
Hani salah tingkah ketika Abhiyasa menanyakan tentang belanjaannya. Dia malu, dia tidak ingin Abhiyasa mengetahui bahwa saat ini dia sedang mencari tahu tentang agamanya.
Dia hanya tertarik untuk mempelajarinya. Dan dia belum menentukan pilihannya untuk berpindah keyakinan atau tidak. Karena dia tahu jika Abhiyasa juga menghargai keyakinan yang dimiliki Hani sehingga dia tidak memaksakan keyakinannya pada Hani.
"Apa itu Honey? Kamu habis belanja?" tanya Abhiyasa yang menatap heran pada kekasihnya.
Hani yang masih berdiri di luar dengan segera mengangkat dua kantong plastik besar itu dan dipindahkan ke bagasi mobilnya.
Kemudian dia kembali duduk di dalam mobil dan berkata,
"Hanya beli buku saja Abhi. Aku sangat membutuhkan buku-buku itu."
Abhiyasa masih saja menatap curiga padanya. Dan Hani merasakan itu.
Hani menghadap ke arah Abhiyasa dan tersenyum manis padanya. Kemudian dia berkata,
"Kamu gak berpikiran macam-macam kan Abhi?"
Abhiyasa yang masih menatap kekasihnya itu tersenyum mendengar pertanyaan darinya. Dan dia pun berkata,
"Bepikiran macam-macam gimana? Aku hanya heran melihat kamu yang sepertinya melarang ku untuk melihat barang belanjaan mu."
Seketika bibir Hani mengerucut. Dia menatap lurus ke arah depan, seolah menikmati pemandangan jalan yang ada di hadapannya seraya berkata,
"Bukannya melarang. Hanya saja aku gak mau kamu tau apa yang aku beli tadi. Karena itu semua tentang wanita."
"Jadi… buku-buku tadi itu semuanya tentang wanita?" tanya Abhiyasa dengan dahinya yang berkerut.
Hani menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang dikatakan oleh Abhiyasa. Kemudian dia tersenyum jahil dan berkata,
"Apa kamu mau membacanya?"
Seketika Abhiyasa tersenyum lebar menampakkan deretan giginya sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah itu mobil pun melaju menyusuri jalanan malam di kota itu. Jalanan yang tidak begitu ramai dan tidak begitu sepi itu membuat suasana lebih nyaman dalam berkendara.
Abhiyasa mengendarai mobil tersebut dengan kecepatan sedang. Dia ingin menikmati saat ini, saat bersama kekasih hatinya yang tidak sengaja bertemu dengannya.
"Lain kali jika kita makan malam di luar, mending pakai motor aja ya," ujar Abhiyasa yang sedang fokus pada kemudinya.
Hani menoleh ke arah Abhiyasa yang ada di sampingnya. Dia menatap heran padanya dan berkata,
__ADS_1
"Memangnya kenapa Abhi?"
Abhiyasa tersenyum sambil fokus pada kemudinya seraya berkata,
"Kan lebih romantis naik motor."
Seketika tangan Hani memukul lengan Abhiyasa yang sedang memegang kemudi. Lebih tepatnya dia malu mendengar apa yang dikatakan oleh Abhiyasa saat ini.
Dalam hatinya dia membenarkan perkataan Abhiyasa. Akan tetapi dia malu mengakuinya.
Abhiyasa tidak mengeluh kesakitan ketika Hani memukulnya secara bertubi-tubi. Dia hanya tertawa senang melihat kekasihnya itu yang mengekspresikan rasa malunya dengan memukuli lengannya.
Pukulan Hani tidak dirasa sama sekali oleh Abhiyasa. Bahkan Abhiyasa mengira jika Hani tidak mempunyai tenaga untuk memukulnya.
Sedangkan Hani, dia kesal melihat Abhiyasa yang hanya tertawa ketika dia memukulnya dengan sekuat tenaganya.
Dan sisa perjalanan mereka hanya diisi dengan tawa Abhiyasa, serta Hani yang cemberut karena rasa kesalnya.
Abhiyasa menghentikan mobil tersebut tepat di halaman rumah Hani. Dia segera melepas sabuk pengamannya dan mendekatkan wajahnya tepat di hadapan Hani yang sedang membuka sabuk pengamannya.
"Jangan manyun aja. Nanti cantiknya–"
Masih dalam posisi yang sama, Abhiyasa terkekeh mendengar perkataan gadis yang dicintainya itu.
"Kata siapa? Kalau kamu manyun begini tambah cantik dan aku jadi ingin…," Abhiyasa menjeda ucapannya.
