Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 62 Sah!


__ADS_3

"Tidak."


Jawaban dari Hani itu membuat Abhiyasa terkesiyap. Bukan hanya Abhiyasa saja, bahkan semua orang di ruangan tersebut pun terkejut mendengar jawaban dari Hani.


"Honey… Apa maksudmu?" tanya Abhiyasa lesu dengan wajah yang terlihat syok menatap Hani.


"Tidak menolak," sambung Hani sambil membuka matanya.


"A-apa? Apa maksudnya ini Hani?" tanya Abhiyasa yang merasa bingung pada jawaban Hani.


Hani tersenyum pada Abhiyasa. Kemudian dia berkata,


"Aku tidak menolak lamaranmu Abhiyasa."


Seketika bibir Abhiyasa melengkung ke atas. Saat ini dia merasa ingin sekali memeluk kekasih hatinya itu. 


Sabar… Sabar Abhiyasa, sebentar lagi kalian akan menikah. Dia akan halal bagimu. Dan kamu bisa melakukan apa saja dengannya, Abhiyasa berkata dalam hatinya.


Tidak hanya Abhiyasa saja yang merasa lega, bahkan kedua orang tua Hani dan Abhiyasa serta nenek Abhiyasa pun merasa lega karena jawaban tidak yang keluar dari mulut Hani bukanlah tidak untuk menolak lamaran Abhiyasa, melainkan bermaksud untuk tidak menolaknya.


"Hani… Hani… Kamu itu hampir bikin jantung Ibu mau copot saja," ujar ibu Abhiyasa sambil terkekeh.


"Maaf Bu, Hani tidak bermaksud untuk begitu, Hani hanya ingin membalas Abhiyasa yang selalu menggoda Hani," tukas Hani dengan perasaan bersalahnya.


Sontak saja semua orang yang ada di ruangan tersebut tertawa, kecuali Hani. Suasana lamaran yang tadinya kaku dan resmi, kini menjadi lebih santai karena candaan yang diberikan oleh Hani pada Abhiyasa.


Setelah itu mereka meneruskan pembicaraan mereka tentang acara pernikahan anak-anak mereka. Dan acara yang ditunggu-tunggu, penyematan cincin tunangan sebagai tanda pengikat mereka.


Abhiyasa memasangkan cincin di jari Hani dan sebaliknya, Hani memakaikan cincin di jari Abhiyasa. Binar kebahagiaan tersirat jelas di wajah mereka berdua. Begitu pula dengan semua orang di sana.


Namun, berbeda dengan mama Hani. Air matanya menetes ketika melihat putrinya dipinang oleh laki-laki yang berbeda keyakinan dengan mereka. Akan tetapi laki-laki tersebut mampu membuat putrinya menjadi lebih bahagia. Dan kini putri mereka telah berbeda keyakinan dengan mereka.


Tangisan itu adalah tangisan kebahagiaan. Mereka tidak akan pernah tahu jalan hidup yang akan diberikan oleh Tuhan pada mereka semua. 


"Lalu, kapan kalian akan menikah?" tanya papa Hani dengan rasa ingin tahunya.


Abhiyasa menoleh ke arah Hani. Dia seolah bertanya pada Hani melalui tatapan matanya. Sayangnya Hani hanya menggerak-gerakkan bulu mata lentiknya seolah tidak tahu apa yang ditanyakan oleh Abhiyasa melalui  matanya.


Lucu sekali kamu Hani, sangat menggemaskan. Kalau kamu menggodaku seperti ini, bisa-bisa aku khilaf, Abbiyasa berkata dalam hatinya.


Bibir Abhiyasa melengkung ke atas seraya berkata,


"Secepatnya Pa. Jika bisa minggu depan kita akan menikah."


"Apa? Minggu depan? Secepat itu Abhi?" tanya Hani dengan membelalakkan matanya.


Abhiyasa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar dan berkata,

__ADS_1


"Iya. Lebih cepat, lebih baik. Bukankah begitu Ma, Pa, Bu, Ya, Nek?"


Semua orang yang hadir di sana dimintai dukungan oleh Abhiyasa. Dan seolah terhipnotis oleh senyuman lebar Abhiyasa yang sangat tulus itu, mereka pun menganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan Abhiyasa.


Dan akhirnya mereka semua menyerahkan urusan tanggal pernikahan pada Abhiyasa dan juga Hani.


...----------------...


Hari ini pas satu bulan dari acara lamaran Abhiyasa dan Hani. Dan pada hari ini mereka akan mengikrarkan janji pernikahan mereka di sebuah hotel mewah yang ada di kota tersebut.


"Saya terima nikahnya Hani Kristina binti Abraham dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas mulia seberat seratus lima puluh gram dibayar tunai!" ucap Abhiyasa dengan sangat yakin dan tegas.


"Sah!"


"Sah!"


"Sah!"


