Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 20 Galau


__ADS_3

Di dalam kamarnya, Hani merasa galau. Dia masih saja memikirkan tentang permintaan Aulia. Di samping itu dia juga memikirkan perasaannya yang sudah mencintai Abhiyasa dan tidak ingin kehilangannya.


Namun, dia teringat akan perbedaan mereka. Perbedaan keyakinan yang sangat sulit untuk disatukan. Bahkan mereka berdua tidak tahu akan mendapatkan restu atau tidak dari kedua orang tua mereka.


"Huuuffffttt… aku harus bagaimana?" 


Pertanyaan Hani itu terasa begitu menyesakkan dadanya. Bahkan helaan nafasnya terdengar sangat berat.


Begitu pula dengan Abhiyasa. Dia merasa galau karena Hani yang sepertinya tidak mau bertatap mata dengannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Abhiyasa sambil menatap langit-langit kamarnya.


Sejenak kemudian dia duduk dari tidurnya dan berkata,


"Apa ini ada hubungannya dengan Aulia? Apa dia akan melakukan yang Aulia minta padanya?" 


Mereka berdua sama-sama tidak pernah menjalin hubungan dengan lawan jenisnya. Dan mereka berdua juga sama-sama merupakan cinta pertama bagi keduanya.


Kegalauan mereka membuat hati mereka tidak tenang. Bahkan mereka tidak bisa tidur hanya karena memikirkan tentang hati mereka, perasaan mereka dan hubungan mereka.


Keesokan paginya, seperti biasa Abhiyasa berolahraga pagi setelah dia melaksanakan shalat subuh. 


"Kenapa masih sepi? Apa dia belum bangun?" gumam Abhiyasa sambil menggerakkan badannya dan melihat ke arah rumah Hani.


"Lebih baik aku berolahraga di sini saja," ucap lirih Abhiyasa sambil meneruskan gerakannya.


Banyak sekali tetangga yang sedang lewat dan menyapa Abhiyasa. Bahkan ada juga bapak-bapak yang mengajak Abhiyasa untuk jogging bersama, tapi dia menolaknya dengan alasan menunggu seseorang.


Lama dia berada di depan rumahnya hanya untuk menunggu Hani keluar dari rumahnya, sayangnya Hani tak kunjung keluar dari rumahnya.


"Apa dia masih sakit? Atau mungkin dia pingsan? Gawat, sepertinya aku harus melihatnya," ucap Abhiyasa yang terlihat sangat khawatir pada Hani.


Dengan segera dia berjalan menuju rumah Hani. Diketuknya berkali-kali pintu rumah Hani seolah dia tidak sabar untuk dibukakan pintunya.


Namun, pintu itu terbuka ketika Abhiyasa mencoba menggerakkan handle pintunya. Tanpa pikir panjang lagi Abhiyasa masuk ke dalam rumah tersebut dan berteriak dengan panik meneriakkan nama gadis yang dicarinya.


"Honey…! Honey…! Di mana kamu Honey?!"


Tiba-tiba Hani keluar dari kamarnya dengan berpakaian lengkap seragam kerjanya.

__ADS_1


"Abhi?! Ada apa teriak-teriak? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Hani dengan memandang heran pada Abhiyasa.


Abhiyasa bernafas lega sambil mengusap dadanya. Kemudian dia tersenyum pada Hani dan berkata,


"Syukurlah kamu baik-baik saja."


Hani mengernyitkan dahinya seraya berkata,


"Memangnya aku kenapa?"


Abhiyasa memegang kedua pundak Hani dan menatap matanya dengan lekat. Kemudian dia berkata,


"Aku sangat khawatir padamu. Dari tadi aku menunggumu di depan. Tapi rumah ini terlihat sangat sepi. Pada saat aku mengetuk pintu, ternyata pintu rumahmu bisa terbuka dengan mudahnya. Aku kira ada yang terjadi padamu."


Hani tersenyum menenangkan hati Abhiyasa. Dia memegang kedua tangan Abhiyasa yang ada di pundaknya dan melepaskannya dari pundaknya seraya berkata,


"Kamu gak perlu cemas Abhi. Aku sudah pernah tinggal sendiri. Dan aku baik-baik saja sampai sekarang. Lebih baik kamu segera mandi dan ganti baju. Aku akan berangkat sebentar lagi."


Abhiyasa memegang tangan Hani untuk menghentikan Hani yang akan kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Hani, aku dinas malam," ucap Abhiyasa yang terdengar sangat berat di telinga Hani.


Hani menoleh ke belakang menghadap Abhiyasa. Dia kembali memberikan senyumnya dan berkata,


Abhiyasa terkekeh mendengar perkataan Hani yang terdengar lucu di telinganya. Kemudian dia berkata,


"Aku bukan meminta ijin mu Honey. Aku hanya memberitahu kamu saja."