Dia menatap intens manik mata Hani dan menggerakkan wajahnya lebih dekat dengannya. Tanpa disadarinya, saat itu juga mata Hani menutup.
Abhiyasa semakin gencar menjahilinya. Dia menghembuskan nafasnya tepat di telinga kekasihnya itu, hingga bulu kuduk Hani meremang. Kemudian dia berkata,
"Aku jadi ingin menciummu."
Seketika mata Hani terbuka. Wajahnya merona malu. Dalam hatinya berkata,
Bisa-bisanya mataku terpejam. Pasti Abhi mengira aku ingin diciumnya. Ck, bodohnya aku…
Ketika Hani sibuk meratapi kebodohannya, Abhiyasa kembali menengadahkan wajahnya dan tersenyum manis seraya menatap wajah pujaan hatinya itu, seolah sedang menikmati keindahan yang berada tepat di hadapannya.
Dan itu membuat Hani tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya beradu pandang dengan Abhiyasa, tanpa bergarak sedikit pun. Hanya bulu mata lentiknya saja yang bergerak naik turun yang membuat Abhiyasa bertambah gemas padanya.
"Kalau masih cemberut, pasti akan aku–"
__ADS_1
Seketika Abhiyasa tidak meneruskan ucapannya karena melihat Hani menutup bibirnya sebelum Abhiyasa meneruskan perkataannya.
Abhiyasa berusaha keras untuk menahan tawanya. Dia suka sekali menggoda kekasihnya itu. Padahal sejujurnya saja dia tidak berani melakukan hal itu sebelum mereka resmi menjadi suami istri. Akan tetapi tidak dipungkirinya jika memang dia ingin sekali mencicipi bibir pink alami milik Hani yang sangat menggodanya.
Abhiyasa kembali ke posisinya semula. Dia memandang lurus ke arah depan seraya berkata,
"Ehemmm… kalau ingin membuktikan, coba saja manyun lagi."
Sontak saja Hani keluar dari mobilnya. Dengan gerakan cepatnya dia mengambil kantong plastik belanjaannya tadi dan dibawa masuk ke dalam rumahnya.
"Honey! Ucapan selamat malamnya mana?" seru Abhiyasa yang keluar dari mobil tersebut sambil terkekeh.
Hani menulikan pendengarannya. Dia berpura-pura tidak mendengar seruan Abhiyasa padanya.
Abhiyasa terkekeh melihatnya. Dia mengunci mobil tersebut dan berjalan ke arah pintu rumah Hani yang sudah tertutup.
"Honey… Sayang… ini kunci mobilnya," ucap Abhiyasa sambil mengetuk pintu tersebut.
Sekitar tiga kali dia mengetuk pintu tersebut dan mengatakan kalimat yang sama, terbukalah pintu tersebut.
Hani hanya mengeluarkan tangannya saja, tanpa memperlihatkan wajahnya yang disembunyikan di belakang pintu.
Abhiyasa terkekeh melihat uluran tangan kekasihnya itu. Ada rasa ingin kembali menjahilinya. Sayangnya dia tidak melakukannya, mengingat waktu yang semakin larut.
Diberikannya kunci tersebut pada telapak tangan Hani yang terulur padanya seraya berkata,
"Pacar ganteng kamu ini pulang dulu ya Honey. Jika kamu rindu, langsung ke rumah saja. Atau hubungi saja langsung. Jangan sungkan."
Blam!
Seketika pintu tersebut ditutup dengan kerasnya oleh Hani yang bersembunyi di belakang pintu tersebut.
Abhiyasa menggelengkan kepalanya seraya tertawa. Dia meninggalkan rumah Hani dengan hati yang sangat bahagia. Seolah tidak ada pikiran yang membebaninya akan hubungan mereka yang hampir tidak bisa bersatu.
Tidak jauh dari rumah mereka, ada dua pasang mata yang melihat Abhiyasa keluar dari rumah Hani. Mereka menatap curiga pada Abhiyasa yang terlihat sangat bahagia.
"Setauku penghuni rumah itu perempuan. Apa mereka berdua berpacaran?" tanya orang tersebut pada orang yang berada di sebelahnya.
Pandangan kedua orang itu tidak terlepas dari Abhiyasa yang sedang memasuki rumahnya. Kemudian orang yang ditanya tadi pun berucap,
"Penghuni rumah itu memang perempuan. Dan saya sering sekali melihat Abhiyasa keluar masuk rumah itu dengan leluasa. Sebenarnya apa hubungan mereka?"
__ADS_1