Secercah kebahagiaan tersirat dari wajah Abhiyasa. Begitu pula dengan Hani. Mereka saling menatap malu-malu setelah sah menjadi pasangan suami istri.


Prosesi demi prosesi telah mereka lakukan secara menyeluruh. Bahkan karena banyaknya adat dan prosesi acara pernikahan yang mereka lakukan, kini mereka merasa kelelahan dan ingin segera mengakhiri pesta pernikahan mereka.


Tamu dua keluarga itu begitu banyak. Dan tentu saja tamu dari Abhiyasa dan Hani tidak kalah banyak dengan tamu dari kedua orang tua mereka. 


"Abhi… capek…," rengek Hani lirih di sebelah telinga Abhiyasa.


Hani menghela nafasnya. Dia tahu jika suaminya itu sedang ingin mengerjainya. Didekatkannya bibirnya itu pada telinga suaminya dan dia pun berbisik,


"Sayang… boleh gak sih aku istirahat dulu? Aku capek banget."


Seketika mata Abhiyasa berbinar ketika mendengar bisikan dari istrinya. Dengan cepatnya dia menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya turun dari pelaminan. 


"Ma, Pa, Bu, Yah, kami istirahat dulu. Kasihan Hani sudah sangat lelah," pamit Abhiyasa dengan menampakkan wajah lelahnya.


Kedua orang tua mereka saling menatap, mereka tersenyum dan menatap Abhiyasa dengan tatapan penuh curiga.


"Sepertinya sudah ada yang tidak sabar," ucap ibu Abhiyasa sambil terkekeh.


"Biarkan saja mereka menikmati malam pengantin mereka Bu, daripada mereka cemas di atas pelaminan," sahut mama Hani yang ikut-ikutan menggoda menantunya dan putrinya.


Hani menunduk menyembunyikan wajah malunya. Dia menarik-narik pakaian Abhiyasa untuk mengajaknya kembali ke pelaminan.


Namun, bagi Abhiyasa candaan mertua dan ibunya itu merupakan lampu hijau baginya. Dengan segera tangannya meraih tangan Hani untuk mengajaknya masuk ke dalam kamar hotel yang sudah dipersiapkan oleh pihak wedding organizer.


Semerbak aroma therapy dari lilin dan wangi bunga mawar tercium saat pintu kamar mereka dibuka.


Suasana kamar yang temaram dengan cahaya lilin terlihat sangat romantis disertai dengan hiasan bunga yang menjadikan suasana kamar tersebut semakin romantis.

__ADS_1


Hani masuk ke dalam kamar tersebut dengan malu-malu. Kamar yang menyajikan nuansa kamar pengantin itu membuatnya merasa malam ini benar-benar akan menjadi malam pengantin mereka.


"Abhi… apa gak masalah kita meninggalkan tamu begitu saja?" tanya Hani yang baru saja masuk ke dalam kamar bersama dengan Abhiyasa.


Abhiyasa membimbing istrinya untuk duduk di ranjang yang sudah dihiasi dengan mawar merah di permukaannya. Kemudian dia berkata,


"Gak usah dipikirkan. Mereka pasti menyadarinya."


Dahi Hani mengernyit seolah dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Abhiyasa. Dan dia pun bertanya,


"Menyadari? Menyadari apa? Menyadari kalau kita sangat lelah dengan begitu banyaknya proses acara pernikahan ini?" 


Abhiyasa tersenyum mendengar pertanyaan istrinya. Dia menempelkan kedua tangannya pada kedua pipi istrinya itu dan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah istrinya seraya berkata,


"Mereka tau jika ini malam pengantin kita."


Cuuup!


Abhiyasa mengecup sekilas bibir istrinya hingga membuat istrinya terkejut dan membelalakkan matanya.


Beberapa detik kemudian Hani tersadar dan berseru,


"Abhi!"


Abhiyasa terkekeh melihat ekspresi istrinya yang sedang marah karena malu padanya. 


"Pemanasan Ay," ucap Abhiyasa sambil terkekeh.


Sontak saja Hani berdiri dari duduknya. Dengan salah tingkahnya itu dia berkata,


"Aku gerah, aku mau mandi dulu."


Masuklah Hani ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut. Hanya sekitar lima menit saja pintu kamar mandi itu kembali terbuka. 


Abhiyasa yang sedang melepas jasnya seketika melihat ke arah pintu kamar mandi tersebut saat mendengar suara pintu kamar mandi itu terbuka. 


Namun, mata Abhiyasa mencari sosok istrinya yang tidak keluar dari dalam kamar mandi tersebut.


"Honey, di mana kamu?" tanya Abhiyasa sambil berjalan mendekati kamar mandi tersebut.


"Abhi… aku di dalam sini," jawab Hani dari dalam kamar mandi.


Dengan paniknya Abhiyasa masuk ke dalam kamar mandi seraya berkata,


"Honey, kamu kenapa?" 


 

__ADS_1


__ADS_2