
Hani menyeringai mendengar pertanyaan dari Abhiyasa. Dalam hatinya berkata,
Sepertinya ini saat yang tepat untuk aku membalas kamu yang selalu saja menggodaku Abhi.
Hani yang sudah berjalan selangkah melewati Abhiyasa, kini membalikkan badannya dan menatap Abhiyasa sambil tersenyum padanya seraya berkata,
"Bersenang-senang."
Abhiyasa mengernyitkan dahinya mendengar jawaban dari kekasihnya itu.
"Bersenang-senang? Di mana? Dengan siapa?" tanya Abhiyasa bertubi-tubi seolah dia tidak rela jika Hani bepergian tanpa dirinya.
Hani menahan tawanya. Kini dia tahu bagaimana ekspresi wajah Abhiyasa ketika tidak ingin ditinggalkannya. Tak bisa dipungkiri jika hati Hani sangat senang saat ini. Dia merasa sangat dicintai oleh kekasihnya yang sebentar lagi akan menjadi calon suaminya.
"Ada deh. Mau tau… aja," tukas Hani dengan gaya centilnya.
Abhiyasa melepaskan tangannya yang memegang tangan Hani. Kini kedua tangannya beralih memegang pundak Hani. Dia menatap intens manik mata kekasihnya itu seraya berkata,
"Hani, apa kamu bersungguh-sungguh?"
Lagi-lagi Hani merasa kalah dengan Abhiyasa. Dia menoleh ke lain arah dan melepaskan kedua tangan Abhiyasa dari pundaknya seraya berkata,
"Aku berangkat dulu. Nanti kamu langsung ke rumah orang tuaku saja. Kita bertemu di sana malam ini."
Hani segera berlari kecil menuju mobilnya tanpa menutup pintunya. Dia mempercayakan rumahnya pada kekasihnya tanpa berbicara langsung padanya.
"Hufffttt… Untung aja aku gak keceplosan tadi," ucap Hani disertai helaan nafasnya ketika sudah berada di dalam mobilnya.
Kini Abhiyasa yang mematung menggantikan Hani. Ternyata Abhiyasa percaya dengan ucapan Hani yang mengatakan bahwa dia akan bersenang-senang tanpa dirinya.
Namun, beberapa detik kemudian dia baru sadar jika Hani telah membohonginya.
"Awas kamu Hani. Lihat saja nanti," ucap Abhiyasa sambil terkekeh.
Abhiyasa menertawakan dirinya yang bisa dengan gampangnya dibodohi oleh kekasihnya itu. Kemudian dia keluar dari rumah Hani dan mengunci pintu rumah tersebut.
Abhiyasa memandang kembali rumah Hani seolah enggan meninggalkannya. Dia menghela nafasnya, merasa kecewa karena Hani meninggalkannya begitu saja tanpa mengatakan ke mana dia akan pergi.
__ADS_1
Namun, dia kembali mengingat gelagat Hani yang membuat Abhiyasa yakin jika dia tidak akan berbuat hal yang membuatnya kecewa padanya.
"Ck, lebih baik aku pulang ke rumah orang tuaku saja sekarang. Siapa tau jam acaranya bisa dipercepat menjadi sekarang," ucap Abhiyasa sambil terkekeh.
Dengan langkah ringannya Abhiyasa berjalan menuju rumahnya. Dia mengendarai motor matic nya dari dalam garasinya.
Jalanan yang lenggang saat ini membuat Abhiyasa semakin merasa kesepian dan ingin segera bertemu dengan Hani.
Abhiyasa tersenyum menertawakan dirinya sendiri karena merasa jika sekarang dia tidak bisa hidup tanpa adanya Hani di dekatnya.
Hanya beberapa menit saja Abhiyasa sampai di rumah orang tuanya. Diparkirnya motor matic nya itu di garasi rumah tersebut.
"Assalamualaikum… Ayah, Ibu, Nenek… Yasa pulang," seru Abhiyasa sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumussalam… Tumben Yasa pagi-pagi udah ke sini? Acaranya nanti malam kan?" tanya ibu Abhiyasa yang masih sibuk menata barang-barang untuk acara lamaran nanti.
"Bisa sekarang aja gak sih Bu? Rasanya menunggu nanti malam itu kelamaan," jawab Abhiyasa dengan tatapan mata yang memohon.
Sontak saja ibu Abhiyasa memukul lengan putranya seraya berkata,
"Bisa aja Bu. Kita langsung saja datang ke sana. Pasti gak bakalan diusir kok," tukas Abhiyasa yang sedang membujuk ibunya.