"Iya aku ngerti. Aku hanya merasa lucu saja mendengar mu mengatakan itu padaku. Toh kita juga belum menikah. Jadi kamu bisa melakukan apa saja tanpa memberitahukan padaku," ucap Hani di sela kekehannya.


Mendengar kata menikah keluar dari mulutnya membuat Hani kembali galau. Begitu pula dengan Abhiyasa.


Abhiyasa menghentikan tawanya. Dia menatap intens mata Hani seolah menyelami perasaannya. Sayangnya dia tidak bisa mengatakan tentang pernikahan karena perbedaan mereka yang masih belum bisa mereka temukan jalan keluarnya. Kemudian dia berkata,


"Honey, tolong jangan buat aku khawatir. Semalam aku gak bisa tidur hanya karena kamu bersikap aneh padaku. Apa ada yang terjadi tanpa sepengetahuanku? Atau mungkin ada yang kamu pikirkan? Beritahu aku agar aku bisa membantumu."


Hani membalikkan badannya seraya berkata,


"Aku akan bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Aku takut telat nantinya."

__ADS_1


Setelah itu Hani masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya.


Abhiyasa tidak bisa melakukan apa pun. Dia tidak bisa memaksakan kemauannya pada Hani. Biarlah Hani yang mengatakan padanya nanti. Dan dia yakin jika Hani pasti akan mengatakan padanya. Mungkin bukan sekarang, tapi nanti. Entah kapan dia juga tidak mengerti.


Dengan langkah beratnya Abhiyasa keluar dari rumah Hani. Dia menatap nanar pintu rumah tersebut seolah tidak tega untuk meninggalkannya.


"Sebaiknya aku cepat-cepat mandi dan berganti pakaian sebelum dia berangkat bekerja," gumam Abhiyasa sambil berlari kecil masuk ke dalam rumahnya.


Dengan cepatnya Abhiyasa mandi dan berganti pakaian. Dia tidak mau tertinggal oleh Hani yang akan berangkat bekerja.


Hani melihat ke sekitar rumahnya. Dia tampak kecewa karena tidak melihat Abhiyasa yang dicarinya. Bahkan dia melihat ke arah rumah Abhiyasa dan raut wajah kecewanya itu masih saja menyertainya.


"Ke mana dia? Apa dia menghindari ku karena sikapku tadi? Atau mungkin dia kecewa padaku?" Hani bertanya-tanya sambil mencari tahu keberadaan Abhiyasa di rumahnya.


Namun, matanya masih saja tidak menemukan sosok Abhiyasa di sana. Dia menghela nafasnya dan masuk ke dalam mobilnya.


"Sudahlah Hani. Mungkin ini yang terbaik untuk kalian," gumam Hani seraya memakai sabuk pengamannya.


Setelah itu dia menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan rumahnya dengan rasa kecewa dalam hatinya.


Secepat apa pun Abhiyasa mandi, tetap saja dia tidak bisa mendahului keberangkatan Hani untuk bekerja. Dia tidak menemukan mobil Hani yang biasanya terparkir di halaman rumahnya.


"Ck, seharusnya aku tadi gak usah mandi," gerutu Abhiyasa penuh dengan kekecewaan.


Setelah itu dia berlari masuk ke dalam garasi rumahnya untuk mengambil motor sport nya. 


"Ayo Lucky, kita kejar Nyonya Abhiyasa sekarang," ucap Abhiyasa sambil mengegas motornya.


Abhiyasa melajukan motornya dengan kecepatan tinggi untuk mengejar mobil Hani yang diprediksi masih berada di jalanan.


Sayangnya jalanan pagi itu sangat lenggang, sehingga Hani bisa sampai di kantor tanpa merasakan macetnya jalanan di pagi hari.


Pas sekali ketika mobil Hani masuk ke dalam parkiran kantornya, Abhiyasa sampai di depan kantor Hani. 


Abhiyasa tersenyum melihat mobil Hani yang tiba di kantor dengan selamat. Bahkan dia melihat Hani yang keluar dari mobilnya.


"Syukurlah dia sampai dengan selamat," gumam Abhiyasa sambil tersenyum dalam helm full face nya.


Setelah itu dia melajukan kembali motornya meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Hani menoleh ke arah Abhiyasa berada. Dia merasa jika ada yang sedang memperhatikannya. Sayangnya fia tidak menemukan apa pun di sana. Kemudian dia berkata,


"Apa itu kamu Abhi? Kemarin kamu ada di tempat itu. Tapi sekarang aku seperti kehilangan mu. Sedang apa kamu sekarang Abhi?"


__ADS_2