Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 37 Pesona Hani


__ADS_3

Abhiyasa tidak tahu jika ada yang melihatnya keluar dari rumah Hani. Lebih tepatnya dia tidak peduli. Baginya dia bukan maling yang harus waspada dengan orang lain ketika akan berkunjung ke rumah Hani.


Dua orang yang melihat Abhiyasa ketika keluar dari rumah Hani, menaruh curiga padanya. Apa lagi salah satu di antara mereka sering melihat Abhiyasa keluar masuk dengan bebas di rumah Hani.


"Untuk sementara kita pantau saja dulu Pak," ucap orang yang sering memergoki Abhiyasa.


Perkataan orang tersebut disetujui oleh orang yang ada di sebelahnya. Dia menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Ya sudah Pak. Kita pulang saja sekarang."


Mereka pun meneruskan perjalanannya, melewati depan rumah Abhiyasa dan juga Hani yang pintunya sudah tertutup dengan rapat.


Malam itu Hani menghabiskan malamnya dengan membaca buku-buku yang dibelinya. Dia sangat antusias untuk mencari tahu tentang agama yang dianut oleh kekasihnya.


Satu per satu buku-buku itu dibacanya dengan seksama. Dia membacanya berkali-kali jika belum dipahaminya. 


Namun, ada satu buku yang menyita perhatiannya. Dia pun berkata,


"Sepertinya aku akan baca yang ini saja dulu."


Hingga tidak terasa, satu buku tebal itu selesai dibacanya malam itu juga. Dan buku-buka lainnya yang tadinya hanya sekilas dibacanya, kini semuanya menunggu giliran untuk dibaca olehnya.


Pagi pun menyapa. Hani terbangun dengan posisi memeluk buku yang semalaman telah dibacanya.


"Mmm… apa ini?" tanya Hani yang merasakan sedikit berat pada dadanya.


Buku tebal dengan hard cover itu dalam posisi dipeluk di atas dadanya. Bibirnya melengkung ke atas ketika melihat buku tersebut.


Semalaman dia membacanya dan perlahan-lahan memahaminya. Ada ketertarikan dalam hatinya untuk mencari tahu lebih jauh lagi.


Namun, baginya tidak cukup jika hanya mengetahui dari satu sumber saja. Dia ingin mengetahui lebih jauh lagi hingga merasa puas akan apa yang diketahuinya.


Tok… tok… tok…


"Honey… apa kamu sudah bangun?" 


Terdengar suara dari luar rumah yang sangat familiar di telinganya disertai ketukan pintu yang membuat Hani beranjak dari tempat tidurnya.


Dengan tergesa-gesa Hani berjalan menuju pintu rumahnya. Dia membuka pintu tersebut dan memasang wajah kesalnya sambil mengusap-usap matanya ketika melihat Abhiyasa berdiri dan tersenyum manis di hadapannya. Kemudian dia berkata,


"Abhi?! Kamu tuh pagi-pagi udah bikin ribut aja."


Abhiyasa sedikit membungkukkan badannya. Didekatkannya wajahnya tepat berada di depan wajah Hani dan berkata,


"Itu masih ada beleknya."

__ADS_1


Seketika Hani menghadap ke belakang. Dia membasahi kedua jari manisnya menggunakan ludahnya dan digosokkannya pada kedua ujung matanya.


Abhiyasa tidak bisa menahan tawanya. Dia terkekeh melihat apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu. 


Mendengar kekehan Abhiyasa, membuat Hani merasa kesal. Dia menghadap kembali ke arah Abhiyasa dan menatap tajam padanya. Dari matanya itu seolah mengeluarkan laser yang bisa menembus mata Abhiyasa.


"Padahal aku cuma bercanda, tapi kamu benar-benar percaya," ucap Abhiyasa di sela kekehannya.


Hani menatap kesal padanya. Bibirnya mengerucut memperlihatkan kekesalannya.


Abhiyasa bertambah gemas padanya. Tangannya bergerak menyentuh kepala Hani dan mengusap dengan lembut rambut kekasihnya itu.


"Aku belum keramas," ucap Hani dengan percaya dirinya.


Seketika Abhiyasa mengangkat tangannya dari kepala kekasihnya itu. Kemudian dia berkata lirih,


"Pantas terasa beda rasanya."


Hani menatap Abhiyasa sambil memicingkan matanya. Dia pun berkata,


"Sudah aku duga jika kamu gak akan suka dengan gadis jelek."


"Siapa bilang kamu jelek? Mana orangnya yang mengatakan kamu jelek? Kamu itu pacarnya Abhiyasa yang sangat cantik. Lihat saja, belum mandi saja sudah secantik ini, apa lagi jika sudah mandi? Pasti semua orang iri melihatmu," sahut Abhiyasa dengan sangat antusias.


