Polisi Tampan Dan Banker Cantik

Polisi Tampan Dan Banker Cantik
Bab 33 Kapan nikah?


__ADS_3

Hani menghalangi Abhiyasa yang ingin membenarkan pertanyaan yang diajukan ibunya padanya dan Hani.


Abhiyasa ingin mengatakan semua yang dilakukan Aulia pada hubungan mereka. Bukan untuk mengadu, tapi lebih tepatnya karena Abhiyasa tidak pernah berbohong pada siapa pun, terlebih pada kedua orang tuanya.


Namun, Hani tidak ingin jika nama Aulia buruk di depan keluarga Abhiyasa. Terlebih lagi Aulia merupakan dokter pengganti untuk nenek Abhiyasa. 


"Kenapa Hani? Apa ada yang salah?" tanya ibu Abhiyasa ketika melihat Hani memegang tangan Abhiyasa untuk menghentikan Abhiyasa yang akan menjawab pertanyaan ibunya.


"Tidak Bu. Saya hanya…," Hani tidak bisa meneruskan perkataannya.


Dia tidak menemukan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan ibu Abhiyasa padanya.


Ibu Abhiyasa tersenyum melihat Hani yang terkesan menutup-nutupi semua perbuatan Aulia padanya. Kemudian dia berkata,


"Ibu rasa… Ibu sudah mengerti sekarang. Meskipun tanpa kalian berdua jelaskan semuanya. Dari sikap dan wajah kalian saat ini saja, Ibu sudah bisa menilai semuanya."


Seketika Laura merasa bersalah. Dia merasa sungkan dan takut jika ibu Abhiyasa kecewa padanya.


"Maaf Bu, saya hanya–"


"Kenapa Hani minta maaf pada Ibu?" tanya ibu Abhiyasa sambil tersenyum pada Hani.


"Karena… karena Hani…," Hani benar-benar gugup, dia tidak tahu harus berkata apa.


Ibu Abhiyasa kembali tersenyum padanya. Dia merasa jika Hani memang bersikap yang semestinya. Kemudian dia berkata,


"Hani tidak salah. Jadi Hani tidak usah meminta maaf pada Ibu."


"Sudahlah. Kita hentikan dulu pembicaraan ini. Bukankah kita akan makan bersama?" suara nenek Abhiyasa membuat percakapan mereka terhenti. 


Ibu Abhiyasa terkekeh mendengar peringatan dari ibunya itu. Kemudian dia berkata,


"Baiklah, akan Ibu siapkan makanannya."


Hani segera beranjak dari duduknya seraya berkata,


"Hani bantu Bu."


Namun, tangan nenek Abhiyasa menghentikan Hani.

__ADS_1


"Hani di sini saja menemani Nenek. Lihat itu, lukanya saja belum diobati," tutur nenek Abhiyasa sambil menunjuk luka di tangan Hani.


Hani tersenyum lebar pada nenek Abhiyasa. Kemudian dia berkata,


"Hani lupa Nek."


"Ya sudah, biar Hani di sini saja menemani Nenek. Yasa ikut Ibu, ambilkan obat untuk Hani," ujar ibu Abhiyasa sambil menarik tangan putranya agar mengikutinya.


Ibu Abhiyasa mengambilkan kotak obat di kamarnya. Sedangkan Abhiyasa, dia menunggu ibunya di dapur untuk mengambil minuman.


"Ini kotak obatnya," ucap ibu Abhiyasa sambil menyerahkan kotak obat pada putranya yang sedang meminum air mineral di depan lemari es.


Abhiyasa membuang botol air mineral yang sudah habis diminumnya ke tempat sampah yang ada di dekatnya. Kemudian dia menerima kotak obat tersebut dan mengambil dua botol air mineral dari lemari es untuknya dan untuk diberikan pada Hani.


"Yasa bawa ini ke dalam dulu ya Bu," tukas Abhiyasa sambil membawa kotak obat serta dua botol mineral water di tangannya.


"Yasa, Ibu suka dengan Hani. Tapi… kamu tau kan tentang pernikahan?"  suara ibu Abhiyasa menghentikan Abhiyasa yang akan meninggalkan tempat itu.


Abhiyasa menatap ibunya dan tersenyum padanya. Kemudian dia berkata,


"Yasa tau Bu. Hani juga tau akan hal itu. Kami masih mencari jalan keluarnya Bu. Ibu tenang saja. Pasti tidak lama lagi Ibu akan mengadakan pesta pernikahan kita."


Seandainya aku gak ke sini untuk memanggil Abhiyasa, pasti aku gak akan mendengar semua ini, Hani berkata dalam hatinya sambil memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit mendengar pembicaraan Abhiyasa dan ibunya.


