Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 19 Hani atau Honey?


__ADS_3

Abhiyasa mengacuhkan permintaan Aulia. Dia tidak menjawabnya dan berjalan memutar ke pintu mobilnya setelah membukakan pintu mobil untuk Hani.


"Abhiyasa!" seru Aulia sembari berlari mendekati Abhiyasa.


Dia menarik tangan Abhiyasa agar menghadap ke arahnya seraya berkata,


"Yasa, aku mau bicara padamu."


"Ck, apaan sih? Aku gak minat," tukas Abhiyasa dengan malasnya.


Abhiyasa kembali membuka pintu mobilnya, tapi Aulia kembali menarik tangannya dan berkata,


"Abhiyasa, aku mencintaimu. Sejak dulu aku suka padamu. Tolong beri aku kesempatan untuk menjadi pacarmu."


Seketika Hani mengalihkan pandangannya ke arah lain setelah mendengar pernyataan cinta Aulia pada Abhiyasa. Hatinya sakit mendengar perempuan lain mengatakan cinta pada kekasihnya.


Namun, di sisi lain, Hani kasihan pada Aulia yang memberanikan dirinya untuk menyatakan cintanya pada seorang laki-laki.


Sontak saja Abhiyasa menoleh ke arah Hani setelah mendengar pernyataan cinta Aulia padanya. Dia melihat Hani yang menghadap ke arah lain. Dia memejamkan matanya sejenak dan menghela nafasnya untuk meredakan amarahnya.


"Sudah bicaranya? Jika sudah, aku akan pergi," ucap Abhiyasa dengan menahan amarahnya.


"Yasa! Bagaimana?" tanya Aulia berusaha mencegah Abhiyasa untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Maaf, aku tidak berminat," jawab Abhiyasa sambil masuk ke dalam mobilnya.


Aulia menahan pintu mobil tersebut dan berkata,


"Beri aku kesempatan seperti kamu memberi kesempatan dia ada di sampingmu."


Seketika Hani menoleh ke arah Aulia yang terlihat jelas sedang menatapnya dengan tatapan tajamnya.


"Kamu sudah gila? Asal kamu tau saja, meskipun aku mengenalmu lebih lama, bukan berarti aku mencintaimu. Dan asal kamu tau saja jika aku bisa langsung jatuh hati pada Hani ketika aku pertama kali bertemu dengannya. Jadi, jangan lagi kamu mengganggu Hani dengan permintaan konyol mu itu, karena aku tidak akan membiarkanmu mendekatinya," tutur Abhiyasa dari dalam mobilnya.


Setelah mengatakan itu, Abhiyasa segera melajukan mobilnya meninggalkan Aulia yang masih berdiri di tempatnya.


Hani hanya diam. Dia melihat Abhiyasa yang sedang kesal dan terlihat jelas di wajahnya. 


"Abhi, apa aku saja yang mengemudikan mobilnya?" tanya Hani yang melihat Abhiyasa masih kesal dan marah pada Aulia.


Seketika Abhiyasa menepikan mobilnya. Dia sadar jika dia masih dikuasai rasa marah dan kesalnya pada Aulia. Dan dia tahu jika Hani sejak tadi memperhatikannya.

__ADS_1


"Maaf Hani, jika aku membuatmu takut," ucap Abhiyasa sambil menatap lembut manik mata Hani.


Hani tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"It's ok Abhi. Aku gapapa. Aku hanya gak mau mati konyol karena kamu mengemudikannya dengan amarahmu itu."


Abhiyasa tersenyum. Tangannya bergerak menyentuh kepala Hani dan mengacak-acak gemas rambut kekasihnya itu.


"Coba saja kalau kita sudah menikah. Pasti langsung aku makan kamu saat ini juga," tukas Abhiyasa sambil terkekeh.


Hani menjauhkan badannya dari Abhiyasa dan memicingkan matanya menatap kekasihnya itu seraya berkata,


"Kamu bukan temannya Sumanto kan?"


Tawa Abhiyasa pecah. Dia sungguh terhibur dengan tingkah lucu Hani yang sudah mempunyai tempat tersendiri dalam hatinya.


"Kamu lucu sekali sih Honey," ucap Abhiyasa di sela tawanya.


"Namaku Hani, bukan Honey," sahut Hani yang berpura-pura kesal pada Abhiyasa.


Apa yang dikatakan oleh Hani membuat Abhiyasa kembali tertawa. Apalagi ekspresi Hani pada saat mengatakannya membuat Abhiyasa semakin gemas padanya.


