Hani keluar dari mobilnya.


Hani terkekeh melihat tingkah Abhiyasa yang masih saja menggodanya. Dia menyambut uluran tangan Abhiyasa dan beranjak keluar dari mobilnya.


Namun, setelah dia menutup pintu mobilnya, tiba-tiba saja dia merasakan tubuhnya melayang. 


Ternyata saat ini Abhiyasa sedang menggendongnya. Semburat merah kembali menghiasi wajahnya. Bahkan kaki ini jantungnya berdegup dengan sangat kencang.


"Abhi, turunkan aku. Malu dilihat banyak orang. Lagi pula aku bisa berjalan. Nanti dikira orang-orang aku tidak bisa berjalan," ucap Hani lirih sambil memandang wajah Abhiyasa.


Abhiyasa tersenyum mendengar perkataan Hani. Bahkan tatapan mata mereka beradu. Sayangnya dalam keadaan seperti itu Abhiyasa tidak bisa menjahilinya. Dia hanya berkata,


"Abaikan saja orang lain. Yang terpenting buatku kamu tidak sakit."


Tentu saja perkataan Abhiyasa itu membuat Hani merasa sangat berarti. Dia tidak memberontak karena dia sibuk dengan perasaannya. Hatinya terasa seperti dipenuhi dengan beraneka macam bunga dan jantungnya berdegup sangat kencang layaknya dia sedang menaiki roller coaster.


"Silahkan Tuan," ucap seorang laki-laki yang membukakan pintu bagi mereka.


Abhiyasa berjalan dengan santainya menggendong Hani menuju ruangan VIP tanpa bertanya pada waiter ataupun waitress yang ada di sana.

__ADS_1


Dalam gendongan Abhiyasa, Hani menatap heran padanya dan berkata dalam hatinya,


Kenapa dia sepertinya hafal sekali tempat ini? Apa dia sering datang kemari?


__ADS_2