"Benarkah? Apa karena aura ku yang memang cantik ya? Pesonaku pasti luar biasa. Ck, susah payah aku menyembunyikannya, ternyata kamu bisa melihatnya juga."


Abhiyasa menahan tawanya. Dia sangat terhibur sekali dengan tingkah lucu kekasihnya itu.


Setelah mengatakan itu semua, Hani membalikkan badannya sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Abhiyasa pun menutup pintunya dan mengikuti Hani masuk ke dalam rumahnya.


"Karena sudah cantik… gak usah mandi kali ya. Kan udah cantik…," ucap Hani sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Seketika mata Abhiyasa terbelalak mendengar apa yang dikatakan oleh Hani. Dengan cepatnya Abhiyasa berkata,


"Tapi lebih cantik lagi jika kamu mandi."


Hani menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke belakang sambil menatap Abhiyasa dengan memicingkan matanya seraya berkata,


"Bilang saja kamu malu dan gak mau jalan sama aku kalau aku belum mandi."


Abhiyasa tersenyum lebar dan mendekatkan wajahnya pada wajah Hani seraya berkata,


"Siapa bilang? Aku saja ingin menciummu sekarang."

__ADS_1


Sontak saja Hani membalikkan badannya. Dia berjalan cepat masuk ke dalam kamarnya.


Tawa Abhiyasa semakin keras. Dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Di sela dia menunggu Hani yang sedang mandi, Abhiyasa duduk di sofa sambil menyalakan televisi.


Tiba-tiba pandangan matanya tertuju pada sebuah benda yang berada di rak dekat televisi. Sebuah patung salib berdiri di rak tersebut.


Hati Abhiyasa berdesir. Dia teringat kembali akan perbedaan keyakinan di antara mereka berdua. 


"Ya Allah… bantu hamba. Berilah hamba jalan keluar agar kami bisa bersatu dalam ikatan pernikahan," ucap Abhiyasa lirih yang sedang merasakan sakit di dalam hatinya.


Sungguh terasa sesak dada Abhiyasa mengingat cintanya yang belum tentu akan bisa dibawa hingga menuju ikatan pernikahan. Baru kali ini dia merasakan cinta. Dan cinta pertamanya ini butuh banyak perjuangan agar bisa bersatu dengannya.


 


"Abhi, ayo kita berangkat," ucap Hani yang sedang berjalan menghampiri Abhiyasa.


Abhiyasa menoleh ke arahnya. Dia tersenyum manis pada Hani untuk menutupi rasa sakit dalam hatinya.


"Mau sarapan dulu?" tanya Abhiyasa sambil beranjak dari duduknya.


Hani melihat jam yang melingkar pada tangan kirinya. Kemudian dia berkata,


"Boleh jika kamu mau. Masih banyak waktu yang tersisa sebelum jam kerja."


"Ayo berangkat Honey. Jangan lupa kunci pintunya," ucap Abhiyasa sambil berjalan terlebih dahulu ke arah pintu.


Hani pun segera mengikuti Abhiyasa. Dia mengunci pintu rumahnya seraya berkata,


"Kamu gak akan telat kan Abhi?"


"Tenang saja. Aku juga masih banyak waktu. Apa lagi untuk kamu," jawab Hani sambil terkekeh di akhir ucapannya.


Tepat sekali Hani membalikkan badannya ke arah Abhiyasa pada saat Abhiyasa mengatakan hal itu. Semburat merah menghiasi wajah cantik Hani yang terlihat sangat segar di pagi hari.


"Masuklah ke dalam mobil, aku akan mengikuti di belakangmu," tutur Abhiyasa sambil memakai helmnya.


Setelah Abhiyasa menaiki motor sport nya, Hani segera melajukan mobilnya. Sesuai instruksi Abhiyasa, dia terlebih dulu berangkat agar Abhiyasa bisa mengikuti di belakangnya.


Hani selalu mencuri pandang melihat ke arah kaca spionnya untuk mengetahui keberadaan Abhiyasa. Dia tersenyum senang melihat Abhiyasa benar- benar mengikuti di belakang mobilnya.


Namun, setelah beberapa saat, Hani kembali melihat ke arah kaca spionnya, dia panik karena tidak melihat Abhiyasa di belakang mobilnya.


Dia mencari keberadaan Abhiyasa melalui kaca spion samping kanan, kiri dan tengah. Sayangnya dia tidak menemukannya. Dia terlihat sangat panik dan berkata,


"Abhi… di mana kamu?"

__ADS_1


__ADS_2