"Tapi itu namaku," sahut Hani kembali yang juga tidak mau kalah dengan Abhiyasa.


"Daripada aku memanggilmu dengan sebutan madu, lebih aneh lagi kan Honey?" tutur Abhiyasa sambil terkekeh.


Hani menatap kesal pada Abhiyasa dan berkata,


"Madu, enak aja ganti nama orang jadi madu."


"Karena kamu semanis madu. Dan hanya aku yang boleh menikmatinya," ujar Abhiyasa dengan serius.


Seketika Hani salah tingkah mendengar ucapan Abhiyasa. Dia menghadap ke arah depan dan berkata,


"Cepat kemudikan mobilnya, biar cepat sampai. Aku belum meminum obatku."


Abhiyasa pun segera mengemudikan mobilnya. Dia tidak mau terjadi apa-apa pada gadis pujaan hatinya.


Hani melihat keseriusan Abhiyasa yang benar-benar khawatir padanya ketika tahu jika dirinya belum meminum obatnya. Dia berpikir jika sangat disayangkan apabila dia meninggalkannya.


Selain rasa cintanya pada Abhiyasa, dia juga merasa sangat nyaman dan dilindungi olehnya.

__ADS_1


Bagaimana aku bisa melepaskan mu Abhi, jika kamu begitu berharga untukku? Hani berkata dalam hatinya.


Abhiyasa sedikit melirik ke arah Hani. Dia merasa ada yang aneh dengan tatapan Hani padanya. Dan dia juga ingin tahu apa yang sedang dipikirkan Hani saat ini.


"Honey, ingat. Jangan memikirkan apa pun. Kamu hanya aku ijinkan untuk memikirkan pacarmu ini," ucap Abhiyasa sambil mengemudikan mobilnya.


Hani diam dan masih menatap Abhiyasa yang sedang mengemudikan mobilnya. Tidak seperti biasanya yang selalu membalas ucapan Abhiyasa padanya.


Abhiyasa kembali melirik sekilas ke arah Hani. Dia melihat ada yang aneh dengan diamnya kekasih hatinya itu.


Namun, dia tidak bisa menghentikan kembali mobilnya. Dia tidak mau menunda waktu lebih lama untuk Hani meminum obatnya.


Setelah beberapa saat, mereka sampai di rumah. Mobil Abhiyasa berhenti di depan rumah Hani. 


Abhiyasa segera membukakan pintu Hani dan membantunya untuk turun dari mobilnya.


"Sampai sini saja Abhi. Aku lelah. Aku ingin istirahat," ucap Hani dengan menunduk ke bawah.


Abhiyasa menatap gadisnya itu. Sungguh dia tidak ingin melepaskan begitu saja kekasihnya itu dengan suasana yang canggung seperti ini. 


Namun, Abhiyasa tidak mempunyai pilihan lain. Dia harus membiarkan Hani masuk karena dia ingin beristirahat.


Biarlah dia beristirahat sekarang. Dan besok akan aku tanyakan semuanya, Abhiyasa berkata dalam hatinya.


"Masuklah. Dan jangan lupa meminum obatnya. Jika kamu membutuhkan apa pun, hubungi aku. Kamu ingat kan pacarmu ini siap dua puluh empat jam khusus untukmu?" tukas Abhiyasa dengan senyumannya.


Tampak Hani sedang tersenyum, sayangnya senyum itu terlihat getir di mata Abhiyasa. Terlebih lagi Hani tidak mau menghadap ke arahnya. Dia tetap menunduk seolah tidak mau menatap Abhiyasa.


"Aku masuk dulu. Selamat malam," ucap Hani sebelum dia beranjak masuk ke dalam rumahnya.


Abhiyasa menatap nanar pada punggung Hani yang bergerak menjauhinya. Dia sangat sedih melihat Hani yang tidak ceria seperti biasanya. Dia merasa kehilangan sosok Hani yang selalu bisa mencuri perhatiannya.


Dia masih saja melihat pintu rumah itu meskipun Hani sudah masuk ke dalam rumah tersebut. Kemudian dia berkata,


"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku harus menanyakan padanya?"


Abhiyasa masuk ke dalam mobilnya disertai helaan nafasnya yang terdengar sangat berat.


Sungguh dia tidak pernah merasakan hal seperti ini. Bahkan dia tidak pernah mempunyai hubungan dengan perempuan mana pun. Dan saat ini dia mengalaminya. 


"Apa ini ada hubungannya dengan Aulia? Apa dia akan melakukan yang Aulia minta padanya?" 

__ADS_1


__ADS_2