"Ibu pasti akan sangat senang sekali jika kalian berdua memang berjodoh," ujar ibu Abhiyasa sambil tersenyum dan mengusap pundak putranya dengan penuh kasih sayang.


"Yasa tau Bu. Hani memang gadis yang baik. Insya Allah jika Allah memang mengijinkan, kami pasti akan bersatu," tukas Abhiyasa dengan penuh keyakinan.


Mata Hani berkaca-kaca mendengar perkataan Abhiyasa. Dia merasa sangat berarti bagi kekasihnya itu. Hingga tak terasa air matanya menetes di pipinya.


Hani segera mengusap air matanya itu dan dia segera beranjak dari tempat tersebut ketika melihat Abhiyasa sedang berjalan meninggalkan tempatnya.


"Yasa mana Hani?" tanya nenek Abhiyasa pada Hani yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.


Hani duduk kembali di kursi yang ada di dekat nenek Abhiyasa seraya tersenyum dan berkata,


"Sebentar lagi Abhi ke sini Nek."


Hanya selang beberapa detik saja, Abhiyasa masuk ke dalam kamar tersebut.

__ADS_1


"Honey, ini, minum dulu," ucap Abhiyasa sambil mengulurkan sebotol air mineral pada Hani.


Hani menerima botol minuman tersebut dan berkata,


"Terima kasih Abhi."


Abhiyasa tersenyum menanggapi ucapan terima kasih yang diberikan Hani padanya. Kemudian dia duduk di kursi yang berada di sebelah Hani. Dengan telatennya Abhiyasa mengobati luka pada siku dan tangan Hani.


Hani hanya menatap Abhiyasa dengan tatapan bersyukur. Dia merasakan perasaan cinta dan kasih sayang yang tersalurkan dari tangan kekasihnya itu. Bahkan Abhiyasa meniup luka tersebut ketika mengobatinya.


Kemudian dia berjongkok dan mengobati luka pada lutut Hani. Dia juga meniupi luka itu ketika mengoleskan obat tersebut. 


Hani hanya meringis menahan perih pada lukanya ketika diobati oleh Abhiyasa. Dan pemandangan yang sangat indah itu membuat nenek Abhiyasa tersenyum melihat bentuk perhatian cucunya pada pasangannya.


"Tahan sebentar Honey. Setelah ini tidak akan perih lagi," ujar Abhiyasa ketika berhenti meniup luka tersebut.


Hani memaksakan senyumnya dengan ekspresi wajah meringisnya. Dia melihat kesungguhan dari mata Abhiyasa yang membuatnya semakin jatuh hati padanya.


"Kalian itu mengingatkan Nenek pada Kakek. Dulu Nenek juga pernah mengalami hal yang sama dengan Hani. Dan itu membuat Nenek semakin cinta pada Kakek," ujar nenek Abhiyasa sambil terkekeh.


Semburat merah mewarnai wajah Hani. Entah mengapa dia merasa nenek Abhiyasa seolah menyindirnya, karena memang itulah yang dirasakan oleh Hani saat ini.


"Tenang saja Nek, kita akan menjadi penerus Kakek dan Nenek. Iya kan Honey?" ucap Abhiyasa menanggapi ucapan neneknya dengan meminta dukungan dari Hani.


Pertanyaan dari Abhiyasa itu semakin membuat Hani merasa malu. Dia hanya bisa tersipu malu tanpa mengatakan apa pun untuk menanggapi pertanyaan dari Abhiyasa padanya.


Tiba-tiba pintu kamar tersebut terbuka. Ibu Abhiyasa masuk ke dalam kamar tersebut dan berkata,


"Makanannya sudah siap. Ayo kita makan sekarang. Ayah juga barusan datang."


"Ayo Nek. Biar Yasa gendong Nenek ya," ucap Abhiyasa seraya bersiap menggendong neneknya.


"Honey, jangan cemburu ya. Nanti giliran kamu ada sendiri," ujar Abhiyasa sambil menggendong neneknya.


Nenek dan ibu Abhiyasa tertawa mendengar candaan Abhiyasa. Berbeda dengan Hani yang terlihat semakin malu digoda oleh kekasihnya sendiri.


Abhi… mau kamu apa sih? Kenapa kamu suka sekali membuat jantungku berdegup sekencang ini? Hani menggerutu dalam hatinya.


Ketika mereka semua sudah berkumpul di meja makan, ayah Abhiyasa keluar dari kamarnya. Dengan senyuman khasnya, ayah Abhiyasa duduk di kursinya dan menyapa Hani.

__ADS_1


"Ini ya yang namanya Hani? Rencananya kapan kalian akan menikah?"


__ADS_2