"Kamu ini ada-ada saja. Sudah, kamu jangan gangguin Ibu. Lebih baik kamu menyiapkan keperluanmu saja untuk nanti," sahut ibu Abhiyasa sambil meneruskan pekerjaannya untuk menata barang-barang yang akan dibawanya nanti.
Abhiyasa terpaksa melangkahkan kakinya yang berat untuk meninggalkan ibunya agar tidak mengganggunya. Akan tetapi, tiba-tiba saja langkah Abhiyasa terhenti. Dia memutar badannya menghadap ibunya dan berkata,
"Sore aja ya Bu kita ke rumah orang tua Hani, jangan malam, kelamaan."
Ibu Abhiyasa menoleh ke arah putranya itu. Dia menghela nafasnya dan berkata,
"Yasa, kamu ini gak sabaran banget sih. Hanya nunggu beberapa jam saja gak bisa. Ckckck… Jangan-jangan kamu sudah gak tahan pengen cepat-cepat nikah."
Abhiyasa tersenyum lebar menanggapi perkataan ibunya. Kemudian dia berkata,
"Itu Ibu sudah tau. Ya Bu… sore saja ya berangkatnya. Yasa akan siap-siap nanti sore supaya kita bisa cepat berangkat."
Nenek Abhiyasa tertawa mendengar permintaan cucunya itu. Dia merasa sangat senang karena bisa melihat cucunya akan bersanding dengan perempuan yang dicintainya.
__ADS_1
Ibu Abhiyasa hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Abhiyasa yang sama seperti dulu ketika masih bocah.
Ayah Abhiyasa pun yang baru saja datang dari olahraga pagi sedikit mendengar permintaan putranya. Dia terkekeh mendengar permintaan dari putranya itu.
Ayah Abhiyasa berjalan masuk ke dalam rumah sambil menepuk pundak Abhiyasa ketika berpapasan dengannya seraya berkata,
"Dasar bucin!"
Setelah mengatakan hal itu, ayah Abhiyasa berjalan meninggalkan putranya untuk masuk ke dalam kamarnya.
Abhiyasa tersenyum lebar dan menggaruk tengkuknya mendengar sebutan yang diberikan ayahnya padanya.
Hal itu pun membuat nenek dan ibu Abhiyasa ikut tertawa melihat Abhiyasa yang terlihat malu karena sebutan dari ayahnya.
Waktu pun berlalu terasa sangat lambat bagi Abhiyasa. Sedari tadi Abhiyasa selalu menghubungi Hani. Sayangnya panggilan teleponnya diacuhkan begitu saja oleh Hani sehingga berakhir menjadi panggilan tidak terjawab.
Abhiyasa merasa kesal, khawatir dan juga gemas dengan kekasihnya saat ini yang mengacuhkannya. Ingin rasanya dia berlari untuk menemuinya saat ini juga. Hanya saja dia tidak bisa, karena kedua orang tuanya melarangnya.
"Belum dipingit aja rasanya udah tersiksa kayak gini. Apa lagi ketika nanti benar-benar dipingit? Ck, mendingan ditiadakan aja deh acara pingit-pingitan, biar gak ada yang ngelarang kita untuk ketemu," gerutu Abhiyasa diiringi helaan nafasnya.
Tak mau menunggu lagi, Abhiyasa segera membersihkan badannya dan bersiap-siap meskipun hari masih sore.
Kini dia sedang berada di depan cermin dan menatap gambaran dirinya yang ada di cermin tersebut. Senyumnya merekah melihat penampilannya yang tidak seperti biasanya. Batik tulis buatan pengrajin dari butik ibunya itu membuat kesan tersendiri untuk penampilan Abhiyasa kali ini.
"Ternyata aku keren juga kalau memakai batik seperti sekarang ini," Abhiyasa bermonolog sambil memperhatikan penampilannya di depan cermin.
Dia bercermin dan memperhatikan penampilannya dari sisi kanan dan kiri. Kemudian dia memutar badannya untuk melihat bagian belakangnya.
"Sempurna," ucap Abhiyasa sambil tersenyum lebar.
Merasa penampilannya sudah sempurna, Abhiyasa keluar dari kamarnya dengan senyumnya yang masih tetap merekah. Langkah kakinya pun terasa sangat ringan saat keluar dari kamarnya.
"Bu… Yasa sudah siap. Kita berangkat sekarang saja ya," seru Abhiyasa sambil berjalan ke ruang tengah di mana semua barang yang akan dibawa untuk melamar sudah berbaris rapi di sana.
Mata Abhiyasa menyisir semua ruangan tersebut. Sayangnya ruangan itu sangat sunyi dan sepi. Dia pun menggerutu,
"Di mana mereka berada? Kenapa sangat sepi sekali? Apa jangan-jangan mereka meninggalkanku?"
__ADS_1